Tujuh Legacy Wahyudi Anggoro Hadi

Panggungharjo bagi semua warga bangsa, untuk hidup patut, layak dan bermartabat. WAHYUDI ANGGORO HADI

Siapa yang tidak mengenal sosok Wahyudi. Wahyudi malah lebih terkenal daripada Bupati Bantul, tutur salah satu senior penulis di Kampus ketika berdiskusi tentang kemajuan Kalurahan Panggungharjo. Kehadirannya yang ingin memaksa orang untuk berubah melalui jalur kekuasaan merupakan langkah awal dalam menciptakan legacy pertama yang menjadi legacy Wahyudi: Jika kita punya idealisme untuk membangun desa dan melayani warga, harus ada keberanian untuk terjun langsung.

Jangan hanya kritik, tetapi harus ada keberanian untuk bereksperimentasi terjun ke politik dan patokan ini berlaku untuk semua anak muda yang punya semangat tinggi dalam membangun desa. Yang perlu diperhatikan adalah berpolitik dengan politik akal sehat. Politik akal sehat adalah politik untuk kepentingan orang banyak. Taat konstitusi bukan konstituen. Dengan cara lain, berpolitik berdasarkan pada prophetic voice, artinya melakukan fungsi kenabian yang menyuarakan kebenaran dan keadilan, sekalipun dengan resiko ditolak dan dicampakkan.

Bukan political voice yang hanya mengharapkan (terpenting) menang dalam pemilu dan tidak peduli apakah proses yang ditempuh halal maupun haram. Wahyudi telah membuktikan dirinya ketika mencalonkan Lurah panggungharjo. Ia begitu lantang memerangi praktik politik uang. Dengan modal sosial yang terus ditumbuhkan, maka ia berhasil menduduki jabatan Lurah Panggungharjo selama dua periode (2012-2018, 2018-2024).

Legacy kedua adalah legacy perubahan nyata bagi Kalurahan Panggungharjo. Wahyudi telah memberikan patokan tinggi (high benchmark), untuk menjadi ukuran keberhasilan dan kinerja kepada pemimpin penggantinya. Ahok, Jokowi, Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo dan Risma adalah pemimpin yang telah memberikan patokan tinggi pada pengganti mereka. Jika pengganti mereka memiliki kapasitas dan integritas serta etos kerja yang tinggi, maka hasilnya akan terus dirasakan oleh warga (kesejahteraan).

Tetapi jika sebaliknya, maka akan seperti Gubernur Jakarta (AB) pengganti Ahok yang membuat tata kelola pemerintah makin amburadul. Perubahan nyata yang dialami oleh masyarakat Kalurahan panggungharjo ada pada kehadiran negara lewat pemerintah Kalurahan Panggungharjo dalam memberikan perlindungan baik itu jaminan kesehatan sosial, pendidikan maupun untuk ibu hamil.

Kehadiran Wahyudi yang membela rakyat yang tertindas menjadi legacynya yang ketiga. Dalam sebuah dialog (podcast), Wahyudi menceritakan ketika membela dan mengurus warga yang terikat dengan rentenir. Suatu hari sebuah keluarga (ayah, ibu beserta anak) datang ke rumah Wahyudi dan bercerita tentang utang yang dimiliki. Awalnya mereka berutang dengan nominal sekitar satu setengah juta. Selang beberapa tahun —kurang lebih empat tahun—, semua asetnya telah habis, mulai dari tanah habis dijual dan sebagainya sehingga membuat diri keluarga tersebut harus berlindung dalam sebuah keluarga dekat.

