Tanggap Perubahan Iklim, Menangani Bencana

Gerakan Mendaur Ulang Sampah Plastik Mencegah Pemanasan Global. KAPANEWON SEWON

Perubahan mengacu pada peralihan dan/atau pertukaran. Perubahan menunjukan bahwa terdapat keadaan yang telah berbeda dengan objek pada saat awal. Seperti perubahan suhu bumi yang semakin dirasakan oleh manusia. Faktor internal dan faktor eksternal menjadi pemicu perubahan. Perubahan pun memiliki dampak, baik dampak negatif maupun positif bagi masyarakat.

Perubahan iklim merupakan suatu perubahan jangka panjang dalam pola cuaca tertentu di suatu wilayah. Penyebabnya adalah kenaikan suhu bumi. Hal ini berpotensi memengaruhi kehidupan makhluk hidup dan alam, seperti memicu bencana.

Gas rumah kaca dibutuhkan oleh bumi untuk menjaga suhu agar tetap dalam keadaan stabil. Kenaikan konsentrasi gas rumah kaca membuat lapisan atmosfer semakin tebal sehingga menyebabkan panas bumi terperangkap di lapisan atmosfer dan menumpuk hingga akhir.

Perubahan iklim meningkatkan bencana, seperti banjir, kekeringan, gelombang pasang, dan musim yang tidak tepat waktu. Dampak yang ditimbulkan dari fenomena ini, yakni gagal panen dan lain-lain.

Perubahan iklim juga menjadi penyebab berkurangnya pasokan air bersih dan kualitas air yang menurun, karena berubahnya pola hujan yang membuat jumlah dan kualitas air bersih turut mengalami perubahan ke arah yang buruk. Oleh karena itu, aktivitas makhluk hidup akan terganggu dan mengakibatkan menurunya kualitas aspek lain. Dengan kata lain, perubahan iklim memberikan efek domino bagi semesta.

Faktor eksternal yang menyebabkan perubahan iklim adalah erupsi vulkanik, jumlah energi yang dipancarkan oleh matahari, dan faktor- faktor lain karena ulah manusia. Sebagai contoh, penggunaan bahan bakar fosil secara terus menerus dan perubahan penggunaan lahan yang semestinya digunakan sebagai penyeimbang bumi, tetapi beralih fungsi menjadi perumahan dan industri.

Tindakan manusia menggunakan sumber daya alam untuk menciptakan suatu perubahan tanpa memikirkan dampak dari tindakannya, menjadi salah satu penyumbang rusaknya bumi. Manusia mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mengembalikan kondisi bumi agar menjadi lebih baik seperti sedia kala.

Berbagai upaya dan mitigasi bencana terus dilakukan secara besar-besaran guna memperbaiki bumi dalam waktu cepat. Banyak langkah untuk mengatasi perubahan iklim, seperti penggunaan energi ramah lingkungan.

Keadaan yang mendesak ini memaksa manusia untuk berinovasi demi mengobati bumi dengan menciptakan teknologi yang ramah lingkungan. Penggunaan panel surya dengan memanfaatkan sinar matahari untuk mengurangi pemakaian listrik dari batu bara, sudah banyak dilakukan di wilayah pedesaan maupun perkotaan.

Pengalihan sumber energi yang digunakan untuk menggerakan mesin di pabrik-pabrik besar sudah mulai dilakukan, agar menjadi lebih ramah lingkungan dan tidak menghasilkan emisi gas buang yang berbahaya.

Gerakan sejuta pohon mempunyai peranan penting terhadap penambahan dunia. Pohon sebagai penopang berbagai kebutuhan makhluk hidup dan penyerap karbon dioksida serta menghasilkan oksigen. Oleh karena itu, pohon dijuluki sebagai paru-paru dunia.

Memulai menanam pohon di halaman rumah menjadi salah satu pencegahan perubahan iklim. Apabila memiliki keterbatasan lahan, dapat diinovasi dengan membuat halaman secara vertikal, supaya tetap ada tanaman yang bisa memproduksi oksigen. Penanaman pohon di halaman rumah akan menciptakan suasana yang sejuk dan teduh bagi lingkungan tempat tinggal, sehingga menjadikan rumah semakin nyaman untuk ditinggali.

Menghadapi bencana yang tidak dapat diprediksi secara pasti, hilangnya keseimbangan lingkungan akibat kerusakan alam yang tidak stabil, perlu diatasi oleh semua elemen masyarakat. Semakin banyak bencana yang terjadi di mana-mana karena ulah manusia, seharusnya menyadarkan kita untuk mengurangi risiko bencana dan perubahan iklim.

Tanggap perubahan iklim dengan melaksanakan manajemen bencana dan rencana aksi pengurangan, yang terdiri dari mitigasi, manajemen kesiapsiagaan, manajemen krisis, kedaruratan dan pemulihan, serta rencana aksi penanggulangan bencana.

Mitigasi bencana dapat dilakukan untuk menanggulangi risiko bencana dengan melakukan pendekatan struktural dan nonstruktural. Rangkaian upaya yang dilakukan dapat berupa perbaikan dan modifikasi lingkungan fisik, maupun penyadaran serta peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Dalam pendekatan struktural, mengacu pada infrastruktur yang mendukung pengurangan pengaruh pemanasan global dan risiko bencana. Seperti, mitigasi bencana banjir dapat dilakukan penataan daerah aliran sungai.

Pendekatan nonstruktural dilakukan melalui pendekatan terhadap masyarakat sebagai perancang dan perencana suatu tindakan mitigasi bencana. Seperti, mitigasi bencana banjir dengan mengedukasi masyarakat tentang bahaya membuang sampah sembarangan.

Manajemen kesiapsiagaan dilakukan menjelang sebuah bencana akan terjadi. Seluruh elemen masyarakat perlu memiliki kesiapan dan selalu siaga untuk menghadapi bencana alam. Proses identifikasi dan penyusunan rencana berdasarkan bencana perlu dilakukan, seperti menyusun rencana pengembangan sistem peringatan dini, langkah-langkah pencarian dan penyelamatan, serta evakuasi daerah rawan untuk meminimalkan korban jiwa saat bencana terjadi.

Saat terjadinya bencana di wilayah tertentu, perlu dilakukan penanganan cepat kedaruratan (emergency response). Hal itu berguna untuk memberi jaminan keselamatan, kesehatan, dan hak-hak dasar kepada seluruh komponen yang terlanda, tanpa terkecuali. Dalam masa krisis pemulihan cepat terhadap kehidupan masyarakat, harus dilakukan secara terencana dan terpadu sehingga penanganan terlaksana dengan cepat

Proses pemulihan menjadi bagian dari upaya peredaman risiko bencana alam. Dalam perencanaan suatu program pemulihan, memiliki unsur-unsur terhadap pengurangan risiko bencana dan pembangunan berkelanjutan yang aman dari risiko bencana.

Kesiapsiagaan dengan melakukan rencana aksi yang diimplementasikan dalam suatu kegiatan, lebih efektif mengurangi risiko bencana akibat dari perubahan iklim. Upaya-upaya yang dilakukan untuk pengurangan, meliputi pengurangan risiko bencana, menahan laju perubahan iklim global, serta melakukan pembangunan berkelanjutan yang menjadi satu dan saling berhubungan dalam mengelola ancaman bencana alam.

Peredaman risiko bencana merupakan upaya terpadu dan tersusun yang dilakukan dalam manajemen bencana, sehingga dapat dilaksanakan dalam pengelolaan lingkungan yang berbasis pengurangan risiko bencana, dengan mengurangi efek pemanasan global yang saling berhubungan.

Add Comment