Susur Sejarah Makam Gunung Tambalan

Gunung Tambalan. IG/POKDARWIS DESA GILANGHARJO

Makam Gunung Tambalan terletak di Dusun Kauman RT 01, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul. Seperti namanya, area pemakaman yang menempati tanah milik Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat (sultan ground) seluas 6.700 m² ini berada di atas pegunungan atau bukit kecil bernama Tambalan. Lebih dari 200 makam berjajar rapi di bagian puncak pegunungan tersebut. Sementara bagian bawahnya dikelilingi oleh permukiman penduduk, jalan beraspal yang melingkari gunung, serta area persawahan yang membentang luas, menjadikan Gunung Tambalan serupa mandala, nampak indah dan menawan dari kejauhan.

Tak banyak yang mengetahui seluk-beluk Gunung Tambalan. Padahal jika diulik lebih dalam, terdapat berbagai versi cerita rakyat yang mengabadikan sejarahnya, tersebar melalui gethok tular (dari mulut ke mulut) di kalangan warga sekitar. Ceritera-ceritera yang berkembang tersebut sangatlah beragam dan menarik sehingga dapat memunculkan teka-teki tersendiri di benak para pendengarnya.

Surakso Surasetika atau akrab disapa Mbah Jadi, sosok sesepuh yang kewibawaannya terpancar dari penampilan dan tutur katanya, merupakan abdi dalem Karaton sekaligus juru kunci Makam Gunung Tambalan. Ia mengemban peranan penting dalam ihwal perawatan dan pelestarian Gunung Tambalan semenjak tahun 2000-an, termasuk menjadi sumber yang menyimpan banyak informasi mengenai makam para leluhur di pegunungan tersebut.

Diceritakan oleh Mbah Jadi, konon keberadaan Gunung Tambalan berasal dari bagian puncak Gunung Merapi yang ditendang ke arah selatan oleh Werkudara (Bima), yang dalam dunia pewayangan dikenal sebagai salah satu Pandhawa (kelima putra Pandhu) dengan perawakan tinggi, besar, dan kuat. Puncak gunung itu jatuh, tepat di tengah area persawahan.

Warga sekitar berusaha membuktikan legenda tersebut dengan mengaitkan karakteristik tanah Gunung Merapi dengan tanah Gunung Tambalan yang memang penuh misteri karena berbeda dibanding tanah di daerah sekitarnya. Bahkan tanah Gunung Tambalan pun berbeda dengan tanah di Gua Selarong (Gua Diponegoro) dan Makam Raja-raja Imogiri, yang notabene sama-sama pegunungan dan dijadikan sebagai tempat pemakaman.

Perbedaan itu terletak pada tekstur tanah Gunung Tambalan yang ditengarai ‘udu lempung, udu lemah’. Bukan tanah liat, bukan pula tanah biasa. Tanahnya tidak bisa menjadi becek saat musim hujan, dan tidak menjadi gersang saat musim kemarau. Pepohonan yang tumbuh di atasnya selalu subur dan menghijau sepanjang tahun. Warga percaya, tanah jenis ini tak ubahnya tanah di lereng Gunung Merapi. Mereka kemudian menyebutnya tanah kuning, dan menganggap Gunung Tambalan sebagai miniatur Gunung Merapi.

Asal-usul Penamaan Tambalan

Sejarah penamaan Gunung Tambalan tidak kalah menarik untuk dibahas. Secara umum, asal-usul namanya tidak terlepas dari keberadaan makam Kiai Tambal dan Nyai Tambal di pegunungan tersebut.

Versi pertama cerita menuturkan, Tambalan diambil dari nama Kiai Tambal. Ia adalah abdi dalem kesayangan Pangeran Puger yang membantu perjuangannya dalam mempertahankan Karaton Plered dari Pemberontakan Trunajaya tahun 1677. Berkat jasa dan kesetiaannya itu, Kiai Tambal diangkat menjadi Penghulu Karaton. Setelah wafat, ia dimakamkan di sebuah bukit di daerah pedesaan yang kemudian dinamakan Tambalan.

Pangeran Puger sendiri memiliki nama asli Raden Mas Darajat. Ia adalah putra Amangkurat I, raja terakhir Mataram, dari permaisuri kedua yaitu Kanjeng Ratu Wetan. Kelak pada tahun 1704, Pangeran Puger naik tahta menjadi raja Kasunanan Kartasura dan bergelar Sri Susuhunan Pakubuwono I.

