Bias Gender dalam Sinetron Dunia Terbalik

Kesetaraan gender. PIXABAY.COM

Febri, seorang perempuan muda yang memiliki pemikiran revolusioner berjuang bersama perempuan muda lainnya dengan gagah berani melawan kebijakan pemimpin besar Ciraos, yaitu Ustadz Al Kemed yang tamatan Kairo dan pernah belajar ilmu filsafat di Yunani dalam Sidang Mahkamah Warga Ciraos waktu itu. Mereka memprotes tradisi warga Ciraos yang sudah berjalan bertahun-tahun lamanya. Tradisi perempuan Ciraos yang sudah berkeluarga pergi keluar negeri sebagai TKI dan dianggap pahlawan devisa bagi kampung Ciraos tercinta, dibantah orang Febri dan teman-temannya.

Pada waktu itu dan sampai saat ini, kaum ibu-ibu Ciraos dengan terpaksa meninggalkan anak-anak mereka ke luar negeri dan membiarkan anak-anaknya dirawat, diasuh dan dididik oleh suami-suami mereka. Menurut pandangan Febri, hal tersebut menjadi terbalik seharusnya kewajiban bapak untuk menafkahi istri dan anak-anaknya mengapa malah sebaliknya menjadi kewajiban seorang ibu. Seorang bapaklah yang seharusnya pergi keluar negeri mengais rezeki demi menafkahi istri dan anak-anaknya.

Febri, yang mendapat dukungan dari Mak Eros, salah satu tokoh perempuan yang berpengaruh di Ciraos semakin mantap mengutarakan pandangannya dalam Sidang Mahkamah Warga Ciraos di hadapan peserta sidang yang tentu saja memicu pro dan kontra. Bahkan menurut sebagian perempuan warga Ciraos yang menjunjung tinggi tradisi Ciraos, Febri dianggap anak yang tidak mau berterima kasih kepada kedua orang tuanya yang sudah membesarkannya, dan sampai menganggapnya ia licik. Semakin menariknya lagi ketika Akum beradu argumentasi dan berbeda pandangan dengan Febri, anaknya.

***

Cerita tersebut tentu saja hanya terjadi dalam sebuah sinetron Dunia Terbalik. Tetapi menarik untuk dikaji lebih mendalam lagi terkait persoalan tradisi turun-temurun yang sudah begitu melekatnya seakan menjadi sebuah mitos apabila tradisi itu tidak dijalankan oleh perempuan Ciraos yang sudah menikah. Misalnya perempuan tersebut akan mengalami hal-hal buruk yang tidak diinginkan jika tidak menjalankan tradisi Ciraos yang sudah berjalan secara turun-temurun tersebut.

Kritik sosial semacam ini adalah cerminan kegelisahan yang melanda semua perempuan warga Ciraos, dan puncaknya adalah ketika ada seorang perempuan muda pemberani yang sebetulnya dalam hati kecil para perempuan Ciraos merasa senasib sepenanggungan. Dan kalau boleh jujur, bagi Ustadz Al Kemed sendiri menjadi pemimpin Ciraos dengan menjalankan tradisi warga Ciraos bukanlah hal yang mudah karena harus menjalankan tradisi para leluhurnya yang sedikit bertentangan dengan profesinya yang sebagai seorang ustadz.

***

Belum lagi, problematika yang dialami oleh perempuan Ciraos yang menjadi TKI di luar negeri seperti meninggal dunia di sana, bisa jadi mengalami pelecehan seksual oleh para majikannya. Ditambah persoalan internal keluarga, misalnya para suami selingkuh dengan wanita lain ketika ditinggal istrinya ke luar negeri.

Bagi laki-laki yang menjalani tradisi warga Ciraos pun bukan menjadi pilihannya terbaiknya dan bukan perkara yang mudah untuk menjalaninya. Di rumah saja, merawat, mendidik, dan membesarkan anak-anaknya sambil menunggu datangnya transferan uang dari istri dari luar negeri. Bagaimana kalau istrinya telat mengirimkan uang, bagaimana jika istrinya sudah kirim uang tetapi ternyata istrinya salah kirim ke nomor rekening orang lain dan sebagainya adalah hal teknis lain ketika lelaki menggantikan peran para istri.

