Sampah Membawa Berkah di Panggungharjo

KUPAS Menjadi Tempat Studi Banding dari Berbagai Daerah. IG/KUPASPANGGUNGHARJO

Sampah merupakan salah satu masalah yang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Sampah memang menjadi permasalahan yang cukup pelik untuk diselesaikan. Ada alternatif yang ramah lingkungan untuk menghilangkan sampah, yaitu dengan daur ulang.

Daur ulang adalah proses pembaruan suatu barang tak terpakai agar menjadi barang yang bisa dipakai kembali. Meskipun daur ulang yang dihasilkan itu menjadi benda yang memiliki nilai guna ataupun nilai estetis, nantinya akan kembali lagi ke sampah. Jadi, itu bukan penyelesaian masalah sampah yang sebenarnya, itu hanya alasan untuk menghentikan laju sampah dalam beberapa waktu saja.

Untuk menghentikan laju sampah, diperlukan daur ulang yang bisa mengubah sampah menjadi barang berguna, namun memiliki tambahan bahwa barang tersebut bisa habis jika dipakai. Contohnya, sampah organik yang didaur ulang menjadi pupuk, atau kotoran sapi yang bisa diubah menjadi bahan bakar, yaitu solar.

Selama ini, sampah yang bisa didaur ulang hanya sampah organik. Sementara itu, cara memperbarui sampah non organik menjadi barang guna yang akan habis dengan sendirinya, masih belum ditemukan. Sebab, sampah plastik memang tidak bisa diuraikan, kebanyakan orang akan menghilangkannya dengan cara dibakar. Apabila dilakukan dalam skala besar, bisa menimbulkan penyakit.

Will.I.Am yang seorang musisi pernah mengatakan, sampah bukanlah sampah sampai kita menyia-nyiakannya. Melalui pendapat tersebut, bisa dijelaskan bahwa selama manusia masih bisa memanfaatkan sampah, maka sampah itu tidak lagi menjadi sampah, melainkan bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat dan berharga.

Dalam undang-undang juga disebutkan, yaitu pada Pasal 28H ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tentang memberikan hak kepada setiap orang untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Melalui undang-undang tersebut bisa disimpulkan, pemerintah wajib memberikan pelayanan publik dalam pengelolaan sampah sehingga rakyatnya bisa hidup sehat.

Tidak hanya pusat, tetapi Kalurahan Panggungharjo juga memiliki peraturan mengenai hal tersebut, yaitu Peraturan Desa Nomor 7 Tahun 2013 yang merupakan turunan amanat Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Hal ini sama dengan yang dilakukan oleh Pemerintah Kalurahan Panggungharjo, yang mana di sini berdiri sebuah lembaga di bawah naungan BUMDes Panggung Lestari, yaitu Kelompok Usaha Pengelola Sampah (KUPAS). Resmi lahir pada bulan Maret 2013 dan merupakan lembaga pertama yang dimiliki oleh BUMDes Panggung Lestari. KUPAS dibangun di atas tanah milik kas desa serta berkontribusi untuk desa dan warganya.

Kelebihan dari KUPAS adalah perekrutan karyawannya. Karyawan yang dipilih untuk bekerja di KUPAS merupakan orang-orang yang tidak memiliki skill, misalnya orang-orang jalanan. Sebab, orang-orang yang memiliki skill belum tentu ingin bekerja menjadi tukang penarik sampah, apalagi pemilah sampah. Pihak KUPAS bekerja sama dengan dinas sosial untuk mendapatkan karyawan.

Meski orang-orang jalanan yang dirawat oleh Dinas Sosial termasuk orang yang sudah terbiasa hidup bebas, namun mereka ingin bekerja dan sedikit demi sedikit dapat diatur. Hal itu karena mereka harus melanjutkan hidup dengan menjadi karyawan KUPAS dan mendapatkan gaji yang layak. Mereka bisa memiliki uang dan bisa membeli apapun keinginan mereka dari hasil tersebut. Jumlah karyawan di KUPAS sekarang adalah 15 orang penarik dan pemilah, serta manajemen ada 5 orang.

Jam kerja karyawan antara penarik dan pemilah berbeda. Penarik sampah mulai bekerja dari pukul 07.00 dan untuk pemilah sampah akan bekerja satu jam setelah penarikan sampah, yaitu pukul 08.00. Pemilah sampah tidak akan bisa bekerja, jika sampahnya belum ditarik atau belum ada sampah yang masuk ke KUPAS.

Penarikan sampah dilakukan setiap 2 hari sekali dan untuk pekerjaan pemilahan sampah itu ada target, yakni sehari selesai. Apabila tidak selesai maka akan ada denda. Dendanya bukan dengan pemotongan gaji, tapi tidak mendapatkan rokok. Denda itu kedengarannya sepele, tapi bagi mereka rokok sangat berharga. Jadi, lebih baik menyelesaikan pekerjaan daripada tidak mendapatkan rokok. Hal-hal seperti itu memang menjadi kesederhanaan mereka.

Ada sedikit cerita dari warga bahwa sebelum dipimpin oleh manajer yang sekarang, pihak KUPAS itu melarang warga yang tinggal di sekitar daerah tersebut untuk membuang sampah di KUPAS. Saya pun kurang tahu alasan yang mendasarinya.