Dalam versi kedua, nama dan keberadaan Tambalan telah ditemukan jauh sebelum datangnya sosok Kiai Tambal dan Nyai Tambal. Konon Tambalan telah memiliki peradaban maju dengan masyarakatnya yang gemar bercocok tanam. Masyarakat juga telah memiliki pemakaman sendiri yang terletak di lereng bukit. Di masa sekarang, ceritera itu diperkuat dengan adanya bukti temuan berupa tulang-tulang manusia. Warga sekitar Gunung Tambalan menemukannya ketika tengah melakukan penggalian tanah untuk membuat undhak-undhakan (tangga naik) menuju makam.

Sementara itu, sebutan Kiai Tambal dan Nyai Tambal sendiri hanyalah nama samaran dua orang pengelana yang kemudian bermukim di bukit tersebut. Keduanya diduga merupakan ulama keturunan Majapahit yang hidup sebelum era Mataram Yogyakarta.

Versi terakhirnya, ada kalangan yang meyakini bahwa dahulu kala terdapat belik atau mata air rembesan di daerah pegunungan yang kini bernama Tambalan. Karena mata airnya terus mengalir tanpa terbendung dan dikhawatirkan menimbulkan banjir, warga memutuskan untuk menutupnya dengan menggunakan duk (ijuk) yang banyak. Setelah itu, menimpanya lagi dengan bebatuan besar yang disebut gong sebagai subal atau penambal hingga mata air benar-benar tersumbat.

Pegunungan itu pun terlihat seakan-akan ditambal. Warga acap kali menyebutnya ‘gunung yang ditambal’ atau ‘gunung tambalan’. Secara sederhana, peristiwa tersebut kemudian melatarbelakangi penamaan Gunung Tambalan sekaligus menjadi penanda asal-usulnya. Kata ‘tambalan’, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa, sama-sama dipahami sebagai ‘bagian yang ditambal’.

Di satu sisi, keberadaan mata air yang terkubur di Gunung Tambalan rupanya menambah versi cerita baru mengenai tanahnya yang penuh misteri. Kestabilan tanah Gunung Tambalan pada musim penghujan dan kemarau, bukan tidak mungkin disebabkan oleh mata air tersebut.

Pusara Leluhur Tambalan, Keturunan Raja, hingga Warga Desa

Pemilihan Gunung Tambalan sebagai tempat pemakaman bukanlah sebuah ketidaksengajaan atau kebetulan belaka, mengingat banyaknya tokoh penting dan berkedudukan tinggi yang disemayamkan dan dicatat perjuangannya.

Berdasarkan konsep masyarakat Jawa pra-Hindu, gunung atau pegunungan, bukit, dan tempat yang ditinggikan dianggap sebagai lanskap yang sakral dan dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh nenek moyang. Masyarakat berpandangan, tokoh-tokoh yang berkedudukan dan berpangkat tinggi seperti raja dan bangsawan layak mendapatkan tempat yang tinggi pula sebagai peristirahatan terakhirnya. Tempat yang tinggi seperti di daerah pegunungan menjadikan ruh seorang tokoh lebih dekat dengan Sang Pencipta. Di samping itu, makin tinggi tempat pemakaman, makin tinggi pula derajat kemuliaannya.

Demikian halnya tata pemakaman di area Makam Gunung Tambalan. Tempat yang paling atas diperuntukkan bagi makam keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono II, diikuti para penghageng Karaton Ngayogyakarta, bangsawan, serta ulama. Sedangkan area yang lebih rendah menjadi tempat pemakaman bagi tokoh masyarakat, ulama atau kaum rois, dan warga sekitar.

Dari keseluruhan makam yang ada, beberapa di antaranya memiliki ‘cungkup’ (bangunan makam) sehingga nisannya terlindung dari hujan dan terik matahari. Namun, banyak pula makam yang cukup menempati area terbuka.

Cungkup berwarna putih yang berdiri di puncak atau tempat teratas Makam Gunung Tambalan merupakan tempat disemayamkannya Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Jayaningrat I dan Bendara Raden Ayu (B.R.Ay) Jayaningrat, beserta keturunannya. Cungkup tersebut dibangun pada tahun 1941 ketika Sri Sultan Hamengkubuwono IX berkuasa.

B.R.Ay. Jayaningrat adalah putri Sri Sultan Hamengkubuwono II yang diduga memiliki ikatan perkawinan dengan KRT Jayaningrat I. Sebagai menantu kerajaan, KRT Jayaningrat mengemban posisi sebagai pemimpin Karesidenan Kedu, yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan Kasultanan Ngayogyakarta. Masa kepemimpinannya berlangsung sebelum pecahnya Perang Diponegoro (1825-1831), tepat pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono II (1792-1828).

