Peran Perempuan terhadap Pembangunan Kalurahan Panggungharjo

Pertemuan Rutin Koperasi Wanita Dewi Kunti. JAMILLUDIN

Raden Adjeng Kartini pernah mengungkapkan kalimat yang—barangkali—membekas bagi perempuan, yakni gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dunia nenek moyangnya.

Sudah lama R.A. Kartini menggaungkan gerakan emansipasi wanita, namun pada praktiknya, masih banyak pembatasan hak terhadap perempuan. Beberapa tahun terakhir, gerakan tersebut kembali didorong agar perempuan mendapat ruang untuk bergerak bebas sesuai dengan haknya. Lambat laun, mulai banyak yang membuka mata bahwa peran perempuan di segala aspek kehidupan tak boleh diabaikan.

Terkait isu tersebut, Pemerintah Kalurahan Panggungharjo memberikan ruang keterlibatan perempuan-perempuan dalam pembangunan desa. Selain memberikan perlakuan yang adil, dibuka pula kesempatan yang sama dalam urusan publik bagi perempuan desa, sehingga kondisi yang menempatkan semua warga desa dalam posisi yang setara dapat tercipta, tanpa diskriminasi terhadap perempuan.

Hal ini sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yang dimuat dalam Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017. Sebagai turunan dari Sustainable Development Goals (SDGs) yang terdapat pada poin 5, yakni mewujudkan kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan. Oleh karena itu, program-program dan lembaga-lembaga yang berada di Kalurahan Panggungharjo melibatkan para perempuan, serta memberi ruang terhadap perempuan untuk menjadi pemimpin.

Terdapat beberapa kader lembaga di Kalurahan Panggungharjo yang diisi oleh perempuan. Tak hanya itu, perempuan pun diberi kesempatan menjadi pemimpin.

Pertama, kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Anggotanya merupakan masyarakat yang bersedia, mampu, dan memiliki waktu untuk menyelenggarakan kegiatan Posyandu secara sukarela.

Kedua, kader Bina Keluarga Balita (BKB) beranggotakan masyarakat yang bekerja secara sukarela dalam membina dan memberikan penyuluhan kepada orang tua, tentang cara merawat dan mengasuh anak yang baik dan benar.

Kader BKB pun mengelola pembinaan terkait tumbuh kembang anak, melalui pola asuh yang benar berdasarkan kelompok umur. Lembaga hadir sebagai upaya peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran ibu serta anggota keluarga lain dalam membina tumbuh kembang balitanya.

Ketiga, kader Pos Binaan Terpadu (Posbindu). Pengembangan Posbindu di Kalurahan Panggungharjo merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan dan mencakup berbagai upaya promotif dan preventif.

Masyarakat diberi bimbingan dalam mengembangkan wadah untuk berperan, dibekali pengetahuan, dan keterampilan untuk mengenali masalah di wilayahnya; mengidentifikasi; merumuskan; serta menyelesaikan permasalahannya sendiri berdasarkan prioritas dan potensi yang ada.

Kader Posbindu bertugas membantu menentukan prioritas masalah; merencanakan; melaksanakan, memantau; dan menilai kegiatan, masyarakat perlu dilibatkan sejak awal. Potensi dan partisipasi masyarakat dapat digali dengan maksimal, sehingga solusi masalah lebih efektif dan dapat menjamin kesinambungan kegiatan.

Keempat, Kader Utama Mitra Keluarga (KUMK). Kader di lembaga ini menjalankan program pelatihan untuk Kader Mitra Keluarga (KMK) tentang penguatan keuangan keluarga; pengantar pengelolaan keluarga; financial check up dan membuat tujuan keuangan; mengenal instrumen investasi; serta menyusun rencana keuangan keluarga.

KUMK ini berjumlah 24 orang yang terdiri dari perwakilan setiap bank sampah yang ada di Kalurahan Panggungharjo. Dengan adanya KUMK, Pemerintah Kalurahan Panggungharjo menargetkan kesejahteraan semua warganya terwujud di tahun 2024.

Kelima, Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD). Kader memegang peranan penting terkait program pelaksanaan pengendalian penduduk, keluarga berencana, maupun peran dalam mewujudkan ketahanan keluarga.

Keenam, Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK). Berisikan ibu-ibu yang aktif dalam kemasyarakatan, dan turut memberdayakan perempuan untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan desa.

Kesejahteraan keluarga menjadi tujuan utama TP-PKK Kalurahan Panggungharjo. Hal ini karena keluarga merupakan unit terkecil masyarakat yang akan berpengaruh besar terhadap kinerja pembangunan desa.