Dan itupun masih menyisakan utang sekitar dua puluhan juta. Awalnya hanya berutang dengan satu orang kemudian menjadi berutang kepada tujuh puluh delapan orang. Apa yang Wahyudi lakukan? Ia menyuruh kelompok orang-orang yang berhutang dengan rentenir membuat daftar rincian hutangnya beserta dengan nominalnya termasuk nomor kontaknya. Kemudian setiap warga desa yang berhutang dengan rentenir, Pemerintah Kalurahan Panggungharjo mengeluarkan surat pengampuan dari Pemerintah, dengan isi suratnya: orang ini berada dalam pengampuan pemerintah Kalurahan Panggungharjo, sehingga semua tanggung jawab terkait dengan utang piutang menjadi tanggungjawab pemerintah kalurahan.

Tanggapan Wahyudi ketika bertemu dengan debt collector adalah “berapapun utang warga desa tak bayar hari ini”. Lanjutnya, “jika menunjukkan aspek legal usaha, maka akan dibayar sisa dari pokok pinjaman. Dan jika keberatan terhadap beberapa tawaran (alternatif), silahkan laporkan kita, kita akan ketemu di Pengadilan”. Dan, pada akhirnya utang warga desa yang berkisar kurang lebih empat ratus juta rupiah, pemerintah kalurahan hanya membayar sekitar seratus tiga puluhan juta rupiah.

Uang yang digunakan untuk membantu melunasi hutang warga desa adalah melalui BUMDes dan beberapa lembaga intermediasi. Kemudian setiap warga ada pernyataan hutang yang diserahkan di Kalurahan Panggungharjo. Dan Pemerintah Kalurahan melonggarkan waktu lama untuk pembayaran, sehingga membuat masyarakat yang berhutang dapat bernafas panjang.

Kisah yang saya paparkan di atas adalah sebuah sikap yang sangat jarang ditemui dalam kehidupan lurah/kepala desa di seluruh Indonesia. Wahyudi dengan otoritas dan kapasitasnya sebagai pemimpin sekaligus pemerintah, melaksanakan fungsi yang sesuai sebagai pemerintah, yaitu: protecting (melindungi), perlindungan yang diberikan kepada warga tidak hanya secara cuma-cuma, tetapi dengan proses ini Wahyudi melayani sekaligus mendidik warganya. Ada proses politik yang terjadi. Dengan tindakan seperti ini maka posisi Wahyudi menghadirkan negara dalam kehidupan masyarakat.

Legacy keempat adalah keberanian Wahyudi dalam menentang dan mengambil risiko. Sejak saya memulai menulis paragraf pertama dalam bab ini, telah penulis ulas sepenggal kisah terhadap Wahyudi. Mulai dari menata birokrasi desa, menentang banyak hal, seperti praktik politik uang, simbol-simbol negara, termasuk supra desa yang sok tahu desa dan sok kuasa (mengatur) dan perlakuan negara terhadap desa. Termasuk keberanian Wahyudi dalam negosiasi ulang aset Kalurahan Panggungharjo yang dikelola oleh pihak lain.

Yang kemudian menjadikannya sumber pendapatan asli Kalurahan Panggungharjo. Dan terakhir, kisahnya dalam melindungi warganya dari berbagai ancaman utang. Wahyudi sejak tampil di Pemerintah Kaluruhan Panggungharjo menjadikan dirinya sebagai sandaran keluh-kesah warga, yang kehadirannya bagaikan cahaya yang memberikan pencerahan bagi yang membutuhkan.

Legacy kelima adalah Wahyudi berpikir sekaligus bekerja dan bekerja sekaligus berpikir. Legacy kelima adalah ada pada kehadiran Wahyudi sebagai pembawa perubahan bagi Kalurahan Panggungharjo. Dengan pemikirannya dan sikap yang interaktif, sosialis, dan memiliki banyak relasi, mampu menaikkan martabat Panggungharjo di mata seluruh desa-desa di Indonesia maupun di tingkat Asean. Dengan konsep yang matang dan didukung eksekusi yang baik maka mampu menghasilkan banyak inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi warga Panggungharjo.

