Bijaksana dalam Memotret Tindakan Klitih

Pedang dan Tutup Kepala. PEXELS.COM

Berbicara tentang Yogyakarta, tidak lengkap kiranya kalau belum membincangkan terkait klitih. Fenomena klitih di Yogyakarta, baru-baru ini sempat jadi trending topik dan viral di media sosial. Bahkan warganet sempat meramaikan dalam kolom tweet, dengan dua tagar #Yogya tidak aman# dan #SriSultanYogyaDaruratKlitih#. Berawal dari cerita seorang netizen yang menjadi korban klitih di Underpas Kentungan, Depok, Sleman, Yogyakarta. Hal ini pulalah yang membuat saya, tertarik untuk menulis artikel ini, tetapi dari perspektif yang positif tentu saja, sesuai dengan value dari Jogjadaily.com.

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki empat kabupaten dan satu kotamadya dengan slogan yang berbeda-beda pula. Pertama,Kabupaten Bantul dengan Projo Taman Sarinya. Produktif-Profesional, Ijo Royo-royo, Tertib, Aman, Sehat, dan Asri. Kedua, Kabupaten Sleman dengan Sembadanya. Sehat, Elok dan Edi, Makmur dan Merata, Bersih dan Berbudaya, Aman dan Adil, Damai dan Dinamis, serta Agamis. Kota Yogyakarta dengan Berhati Nyaman. Bersih, Sehat, Asri dan Nyaman.

Kabupaten Gunungkidul dengan Handayaninya. Hijau, Aman, Normatif, Dinamis, Yakin, Asah Asih Asuh, Nilai Tambah, dan Indah. Kabupaten Kulon Progo dengan Binangunnya. Beriman, Indah, Nuhoni, Aman, Nalar, Guyub, Ulet, dan Nyaman. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Jogja Istimewanya. Ada empat kata aman dalam slogan empat kabupaten dan satu kata nyaman dalam slogan kotamadya. Hal ini sangat berbanding terbalik realita saat ini, dengan viralnya hastag klitih.

Semula klitih bermakna kegiatan mengisi waktu luang. Sebenarnya kata ini bermakna positif, yaitu melakukan berbagai kegiatan yang mengarah pada hal-hal positif. Namun makna tersebut mengalami pergeseran. Para remaja mengadopsi istilah klitih menjadi sebagai kegiatan mencari musuh. Pelaku klitih rata-rata remaja yang sedang mencari jati dirinya, pada lingkungan yang salah dan dengan cara yang salah pula. Tak terkecuali, para remaja yang ada di Yogyakarta.

Yang tentu saja, sangat berbanding terbalik dengan beberapa predikat baik yang telah dicapai Yogyakarta selama ini, seperti sebagai kota budaya, kota pelajar, kota pariwisata dan predikat kota baik lainnya. Saya yakin viralnya dua tagar tersebut, sangat mengusik para penghuni bumi Mataram, sebagai warisan dari Raja Danang Sutawijaya atau yang lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Senopati.

Bumi Mataram, yang memiliki bumi projotamansari, bumi sembada, bumi handayani, bumi binangun dan bumi berhati nyaman, semuanya ikut tersentil dengan viralnya dua tagar klitih tersebut. Oleh karena itu, persoalan klitih sudah semestinya menjadi prioritas program dari semua pemerintah kalurahan, pemerintah kapanewon, pemerintah kabupaten, pemerintah kotamadya dan pemerintah provinsi untuk cancut tali wanda, berpegangan tangan bersama, bekerja sama dengan melibatkan semua stake holder yang ada (tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, karang taruna, linmas, babinkamtibmas, babinsa, seniman, budayawan, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, sosiolog, dan lain sebagainya) untuk mencari solusi bersama dalam mengatasi fenomena klitih tersebut.

Pihak Pemerintah desa, seyogyanya segera melakukan upaya preemtif (langkah awal mengubah mindset masyarakat, mengajak, dan memberikan pemahaman untuk mencegah tindak pidana kejahatan klitih dengan menekankan pada moral) melalui kegiatan penyuluhan dan pendekatan kepada masyarakat.

Pihak Kepolisian seyogyanya segera melakukan upaya preventif (mencegah terjadinya perbuatan pertama kali) yaitu dengan melakukan pemasangan CCTV di jalan-jalan yang rawan klitih, melakukan patroli rutin dan terpadu, dan upaya represif (upaya penanggulangan kejahatan setelah terjadi kejahatan) dengan melakukan penangkapan pelaku kemudian dilakukan penyelidikan.

Peran Polri dan TNI, sebagai dua institusi yang bertanggung jawab langsung terhadap penanggulangan perbuatan klitih di wilayah hukum Daerah Istimewa Yogyakarta sangat dibutuhkan kehadirannya, agar tindak perbuatan kiltih ini tidak semakin meningkat.

Peran orang tua, sebagai orang yang paling dekat secara nasab dengan anak-anaknya, yang sudah mulai menginjak remaja agar lebih memperhatikan pergaulan anaknya, dengan siapa anaknya bergaul, dan memastikan bahwa teman pergaulannya adalah teman-teman yang baik. Jelas lingkungan pergaulannya dan jelas pula kegiatan yang dilakukannya.