Tindakan tersebut memicu perselisihan antara warga dan pihak KUPAS saat itu. Dengan kepemimpinan yang sekarang, warga sekitar mendapat ‘lampu hijau’ untuk membuang sampahnya di KUPAS.

Kini sudah tidak terjadi perselisihan lagi. Untuk masalah pembayaran sampah pun, warga tidak ada yang keberatan sama sekali. Jadi, memang warga Panggungharjo itu bisa diajak kerja sama.

Berbeda dengan di tempat tinggal saya. Apabila ada penjemputan sampah, namun ketika diminta membayar malah marah-marah di belakang. Besok-besoknya tidak mau ditarik sampahnya lagi karena disuruh bayar.

Ujung-ujungnya, mereka lebih memilih membuang sampah ke waduk. Jika tidak membayar maka tukang yang menarik sampah itu mau dapat uang dari mana? Kerjanya, ya, menarik sampah itu. Akhirnya terhentilah penarikan sampah di tempat saya karena banyak orang-orang yang ngeyel begitu.

Kembali lagi pada pokok pembahasan, KUPAS merupakan lembaga yang berfokus pada pengelolaan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah. Sampah yang dikelola terdiri dari tiga jenis, yiatu sampah residu, organik, dan non organik.

Untuk sampah residu, pihak KUPAS langsung mengirimnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan. Sedangkan, sampah non organik, seperti botol minuman dan barang bekas atau yang biasa disebut sebagai barang rosok itu biasanya dijual sehingga bisa menghasilkan uang.

Sampah organik sendiri dikelola langsung oleh pihak KUPAS. Pengelolaan dilakukan dengan mengurai sampah agar menjadi pupuk organik. Pupuk yang dihasilkan akan digunakan untuk memupuk tanaman. Mengolah sampah organik pun bisa juga menghasilkan uang, apabila terjual. Pihak KUPAS juga pernah membagikan pupuk itu secara gratis kepada warga karena memang jumlah pupuk yang dihasilkan sangat banyak.

Meski KUPAS sudah lama berdiri, ternyata tidak semua warga Panggungharjo membuang sampah di sana. Ada beberapa RT yang mendirikan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) sendiri.

Warga yang sudah membuang sampah di KUPAS dan membayar dengan harga sesuai peraturan KUPAS, tidak ada yang komplain tentang jumlah yang harus dikeluarkan. Misalnya, terlalu mahal atau apapun itu. Jadi, antara harga dan keuntungan didapatkan baik oleh warga maupun desa, memang sudah sesuai.

Dalam lembaga KUPAS juga ada yang namanya Bank Sampah. Cara kerjanya adalah sampah-sampah yang non organik dijual oleh warga kepada KUPAS. Timbal balik yang didapatkan warga tersebut berupa tabungan emas di Pegadaian.

Program Bank Sampah dilakukan untuk mengubah mindset masyarakat agar dapat mengolah sampahnya sendiri. Demi menjalankan program Bank Sampah, KUPAS melakukan kerja sama dengan pihak pegadaian. Selain ditukar tabungan emas, sampah yang ditarik pun dapat ditukar dengan sayur yang ditanam di lahan yang ada di KUPAS. Bahkan, sayur itu diantar langsung oleh Lurah Panggungharjo.

Membuang sampah di KUPAS malah mendapat bahan makanan. Hal itu justri mempermudah warga. Warga jadi tidak harus pergi ke pasar untuk membeli sayur. Jika sampah dikelola dengan baik memang akan mendatangkan berkah.

Mau di mana pun kita berada, sampah pasti bisa mendatangkan keuntungan, apabila orang yang berada di sekitar sampah itu tidak melihat sampah sebagai sampah. Pemikiran seperti itulah yang sudah tertanam pada setiap karyawan KUPAS, khususnya karyawan pemilah sampah.

Mereka yang bekerja sebagai pemilah sampah, ketika melihat sampah seperti melihat uang karena mereka mendapatkan uang dari sampah. Mereka malah senang jika kedatangan sampah karena itu artinya mereka kedatangan uang. Karyawan di KUPAS memiliki gaji yang sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR).

Berkah dari sampah sepertinya sangat cocok disematkan pada Kalurahan Panggungharjo. Lurah dan warganya bisa memanfaatkan sampah sehingga dari sampah itu bisa menghasilkan uang, bahkan bisa menghasilkan emas.

Warga Panggungharjo benar-benar bisa melihat peluang dari sampah. Cara pandang warga Panggungharjo yang berbeda terhadap sampah, itulah yang menjadikan nilai sampah bisa lebih besar daripada uang.

Sampah bisa dikelola dengan baik, Pemerintah Kalurahan Panggungharjo dan warga pun bisa hidup dengan sehat sertanyaman karena tempatnya bersih dari sampah. Keuntungan pun datang dengan adanya pengelolaan tersebut. Masyarakat bisa menikmati sayur yang ditanam di lahan KUPAS dan bisa mendapatkan tabungan emas dari hasil penjualan rosok. Definisi duduk dan menunggu, tapi bisa kaya.