Pengetahuan dan jiwa wirausaha yang dimiliki oleh Wahyudi mengantarkan banyak peluang usaha yang dapat meningkatkan PADes bagi Panggungharjo. Semua orang punya jiwa wirausaha jika diasah dan ditemukan dengan orang yang cocok. Faktornya apa? interaksi, konsultasi, berelasi dengan banyak orang, banyak kelompok dan banyak institusi. Jika sebaliknya kepala desa hanya mengerjakan administrasi, maka kata Syarif (direktur Lembaga Strategi Nasional): “Tinggal tunggu waktu mati aja itu desa”. Otak kepala desa ya programnya bangun jalan. Ia mengumpat-ngumpat, oh, ini bagaimana ADD kita gak cukup nih, otaknya gak jalan. Otaknya hanya habiskan ADD tetapi tidak ada upaya untuk menaiki PADes. Nanti dulu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan PADes aja susahnya minta ampun.

Legacy keenam adalah Sikap Wahyudi yang Demokratis. Sebagai orang yang terlahir dari keluarga yang demokratis, wajar saja jika dalam kepemimpinannya Wahyudi banyak memberikan kesempatan (pilihan) kepada bawahannya untuk berbuat dan berkarya sesuai dengan caranya masing-masing. Dalam buku yang bertitel The 8th Habit, yang ditulis oleh Stephen R. Covey, menjelaskan bahwa orang-orang akan membuat pilihan apabila, seberapa besar bagian dalam diri mereka yang mereka abdikan dalam pekerjaan, dan itu tergantung pada bagaimana mereka diperlakukan, serta kesempatan mereka untuk memanfaatkan keempat dimensi kehidupan mereka—fisik/ekonomi, mental, sosial/emosional, dan spiritual

Ada sebuah narasi (ilustrasi) menarik dalam proses demokratis seorang pemimpin kepada bawahannya. misalnya: Pertama, anda tidak diperlakukan dengan adil. Dengan kata lain, ada banyak permainan politik berlangsung dalam organisasi anda, ada nepotisme, sistem penggajian tidak adil dan tidak jujur, gaji anda juga tidak dengan tepat mencerminkan besarnya sumbangan anda. Apa kira-kira yang anda lakukan?. Kedua, anda diperlakukan dengan adil, dalam arti digaji dengan adil, tetapi tidak diperlakukan dengan baik.

Anda tidak dihormati, perlakuan terhadap diri anda berubah-ubah, semena-mena, banyak tak terduga dan mungkin lebih banyak ditentukan oleh suasana hati bos anda. Apa kira-kira pilihan anda?. Ketiga, anda dibayar dengan adil dan diperlakukan dengan baik, tetapi pendapat anda tidak digubris. Dengan kata lain, tubuh dan hati anda dihargai, tetapi pikiran anda tidak. Apa pilihan anda?. Keempat, anda dibayar dengan adil (tubuh), diperlakukan dengan baik (hati), dilibatkan secara kreatif (pikiran), tetapi anda diminta untuk menggali lobang dan menimbunnya kembali, atau disuruh membuat laporan yang tak akan pernah dilihat dan dimanfaatkan orang.

Dengan kata lain, pekerjaan sama sekali tidak berarti (jiwa). Apa kira-kira pilihan anda?. Kelima, anda dibayar dengan adil, diperlakukan dengan baik, dan dilibatkan secara kreatif dalam suatu pekerjaan yang berarti, tetapi ada banyak kebohongan dan kecurangan yang terjadi terhadap pelanggan dan pemasok, termasuk karyawan lain. Apa kira-kira pilihan anda?. (Covey, 2008:37).