Sebagai penulis jurnalisme positif, maka sudah sepatutnya untuk menuliskan ide-ide positifnya agar menciptakan situasi dan kondisi yang berimbang, sesuai dengan fakta yang ada di lapangan, jangan memprovokasi pembaca dengan tulisan-tulisan yang negatif maupun yang cenderung provokatif. Apalagi malah menambah-nambahi dengan menyuguhkan informasi yang mengandung unsur hoax, dan informasi yang menyudutkan pihak Kepolisian Republik Indonesia sebagai pihak yang berwenang terkait ketertiban dan keamanan warga negara.

Bagaimana mensikapi secara bijaksana tindakan klitih di wilayah hukum Daerah Istimewa Yogyakarta dengan perspektif positif? Dan bagaimana reaksi terbaik dari kita sebagai warga desa yang baik dalam mensikapi viralnya dua tagar tentang tindakan kilitih di Yogyakarta?

Menurut saya, jawabannya tentu saja tidak akan bisa dilakukan seacara sendiri-sendiri. Tetapi harus dilakukan secara berjamaah oleh semua stake holder di wilayah hukum Daerah Istimewa Yogyakarta. Justru saat inilah, momen yang tepat untuk membuktikan kepada semua warga bangsa yang mau belajar, yang mau berwisata, yang mau menemu kenali kebudayaan yang bersumber dari Kerajaan Mataraman Islam yang telah didirikan oleh Raja Danang Sutowijoyo alias Panembahan Senopati, di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta agar dapat menepis semua kekahwatiran warga bangsa ketika berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta.

Marilah kita buktikan bahwa Kota Yogyakarta berhati nyaman bagi siapa saja. Kabupaten Sleman tetap sembada apa adanya tanpa rekayasa. Kabupaten Bantul selalu menjadi ibu bumi yang memiliki projo tamansari. Kabupaten Gunungkidul handayani yang mitayani. Kabupaten Kulon Progo binangun yang wangun. Dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang luar biasa istimewanya.

Ayom, ayem, tentrem sebagaimana diksi pada acara Pangkur Jenglengnya TVRI Yogyakarta, sangat ikonik sekali dengan situasi dan kondisi Yogyakarta, saat pertama kali saya menonton acara ini, entah tahun berapa tepatnya waktu saya lupa.

Aman dalam Projo Taman Sarinya Kabupaten Bantul. Aman dalam Sembadanya Kabupaten Sleman. Aman dalam Handayaninya Kabupaten Gunungkidul. Aman dalam Binangunnya Kulon Progo. Dan Nyaman dalam Berhati Nyamannya Kota Yogyakarta. Janganlah dicerabut dalam akar persatuan diksi-diksi, kalimat-kalimat slogan empat kabupaten dan satu kotamadya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah lama sekali melekat satu sama lainnya, dan akhirnya menjadi keistimewan Yogyakarta.

Klitih sebagai pelampiasan remaja dalam mencari jati dirinya yang salah arah dan salah caranya, perlu menjadi perhatian kita bersama. Jangan sampai perilaku para remaja yang ngawur dan salah sasaran ini, dapat mengalahkan rasa aman dan rasa nyaman yang sudah lama dibangun dan dibentuk oleh para umara dan para ulama di wilayah Yogyakarta.

Jangan sampai rasa aman pada diksi Projo Taman Sari hilang kata amannya sehingga menjadi Projo TSari. Jangan sampai rasa aman pada diksi Sembada hilang kata amannya sehingga menjadi Sembda. Jangan sampai rasa aman pada diksi Handayani hilang sehingga menjadi Hndayani. Jangan sampai rasa aman pada diksi Binangun hilang sehingga menjadi Binngun. Jangan sampai rasa nyaman pada diksi Yogya Berhati Nyaman hilang sehingga menjadi Yogya Berhati. Dari diksi-diksi baru tersebut tidak dapat terbaca dengan jelas dan diksi tersebut menjadi kurang enak dibaca.

Demikian pula diperlukan effort yang luar biasa untuk mempertahankan predikat Yogyakarta sebagai kota budaya, kota pariwisata dan kota pelajar. Salah satu syarat dan ketentuan agar predikat-predikat tersebut melekat kembali pada Yogyakarta adalah dengan mengembalikan rasa aman dan rasa nyaman bagi semua warga bangsa yang akan berkunjung ke Yogyakarta dalam rangka melanjutkan studi, menikmati suasana keindahan budaya dan pariwisata yang ditawarkan oleh Yogyakarta.

Klitih harus lenyap dari Bumi Mataram ini, secepat mungkin. Klitih, ibarat butiran debu yang hanya mampir sebentar di muka kita dan hilang seketika kita ambil air wudhu untuk mengerjakan shalat fardhu. Sudah waktunya semua stake holder yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, bergerak cepat untuk mengatasi persoalan tentang klitih yang meresahkan warga Yogyakarta. Dan bijaksanalah dalam memotret tindakan klitih tersebut. Jadilah warga Yogyakarta yang bijaksana dalam bertindak, jangan asal ikut-ikutan dua tagar tentang klitih.

Melalui tulisan ini pula, saya mengajak untuk semua warga Yogyakarta pembaca media online Jogjadaily.com untuk berperan aktif dalam mengkampanyekan Yogyakarta yang aman dan nyaman bagi semua warga bangsa. Saya yakin kepada para pemimpin Yogyakarta, para jajaran Kepolisian Republik Indonesia (Polri), para Tentara Nasional Indonesia (TNI), di wilayah hukum Daerah Istimewa Yogyakarta dapat menangani soal remaja klitih ini dengan sebaik-baiknya dan dalam tempo yang secepat-cepatnya.