Pranata Mangsa sebagai Acuan Produksi Perikanan

Budi Daya Ikan. KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Pranata mangsa merupakan perkiraan pola musim, iklim, dan fenomena alam yang dikembangkan oleh nenek moyang berdasarkan kejadian-kejadian alam, seperti musim penghujan, kemarau, musim tanaman berbunga, letak bintang di jagat raya, serta pengaruh bulan purnama terhadap pasang surut air laut.

Pranata mangsa selanjutnya disusun menjadi kalender tahunan dan telah digunakan serta disesuaikan dengan berbagai bidang. Pranata mangsa digunakan pada penentuan atau patokan bila akan melakukan suatu pekerjaan. Misalnya, saat petani mulai bercocok tanam, nelayan melaut, merantau, bahkan mungkin juga dulu digunakan pemilihan hari untuk berperang, sehingga dapat mengurangi risiko dan mencegah pembengkakan biaya.

Demikian juga di bidang perikanan, para nelayan dan Kelompok Pembudidaya Ikan Kecil (Pokdakan) memanfaatkan pranata mangsa untuk pedoman melaut serta pembudidayaan ikan.

Pranata Mangsa Penangkapan Ikan

Para nelayan, menggunakan pranata mangsa untuk mendeteksi musim ikan dan lokasi ikan berada. Saat melaut, nelayan mengamati dan membaca alam dengan melihat letak bintang yang dijadikan patokan untuk menemani mereka saat melaut.

Nelayan mengetahui bulan-bulan yang baik untuk pergi melaut dan akan mendapatkan ikan banyak. Begitu pun sebaliknya, mereka mengetahui waktu untuk tidak melaut, berbahaya, dan tidak akan menghasilkan apa-apa.

Pada saat-saat itulah mereka menggunakan waktu untuk memperbaiki alat tangkap yang rusak, memperbaiki rumah, dan melakukan pekerjaan selain melaut. Pranata mangsa ternyata mampu memberikan petunjuk, dan dapat digunakan sebagai pedoman mereka dalam berusaha.

Seperti pada 22 Juni sampai 1 Agustus, di darat akan muncul tanda alam berupa musim kemarau atau ketigo, tapi udara terasa dingin, daun berguguran, perubahan suhu udara harian tinggi, air mulai berkurang, dan para petani mulai menanam palawija. Sedangkan di laut, arus laut mengarah barat, angin timur mulai terasa, dan burung beterbangan di atas permukaan laut. Pada waktu tersebut, ikan yang sedang musim adalah tuna madidihang, tongkol krai, cakalang, cucut, mayung, dan pari.

Sementara itu, pada 13 Oktober sampai 8 November, di darat muncul tanda alam berupa musim penghujan atau rendeng, burung terik datang dari laut ke darat untuk makan laron, tumbuh banyak cendawan atau jamur, burung srigunting atau burung jekitut berkicau, lempuyang dan kunyit bertunas, serta kecepatan angin sedang.

Sedangkan di laut, arus mengarah ke timur, air laut keruh, kecepatan angin sedang, burung beterbangan di atas permukaan air laut, dan permukaan air laut menghangat. Pada masa itu, ikan yang banyak ditemui di laut adalah tuna madidihang, tongkol, tenggiri, cakalang, lemuru, lobster, bawal, dan layur.

Nelayan Indonesia sebagian besar adalah nelayan tradisional atau nelayan kecil, dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah. Akses mereka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan relatif terbatas, baik karena kemampuan mereka atau sarana dan prasarana yang ada.

Pranata Mangsa Budi Daya Ikan

Budi daya ikan juga tidak lepas dari pengaruh iklim dan cuaca. Kondisi iklim saat ini juga sulit untuk dipantau, seandainya bisa pun hasilnya sulit untuk mendekati kebenarannya. Walaupun sudah menggunakan sarana yang sudah canggih dan memadai.

Kenyataannya, hasil ramalan juga tidak jarang meleset. Sebetulnya yang paling mendekati kebenaran adalah pemantauan yang dilakukan oleh masyarakat di lokasi masing-masing. Singkatnya, bentuk kearifan lokal dapat membantu para pelaku usaha di masing-masing daerah.

Salah satu contoh pranata mangsa budidaya ikan, misalnya pada 2 Agustus sampai 24 Agustus, muncul tanda alam berupa suhu air berkisar pada 22 sampai 26 derajat celsius, volume air di sumber mata air berkurang, musim panas, sawah mengering, dan matahari berada di sebelah utara garis khatulistiwa.

Waktu tersebut, adalah waktu yang tepat untuk memanen benih ikan lele serta ikan lele yang siap konsumsi. Juga, waktu yang tepat untuk membesarkan ikan padat tebar rendah. Pada 2 Agustus sampai 24 Agustus, tidak dianjurkan untuk tidak memanen dan tidak mendistribusikan ikan gurami.

Pada 13 Oktober sampai 8 November, akan muncul tanda alam berupa suhu air berkisar 26 sampai 30 derajat celsius, musim hujan, muncul laron, dan banyak tumbuh cendawan atau jamur. Dengan tanda alam tersebut, yang dianjurkan untuk dilakukan oleh para pembudidaya ikan adalah melakukan pemijahan atau pembenihan, pembesaran ikan, dan distribusi benih ikan maupun ikan siap konsumsi. Sedangkan, hal yang sebaiknya tidak dilakukan adalah pembudidayaan pemula padat tebar tinggi, melainkan padat tebar standar.

Dampak kemarau panjang saat ini membuat para Pokdakan menanggung beban yang cukup berat. Beban Pokdakan, antara lain kenaikan harga pakan pabrikan yang selalu naik dan tidak seimbang dengan kenaikan harga ikan, serta sumber air bersih yang layak untuk pembudidayaan ikan juga relatif sulit didapatkan.

Pada saat kemarau panjang, para pembudidaya harus lebih hati-hati dan lebih mewaspadai timbulnya serangan penyakit ikan. Pokdakan juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan benih ikan yang bermutu. Bagi para Unit Pembenihan Rakyat (UPR), mengalami kesulitan untuk melakukan pemijahan ikan, serta masih ada kesulitan-kesulitan lainnya.

Pranata mangsa sebagai nilai kearifan lokal perlu dikembangkan untuk melengkapi perkembangan teknologi yang berkembang pesat. Aktualisasi ini tidak mengesampingkan arti ilmu pengetahuan modern. Namun, upaya untuk mencermati alam semesta sebagai suatu tanda atau isyarat akan atau telah terjadinya perubahan di alam.

Untuk itu, perlu aktualisasi pengenalan waktu tradisional, dengan menggunakan perhitungan pranata mangsa sebagai salah satu kearifan lokal yang telah ada sejak zaman nenek moyang, dan terbukti dapat digunakan sebagai pedoman oleh masyarakat dalam berusaha maupun beraktivitas.