Potensi Sumber Daya Ikan sebagai Penggerak Utama Ekonomi

Peta Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia. KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Sudah menjadi tekad yang bulat bagi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menjadikan sumber daya kelautan sebagai penggerak utama (prime mover) pembangunan ekonomi baru di DIY. Semangat ini dibuktikan melalui salah satu visinya dengan paradigma pembangunan Among Tani Dagang Layar (ATDL). Bagaimana dapat mewujudkan pesisir dan laut DIY sebagai halaman depan, pusat pertumbuhan ekonomi, dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat?

Penetapan visi tersebut hadir bukan tanpa alasan. Alasan yang sangat mendasar adalah melimpahnya sumber daya ikan (SDI) yang berada di Samudra Hindia atau Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP-RI 573). DIY termasuk pengelola WPP-RI 573.

WPP Republik Indonesia adalah pembagian wilayah pengelolaan perikanan yang didasarkan pada ekologi, karakteristik wilayah, dan sumber daya ikan yang digunakan sebagai dasar pengelolaan perikanan secara lestari dan berkelanjutan. Kode angka 573 adalah penomoran menurut Food and Agriculture Organization (FAO). Perairan Indonesia, memiliki dua digit awal penomoran berbeda, yaitu 57 dan 71.

Potensi SDI tidak hanya dinyatakan besarnya jumlahnya, tetapi juga beragam (biodiversity) jenis ikan yang mendiami dan beruaya di perairan selatan DIY (segoro kidul). SDI hanya sebagian dari potensi sumber daya kelautan yang mempunyai potensi ekonomi yang sangat besar.

Beberapa referensi mencatat bahwa ikan tuna setiap bulan beruaya di perairan selatan DIY, Hasil penelitian juga membuktikan bahwa ikan tuna beruaya di selatan DIY. Potensi lestari sumber daya ikan sebesar 12,5 juta ton per tahun, potensi budi daya ikan laut sekitar 45 juta ton pertahun dan potensi perikanan dan bioteknologi kelautan yang mencapai 100 miliar USD per tahun. Tinggal bagaimana kita mengelola dan memanfaatkan SDI tersebut.