Wahyudi Anggoro Hadi Pemimpin Authentik

Walaupun hanya beralaskan tikar dan dikelilingi oleh pkaet perlengkapan pasien Shelter, tapi tak mengurangi kenyenyakannya dalam menikmati istirahat siang di Shelter Tanggon. WAHYUDI ANGGORO HADI

Walaupun saya belum mengenal lebih dekat dengan Wahyudi Anggoro Hadi tetapi bagi pegiat desa, akademisi, praktisi, lembaga swadaya masyarakat, budayawan, seniman, kementerian desa, asosiasi pemerintah desa, badan usaha milik desa bersama Indonesia sudah cukup familiar dengan namanya.

Wahyudi Anggoro Hadi adalah sosok pemimpin yang otentik. Menurut William George dalam Rediscovering the Secret to Creating Lasting Value Leadership (2003), yang diperlukan jaman now: Pemimpin otentik, berintegritas tinggi, memiliki komitmen mengembangkan lembaga di mana beliau berada, memiliki tekad kuat dan mendalam guna mewujudkan lembaganya berguna, bukan lagi segelintir orang, melainkan masyarakat luas. Pemimpin otentik bersifat mandiri dan swakarsa. Ia merupakan sosok yang otonom, penuh prakarsa, kaya inisiatif, gagasan dan terobosan, man of ideas sekaligus man of action (Marham 2017:29).

Kehadiran Wahyudi melalui gagasan dan pemikirannya dapat mendobrak kesadaran masyarakat Kalurahan Panggungharjo, bahwa ke-desa-an adalah sebuah bangunan alam bawa sadar untuk mencintai sebuah rumah besar tempat ia lahir, hidup, tumbuh dan berkembang. Wahyudi yang akrab disapa dengan sebutan lurah telah menciptakan patokan baru (benchmark), dalam bahasa modern management. Jika menggunakan bahasa yang lebih tradisional sering disebut panutan, untuk bagaimana berpolitik, berkarya dan berbuat.

Saya tidak begitu mengenal lebih dalam sosok Wahyudi. Tetapi mendengar banyak cerita dan membaca banyak literatur tentang beliau, maka penulis mampu menguraikan beberapa legacy yang ditinggalkan kepada Kalurahan Panggungharjo —jika suatu saat ia tidak akan menjadi bagian dalam pemerintahan Kalurahan Panggungharjo— maupun untuk anak muda yang ingin membangun desanya kelak.

Hal yang menarik dalam kehidupan keluarga Wahyudi adalah ia terlahir dan berkembang dari keluarga yang sangat demokratis, yang membuat hidupnya mampu menemukan makna-makna hidup dan membebaskannya untuk menentukan pilihan hidup. Ibunya mengajarkan perspektif kemanusiaan, sedangkan Ayahnya mengajarkan perspektif demokrasi dan keterbukaan. Keluarganya mengajarkan kreativitas dan kemandirian. Masyarakat sekitar mengajarkan narasi perlawanan. (Wahyudi, 2018:14)

Posisi Wahyudi ketika memilih jalan hidup menjadi seorang pemimpin, sebuah refleksi mendalam bagi seluruh anak muda dalam berpikir jauh kedepan terhadap kemajuan dan perubahan sebuah desa. Ini hampir sama dengan jargon yang sering dikumandangkan oleh pasangan calon ketika kampanye dalam sebuah kontestasi pemilihan umum: Kalau bukan kita siapa lagi dan kalau bukan sekarang kapan lagi. Kisah Ahok dalam buku bertitel Ahok di Mata mereka, pernah didorong oleh Dr. Syahrir untuk terjun ke politik dengan pesan: advokasi dan mengkritik dari luar tidak cukup.

Jika ingin perubahan, kita harus peduli dan berani masuk ke dunia politik (jangan apolitis) agar bisa duduk dalam posisi yang bisa mendorong dan menjadi bagian dari perubahan. Tetapi ada catatan penting, terjun ke politik harus dengan politik akal sehat, yaitu yang jujur, bersih dan benar-benar memperjuangkan rakyat demi keadilan sosial, bukan untuk kekuasan atau memperkaya diri. Hal serupa jika dilihat dalam posisi Wahyudi tidak jauh berbeda. Wahyudi hadir betul-betul memerangi politik uang dan memperjuangkan kepentingan warga seluruh Kalurahan Panggungharjo.