Narasi yang saya uraikan diatas jika gagal dipahami oleh seorang pemimpin, maka pasti akan mendatangkan hal buruk. Pertanyaan diatas penulis (covey) telah menanyakan pertanyaan itu di seluruh dunia, dan dalam situasi yang berbeda. Dan hampir dapat dipastikan bahwa jawabannya banyak yang memilih: memberontak dan keluar dari pekerjaan, menurut tetapi dengan banyak gerutu dan kecurangan. Sedangkan pilihan atas kesediaan memenuhi aturan, bekerjasama dengan sukarela, berkomitmen dengan sepenuh hati, bersemangat dan bergairah secara kreatif, indeks pilihannya sangat rendah.

Dalam proses kepemimpinan wahyudi dalam konteks demokrasi kepada bawahannya, ia mampu menempatkan diri sebagai pemimpin yang memahami tubuh, hati, jiwa dan pikiran bawahannya. Artinya setiap bawahan dibayar dengan ail, diperlakukan dengan baik, dimanfaatkan secara kreatif dan diberi kesempatan untuk melayani kebutuhan dengan cara-cara yang baik dan benar. Tentu dengan sikap yang seperti ini, maka bawahan akan bekerjasama dengan team, memberikan komitmen sepenuh hati dan mencurahkan semangat dan kegairahan yang kreatif untuk kemajuan desa.

Legacy ketujuh adalah Wahyudi berhasil menjadi sebutir garam melalui kepercayaan dan keteladanan. Ketika terpilih langkah awal yang terus diperjuangkan oleh Wahyudi adalah membangun kepercayaan warga terhadap pemerintah. Hal ini dapat terwujud apabila dalam kepemimpinan, adanya keteladanan yang ditonjolkan dari seorang pemimpin. Membangun kepercayaan warga mensyaratkan ‘menjadi sebutir garam’ yang merujuk pada kerendahan hati dan kepemimpinan yang melayani dari seorang pemimpin.

Tulisan Santosa dalam buku yang bertitel Keutamaan Jokowi memaparkan makna mendalam dari ‘menjadi sebutir garam’. Takdir sebutir garam di pasir itu tersembunyi. Tidak seperti terang yang memancarkan cahaya. Tidak seperti suar yang menavigasi kapal di laut untuk merapat ke dermaga. Garam itu tersembunyi dan memendam kerendahan hati. Garam memberikan rasa yang meresap pada makanan, tanpa pernah menjadi makanan itu sendiri. Garam merasuk kedalam makanan sebagai penyedap.

Jika anda menjadi “sebutir garam” anda harus merasuki kehidupan orang lain dengan sikap hati dan pikiran anda, mempengaruhi orang lain dengan sikap dan perilaku anda, itulah peran sebutir garam, rendah hati dan tersamar. Kepemimpinan yang melayani adalah menjadi ‘garam’ merasuk ke semua ranah kehidupan konstituen atau merapat pada rakyat. (Marham, 2017:204).

Untuk mendapatkan kepercayaan warga demi memunculkan partisipasi yang besar dari warga, maka Wahyudi hadir sebagai garam dengan mempengaruhi orang melalui sikap dan perilaku sebagai seorang pemimpin. Mulai dari datang dan pulang kantor tepat waktu, membersihkan toilet, menciptakan rasa nyaman terhadap orang-orang yang berinteraksi dengan beliau melalui komunikasi dan pengetahuan yang dibagikan dan ceritakan.

Bermodalkan lima kapasitas yang ia miliki sebagai seorang pemimpin—kapasitas regulasi, kapasitas ekstraktif, kapasitas distributif, kapasitas responsif dan kapasitas jaringan—, dan lahir dari proses politik yang sehat, ia mampu masuk ke ranah warga dan mendapatkan legitimasi yang kuat melalui partisipasi masyarakat dalam membangun desanya sendiri (rasa untuk memiliki).

Referensi :

Covey, R. (2008). The8th Habit: Melampaui Efektifitas, Menggapai Keagungan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Marham, I (2017). Keutamaan Jokowi: Studi Pembangunan Nasional Dalam Perspektif Kesinambungan Pembangunan Nasional. Bekasi: Penjuru Ilmu.