Ajaran Ki Hajar Dewantara, Neng, Ning, Nung, dan Nang

Ki Hajar Dewantara. PIXABAY.COM

Ki Hajar Dewantara lahir di Pakualaman Yogyakarta, 2 Mei 1989, dengan nama lengkap Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Dirinya berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Soewardi kecil cukup beruntung, berkesempatan menempuh pendidikan bersama dengan anak-anak bangsa Eropa di Sekolah Dasar Belanda Europeesche Lagere School (ELS).

Kemudian dirinya melanjutkan pendidikan ke STOVIA. Namun dirinya tidak bisa menamatkan pendidikan dokternya dikarenakan sakit. Saat usianya 40 tahun, Soewardi mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara dan tidak lagi menggunakan gelar bangsawannya. Hal ini dilakukan agar bebas bersosialisasi dengan kalangan rakyat biasa (Kompas.com).

Kiprah Ki Hajar Dewantara

Menurut laman kompas.com, Ki Hajar Dewantara pernah bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, antara lain : Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, Poesara. Dia menjadi salah satu penulis andal. Tulisannya sangat komunikatif, tajam, dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat anti penjajahan.

Pada tanggal 25 Desember 1912 mendirikan Indische Partij (IP) bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo. Namun IP ditolak oleh Belanda dan menggantinya dengan mendirikan Komite Bumiputera pada tahun 1913. Komite tersebut bertujuan untuk melancarkan kritik terhadap pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Perancis dengan menarik pajak dari rakyat kecil.

Ki Hajar Dewantara mengkritik tindakan perayaan tersebut melalui tulisan yang berjudul ‘Als Ik Eens Nederlander Was’ (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan ‘Een voor Allen maar Ook Allen voor Een’ (Satu untuk semua, tetapi Semua untuk satu juga). Akibat tulisan tersebut Ki Hajar Dewantara ditangkap Pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1918, Ki Hajar Dewantara kembali ke Indonesia setelah menjalani hukuman selama pembuangan.

Sekembalinya ke tanah air, Ki Hajar Dewantara bertekad untuk membebaskan rakyat Indonesia dari kebodohan untuk mewujudkan Indonesia merdeka. Pada tanggal 3 Juli 1922, mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa (National Onderwijs Institut Taman Siswa). Perguruan ini bertujuan menanamkan rasa kebangsaan mencintai tanah air untuk berjuang memperoleh kemerdekaan.

Menurut penuturan Ki Priyo Mustika, salah satu pengurus Perkumpulan Keluarga Besar Taman Siswa (PKBTS) yang disiarkan channel youtube JITV, ada 4 Ajaran Ki Hajar Dewantara atau biasa disebut dengan ajaran Taman Siswa, yaitu: Pertama, NENG. NENG berasal dari kata MENENG.yang berarti diam. Diam dalam artian fisik, tidak bergerak ( tetap di tempat) atau tidak berbuat (berusaha).

Kedua, NING. NING berasal dari kata WENING, yang berarti jernih. Walaupun dalam kondisi diam tetapi pikiran tetap jernih. Ketiga, NUNG. NUNG berasal dari kata HANUNG, yang berarti kuat/teguh. Pendirian kita harus teguh (kuat). Keempat, NANG. NANG berasal dari kata MENANG. Dengan diam-diam, tetapi pikiran tetap jernih dan pendirian yang teguh, akhirnya kita dapat memperoleh kemenangan.

Ajaran Ki Hajar Dewantara ( disebut juga dengan ajaran Taman Siswa). Ajaran NENG, NING, NUNG dan NANG dijalankan oleh Ki Hajar Dewantara selama 8 tahun untuk menghadapi pemerintah kolonial Hindia Belanda. Ki Hajar Dewan melawan penjajahan Belanda dengan pendidikan dan pengajaran dengan ciri khas kebudayaan.

Wejangan Ki Hajar Dewantara kepada semua anggota PKBTS yang merupakan pagarnya Taman Siswa, adalah Harmonisasi antara sistem pendidikan dan pengajaran. Pendidikan (Makro Education) adalah menanamkan nilai-nilai karakter, budi pekerti luhur. Sedangkan Pengajaran (Micro Education) adalah menanam kecerdasan , intelektualisme dan lebih ke teknis pendidikan.

Kritik Ki Hajar terhadap sistem pendidikan adalah kita jangan sampai terbuai pada kegiatan-kegiatan pengajaran. Masih menurut Ki Priyo, meminjam istilahnya Cak Nun bahwa Ki Hajar Dewantara merupakan koki Indonesia, tetapi sayangnya masyarakat Indonesia belum sempat mencicipi menu Ki Hajar Dewantara, malah masyarakat Indonesia sudah mencicipi menu dari barat.

Ajaran Ki Hajar Dewantara lainnya, yang merupakan hal penting dalam dunia pendidikan yang sampai saat ini masih dilestarikan, yaitu Ing ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani. Artinya jika di depan (sebagai pemimpin) harus memberi teladan, jika di tengah memberi bimbingan, dan jika di belakang memberi dorongan.

Tulisan ini sudah pernah dipublish di media online nyoret.com tanggal 03/02/2022 dengan judul yang sama dan beberapa kalimat yang disunting.

Add Comment