Mengenai ritual pemakaman keluarga raja tersebut, Mbah Jadi memiliki kisah yang diwariskan oleh leluhurnya kepada dirinya. Dituturkan bahwa ketika leluhurnya masih hidup, mereka menjadi saksi berangkatnya iring-iringan (rombongan) Karaton yang membawa jenazah dengan kereta kuda dari arah utara. Kereta itu ditarik oleh kuda berjumlah empat ekor, menandakan bahwa jenazah yang akan dikebumikan adalah putra atau putri penguasa Karaton.

Kini dapat ditemukan, makam putri dan menantu kerajaan tersebut terletak di ruangan cungkup yang paling dalam. Batu nisannya berasal dari batuan hitam berukirkan keterangan yang ditulis dalam aksara Jawa hanacaraka. Ruang pemakamannya yang senantiasa tertutup tidak terdapat akses cahaya sama sekali, selain pada saat pintunya dibuka oleh juru kunci untuk kepentingan tertentu.

Di sisi kanan depan bangunan makam adalah tempat disemayamkannya beberapa tokoh penting yang masih memiliki garis keturunan KRT Jayaningrat I. Sebut saja Raden Tumenggung Wiryodiningrat, Raden Tumenggung Jayadiningrat I, Raden Tumenggung Jayadiningrat II, dan Raden Wedana Kilayunedeng. Raden Tumenggung Jayadiningrat I sendiri merupakan Bupati Bantul kedua yang memerintah pada tahun 1845-1851. Ia meneruskan kepemimpinan Raden Tumenggung Mangun Negoro, Bupati Bantul pertama yang menjabat pada 1831-1845.

Makam Kiai dan Nyai Tambal. RAHMA FRIDA

Selain itu, masih terdapat keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono II dari selir yang dimakamkan di Gunung Tambalan. Banyak di antaranya menempati area pemakaman yang luas dan dibentengi oleh tembok setinggi kurang lebih dua meter.

Makam Kiai Tambal dan Nyai Tambal sendiri terletak di tengah-tengah area pemakaman. Tak ada keterangan pasti kapan kedua sosok yang dianggap sebagai leluhur Gunung Tambalan tersebut dimakamkan. Nisannya hanya menunjukkan bahwa cungkupnya dibangun kembali pada tahun 2004, menjadikan pusara kedua tokoh itu terlihat lebih terawat dan mencolok dibandingkan cungkup-cungkup di sekitarnya.

Perawatan dan Pelestarian Makam

Seperti telah disinggung di paragraf awal, perawatan Makam Gunung Tambalan tidak terlepas dari peran Mbah Jadi, sang juru kunci yang tinggal di Dusun Ketandan Kauman, tak jauh dari keberadaan Gunung Tambalan. Perawatan dilakukannya dengan sepenuh hati, mulai dari membersihkan area pemakaman, mengantar pengunjung yang ingin berziarah, hingga memberikan keterangan tentang seluk-beluk makam.

Setiap malam Selasa Kliwon pukul dua belas malam, Mbah Jadi berziarah ke Gunung Tambalan untuk mendoakan arwah para leluhur, serta meminta kebaikan dan kebermanfaatan hidup dari yang Maha Kuasa bagi dirinya maupun warga yang mengikuti rutinitas tersebut.

Di samping rutinitas itu, Mbah Jadi tak jarang mengingatkan siapa pun yang ingin berkunjung untuk menaati adab memasuki Makam Gunung Tambalan, yaitu naik melalui tangga di sebelah kanan dan turun melalui tangga kiri. Pengunjung yang hendak menuju makam pun harus mempunyai niat baik, dan berlaku baik pula ketika berada di area makam. Hal tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan keberadaan makam itu sendiri.

Hingga saat ini, masih terdapat peziarah yang datang ke Makam Gunung Tambalan untuk mendoakan para leluhur. Pemerintah Kabupaten Bantul secara rutin melakukan ziarah ke makam Bupati Bantul kedua, Raden Tumenggung Jayadiningrat I, menjelang Hari Jadi Kabupaten Bantul pada 20 Juli. Peziarah lainnya datang dari kalangan warga sekitar, pengunjung yang bermaksud napak tilas, serta peneliti pada bidang kepurbakalaan.

Add Comment