Tidak gampang menjadi tokoh pembawa perubahan, apalagi di tingkat desa. Di tingkat desa serba salah. Terlalu keras salah, terlalu lembek pun salah. Berbeda di tingkat Kabupaten, Provinsi, bahkan tingkat Negara yang setiap pemimpin (pejabat), memiliki ajudan maupun pengawal. Jika di flashback ke belakang, ada banyak tokoh perubahan yang hidupnya berakhir dengan tragis. Misalnya: Abraham Lincoln yang menghapus perbudakan, mati ditembak. Seabad kemudian muncul Martin Luther King.

King berjuang menghapus rasisme. Ia pun mati di tembak. Kisahnya pun dialami oleh Munir yang mengumandangkan pentingnya HAM di negeri ini. Ia pun diracuni dalam sebuah pesawat yang membawanya terbang ke negeri Belanda. Basuki Tjahaja Purnama yang mengadministrasikan keadilan sosial bagi warga Ibu Kota, ia pun diseret dalam penjara karena dituduh menista agama.

Dan masih banyak tokoh lain seperti Gandhi, Nelson Mandela, dan lain sebagainya. Begitulah sikap umat manusia dalam sejarah perubahan. Ungkapan Rhenald Kasali benar adanya, semua orang menghendaki perubahan dan ingin dilayani dengan lebih baik. Ingin korupsinya hilang, ingin hidupnya membaik. Tetapi manakala perubahan itu menyangkut kepentingannya, mereka akan berkata lain.

Beberapa hal yang ditolaknya selama memimpin Kalurahan Panggungharjo Kapanewon Sewon Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, antara lain : menolak keras politik uang, menolak simbol-simbol negara (ASN), menentang intervensi supra desa terhadap desa, menentang perlakuan negara terhadap desa, mendobrak sistem birokrasi desa model dengan membuat kebijakan reformasi birokrasi desa dengan model baru setelah adanya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Kewenangan Desa yang diberikan oleh negara atas dasar amanat Undang-Undang dijadikan narasi perubahan desa, merubah arah hadap pembangunan desa yang semula untuk pemberdayaan warga desa menjadi pemberkuasaan warga desa menuju tiga kedaulatan desa yakni kedaulatan politik dan pemerintahan, kedaulatan ekonomi, dan kedaulatan data dan sistem informasi desa.

Melalui media informasi yang dimiliki desa, ia bergerak sebagai influencer perubahan desa dengan reformasi birokrasinya menjadikan desa bangkit dan berdaulat di desanya masing-masing serta berdiri sejajar dengan entitas negara yang lain. Serta bermimpi untuk mewujudkan Kalurahan Panggungharjo sebagai ibu bumi yang layak, patut dan bermartabat bagi semua warga bangsa. Dengan ajakan spektakulernya kepada semua warga bangsa agar jangan meninggalkan desa karena desa layak untuk diperjuangkan.

Karena desa memiliki tiga aset sumber daya yang tidak dimiliki oleh warga kota yaitu air bersih, udara bersih dan pangan sehat. Inilah mengapa ia memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada warga bangsa, seperti pemuda, mahasiswa, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, praktisi, seniman, budayawan, perempuan, penyandang disabilitas, dan stakeholder lainnya untuk bersama-sama membangun desa agar layak, patut dan bermartabat.

Satu lagi cita-cita untuk membangun ekosistem desa literasi. Karena dengan literasi desa maka pengetahuan dapat terdokumentasikan dengan baik dan rapi. Ibarat kata pepatah : ‘Harimau mati meninggalkan belang, Gajah mati meninggalkan gading’ . Salah satu yang sering saya dengar darinya : bahwa para leluhur kita mewariskan tanah yang luas, tetapi para leluhur tidak meninggalkan pengetahuan tentang praktik-praktik terbaiknya dalam mengelola tanah yang luas dalam rekam jejak berbentuk buku sebagai literasi.

Menurut nalar berfikirnya warisan yang memberikan manfaat bagi manusia adalah ketika kita bisa mewariskan banyak pengetahuan yang dapat dibukukan. Tidak heran bahwa melalui salah satu lembaga desa yang bernama Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) telah menelurkan 21 buku hasil Kongres Kebudayaan Desa tahun 2020, yang diselenggarakan YSID di masa pandemi Covid-19.

Dan baru-baru ini, ia berinisiatif mendirikan sebuah lembaga literasi desa yang rencananya akan diberi nama Panggungharjo Creative Library (disingkat PCL).

Referensi :

Marham, I (2017). Keutamaan Jokowi: Studi Pembangunan Nasional Dalam Perspektif Kesinambungan Pembangunan Nasional. Bekasi: Penjuru Ilmu.

Wahyudi, A. (2018). Jangan Tinggalkan Desa. Yogyakarta: Elfira Publishing.