Autokritik Gus Dur, PMII Harus Merefleksi Diri

Gus Dur. NAHDLATUL ULAMA

Autokritik ‘Gus Dur’ seharusnya menjadi refleksi untuk di era pembangunan neoliberal ini. Kader-kader PMII perlu membaca bagaimana permasalahan pembangunan yang terus berlangsung hari ini.

Apakah pembangunan yang kita hadapi hari ini sejalan dengan nilai-nilai keindonesiaan yang heterogen ataukah justru menjadi instrumen modernisasi homogen yang justru merusak tatanan nilai keragaman bangsa kita.

Jika pembangunan hari ini justru membawa bangsa kita pada keranjang sampah persoalan harus ada. Upaya untuk merumuskan corak berfikir pembangunan alternatif di tengah kegagalan proyek pembangunan yang justru memporak-porandakan tradisi sosial, kemanusiaan dan keragaman kita ini. Autokritik Gus Dur harus menjadi refleksi untuk kita bahwa di era pembangunan neoliberal ini, kader-kader PMII perlu membaca bagaimana permasalahan pembangunan kita yang terus berlangsung hari ini.

Ada lima pemikiran Gus Dur yang bisa menjadi bahan refleksi. Pertama, Gus Dur menginginkan agar Indonesia menjadi negara majemuk yang rukun. Kedua, ia sangat gigih menghilangkan diskriminasi dengan berbagai cara.

Ketiga, Gus Dur mengharapkan peran masyarakat yang partisipatif dan mengurangi peran negara yang dominan. Saat ini, Indonesia memang sudah tidak lagi berada dalam sistem otoriter, sayangnya masih terdapat pola pikir otoriter dalam masyarakat. Untuk itu, perlu terus mendorong masyarakat yang partisipatif.

Keempat, negara tidak boleh mengontrol pikiran rakyatnya. Bagi masyarakat yang sudah matang dan aktif menggunakan haknya, negara memberikan ruang kepada mereka karena masyarakat sudah matang. Dalam masyarakat yang telah matang, warga negara menyadari batas-batas kebebasannya. Kendati demikian, pada masa transisi, selalu ada ekses dalam mengekspresikan kebebasannya. Kelima, Gus Dur menginginkan hubungan sipil dan militer yang sehat.

Perlu usaha serius dari kader-kader PMII untuk membuktikan, bahwa para kader pmii tidak menutup mata terhadap persoalan di hadapan kita. Kader PMII tidak gagap membaca dinamika sosial dan permasalahan yang mengitarinya. PMII pun bisa merumuskan gagasan sesuai harapan ‘Gus Dur’

Tentu dengan gagasan yang terprogram dalam agenda gerakan PMII, bukan sebatas gagasan-gagasan ide yang mengawang-ngawang yang melayang-layang di langit dan tak bisa dibumikan. Pembuktiannya, bisa dimulai dari membuka ruang diskusi tentang teori sosial secara umum dan gagasan para pendahulu yang dikomunikasikan dengan kondisi kekinian atau literasi sejarah yang dikisahkan oleh para ulama dan kaum intelektual Nahdliyin.

Pembacaan analisa sosial (ansos) juga penting untuk mengawalinya. Ada banyak kisah-kisah dan gagasan yang sudah dituangkan oleh para ulama dan pendahulu. Tinggal bagaimana menjaganya dan menghidupkannya kedalam ruang-ruang keilmuan yang lebih masif lagi.

Kader-kader PMII terbuka terhadap forum dialektika dengan berbagai komponen gerakan. Ini dilakukan untuk memahami kompleksitas persoalan berbagai sudut pandang, bersentuhan dengan berbagai gagasan yang beragam dan nyata.