Kalurahan Panggungharjo sudah memiliki TP-PKK dari tingkat padukuhan sampai dengan kalurahan. Bahkan, sudah banyak kegiatan yang terlaksana, seperti pemanfaatan tanah pekarangan, kerja sama dengan KUPAS; menjalankan program pengolahan sampah dan mendirikan bank sampah dari tingkat RT, kerja sama dengan pamong desa; penyaluran zakat kepada kaum dhuafa; yatim; piatu; dan yatim piatu dari menyisihkan gaji para pamong, serta kerja sama dengan BUMDes dan Pegadaian dalam menjalankan program menabung emas dari sampah.

TP-PKK Kalurahan Panggungharjo ikut membantu pemerintah desa untuk meningkatkan kesejahteraan menuju terwujudnya keluarga yang berbudaya, sejahtera, maju, mandiri, dan harmonis.

Selain itu, TP-PKK juga mempunyai peran menumbuhkembangkan potensi dan peran perempuan dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Peran lainnya; penggali dan pengembang potensi masyarakat, pembina; motivator dan penggerak prakarsa, serta swadaya perempuan sebagai bagian integral dari pembangunan partisipatif di Kalurahan Panggungharjo.

Ketujuh, unit usaha Kampoeng Mataraman merupakan salah tempat kuliner yang dibangun oleh Pemerintah Kalurahan Panggungharjo. Perempuan diberi kesempatan untuk mengelola usaha tersebut. Dengan kata lain, manajer Kampoeng Mataraman adalah seorang perempuan bernama Nuzulina.

Saat bertemu, ia mengungkapkan tujuan didirikannya Kampoeng Mataraman, yaitu berhubungan dengan ketahanan pangan dan kearifan lokal. Mayoritas makanan yang disajikan merupakan hasil bumi dari area pertanian di sekitarnya.

Tak lupa, ia juga mengungkapkan bahwa keberadaan Kampoeng Mataraman bertujuan untuk memberdayakan kaum rentan, seperti janda, putus sekolah, kaum miskin, dan yang belum memiliki pekerjaan di Kalurahan Panggungharjo.

Kedelapan, Koperasi Wanita Dewi Kunti. Sesuai dengan namanya, koperasi ini diisi oleh para perempuan. Seluruh anggota menjadi pemimpin dan ikut andil dalam menjalankan program.

Adanya Koperasi Wanita Dewi Kunti memberi harapan dapat membantu memperbaiki taraf hidup maupun ekonomi; anggota dan warga Panggungharjo, serta meningkatkan kesejahteraan anggota.

Melalui koperasi ini, warga bisa mendapatkan manfaat simpan pinjam dengan syarat yang mudah. Selain itu, masyarakat juga bisa membeli kebutuhan-kebutuhan pokok dari barang yang ditawarkan dengan harga yang lebih terjangkau.

Ketika pandemi, Koperasi Wanita Dewi Kunti telah melakukan pemutihan bunga pinjaman untuk meringankan beban anggota. Pada tahun 2020, mereka berhasil menggabungkan kelompok-kelompok simpan pinjam warga di dalam Koperasi Wanita Dewi Kunti.

Banyaknya lembaga yang mejadikan perempuan sebagai kader, sudah cukup membuka pandangan perihal kepedulian gender di desa ini. Peran perempuan dalam proses membangun desa sama sekali tidak menjadi penghambat. Oleh karena itu, persamaan hak antara laki-laki dan perempuan perlu diperhitungkan, terutama dalam kehidupan politik di desa.

Nilam selaku salah satu tokoh perempuan yang turut berperan membangun desa, menuturkan bahwa senang bergabung dengan organisasi yang bermanfaat bagi orang lain, terutama bagi warga Panggungharjo.

Prestasi dan keterampilan perempuan di Kalurahan Panggungharjo, telah ditunjukkan melalui banyaknya kegiatan bermanfaat yang mereka lakukan guna mengembangkan desa. Respon masyarakat dengan adanya lembaga-lembaga desa yang melibatkan perempuan diapresiasi sangat baik, terutama kegiatan pemberdayaan ekonomi.

Kepemimpinan wanita berfungsi sebagai mitra dari kepemimpinan laki-laki. Wanita juga memiliki porsi yang jelas dalam keikutsertaannya terhadap pembangunan desa. Lambat laun kedudukan dan kepemimpinan wanita secara nyata akan sama dengan kaum laki-laki, sehingga tidak ada lagi pemisahan gender dalam pembangunan desa.