***

Dari potongan-potongan cerita sinetron Dunia Terbalik tersebut, menurut saya ada beberapa hal penting untuk dikaji terkait pola bangunan dalam sebuah keluarga. Pertama, terkait dengan pemahaman keluarga (parenting) menurut Islam. Bahwa dalam Islam yang berkewajiban mencari nafkah adalah suami bukan istri, adapun dalam konteks istri dengan ridha akan membantu keuangan suami sah-sah saja sepanjang tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri. Kedua, terkait pemahaman soal tradisi, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran agama dan masih sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat boleh-boleh saja dengan catatan tetap mengedepankan toleransi , persatuan dan kesatuan warga serta demi kepentingan bersama.

Ketiga, terkait pemahaman tentang sensitivitas (bias) gender dalam arti yang luas dalam konteks inklusivitas gender. Kesetaraan gender, juga dimaknai secara universal artinya tidak hanya melihat dari perspektif perempuan saja tetapi dari perspektif lelaki juga. Seperti apa yang kita tonton dalam sinetron Dunia Terbalik. Keempat, terkait pemahaman tentang pemimpin. Bahwa pemimpin harus mendengarkan aspirasi semua warganya dalam hal apapun seturut aturan yang bersumber pada hukum negara, hukum agama dan norma hukum yang berlaku di masyarakat.

***

Sekali lagi, yang menjadi korbannya adalah anak-anaknya. Anak kurang sentuhan kasih sayang dari ibunya. Karena praktis mereka hanya ketemu dengan ibunya ketika habis masa kontraknya dan berkesempatan pulang ke rumah masing-masing. Bagaimana dengan apa yang dialami Cindy dan Claudia, yang ditinggal mati oleh ibunya ketika masih di luar negeri.

Adalah wajar ketika akhirnya Febri dan Debby, setelah ibunya pulang ke kampung Ciraos dan tidak kembali lagi, hubungan mereka dengan bapak-bapaknya, Akum dan Dadang. Seolah-olah Akum dan Dadang lah yang memisahkan mereka dari ibunya, Esih dan Ikoh. Hingga akhirnya, terjadilah riak-riak dalam hubungan keluarga.

***

Gambaran sosial ini kalau kita panjang lebarkan lagi dalam kisah-kisah nyata yang dialami oleh banyak warga di kampung seperti yang terjadi di kampung saya, walaupun konteksnya berbeda bukan terkait tradisi turun temurun. Sejauh yang saya amati sebagian besar keluarga di kampung saya, yang berjibaku mencari uang dalam keluarga adalah para istri. Sementara para suami dalam keluarga tidak jelas pekerjaan apa, dapat menghasilkan uang atau tidak. Sementara kebutuhan keluarganya semua yang mencukupi adalah para istri, untuk menyekolahkan anak-anaknya, bayar listrik, beli pulsa hp, makan sehari-harinya, beli baju anak-anaknya dan kebutuhan-kebutuhan lainnya..

Sejauh yang saya amati sebagian besar keluarga di kampung saya, yang berjibaku mencari uang dalam keluarga adalah para istri. Sementara para suami dalam keluarga tidak jelas pekerjaan apa, dapat menghasilkan uang atau tidak. Sementara kebutuhan keluarganya semua yang mencukupi adalah para istri, untuk menyekolahkan anak-anaknya, bayar listrik, beli pulsa hp, makan sehari-harinya, beli baju anak-anaknya dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Sementara saya melihat dengan mata kepala, para suami-suami mereka ada yang hobinya memancing ikan, ada yang kerja serabutan sehari kerja selanjutnya nganggur di rumah beberapa hari kerja lagi besoknya nganggur lagi, ada yang tiap hari cuma kasih makan kambing saja dan lain sebagainya. Termasuk saya sendiri, menjadi penulis yang belum pasti tayang di media online seperti detik.com. Untungnya istri saya berprofesi guru tetap di sebuah yayasan swasta di Kabupaten Sleman.

Tulisan ini, sudah pernah dipublish di media online kumparan.com pada tanggal 25/09/2021 dengan judul yang sama dan telah mengalami penyuntingan pada beberapa kalimat.