Catatan Alumni PMII Nonmilitan

Logo PMII dan Bendera NU. NAHDLATUL ULAMA

1994 adalah tahun pertama saya mengenal sebuah organisasi mahasiswa islam di bawah bendera Nahdlatul Ulama (NU), bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Didirikan pada 17 April 1960, Mahbub Junaidi terpilih sebagai ketua Pengurus Besar (PB) PMII pertama.

Sebagai salah satu organisasi otonom NU, PMII merupakan organisasi ‘paling galak’ dan ‘paling mobile’. Apabila melihat kembali ke belakang, tujuan didirikannya PMII adalah untuk memperkuat partai NU dengan mayoritas programnya berorientasi pada politik.

Saya punya banyak cerita sebagai alumni PMII, persisnya pada tanggal 11 sampai 19 Oktober 1994. Itu adalah saat pertama kali saya mengikuti Latihan Kader Dasar (LKD) PMII yang diadakan oleh Rayon Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang sekarang menjadi UIN Sunan Kalijaga. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kapanewon Wedomartani, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Saat itu, saya masih berdomisili di Pondok Pesantren Ali Maksum, Kalurahan Krapyak. Beberapa teman kompleks H atau kompleks sunan menjadi panitia dan sebagian lagi menjadi peserta. Tidak hanya dari UIN Sunan Kalijaga, namun peserta juga datang dari berbagai perguruan tinggi lain. Termasuk saya yang waktu itu masih menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Yogyakarta (UTY).

Pada saat mengikuti LKD, sebagai mahasiswa yang berasal dari luar Fakultas Ushuluddin, saya agak minder. Mengapa? Saya merasa sebagai anggota minoritas karena berasal dari luar IAIN dan mungkin satu-satunya mahasiswa UTY yang pernah mengikuti LKD PMII. Setahu saya, teman-teman saya di kampus berbeda afiliasi dengan saya. Mayoritas dari mereka adalah kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Beruntungnya, saya berkenalan dengan satu orang teman perempuan berkacamata, sebut saja namanya Rara. Rara adalah teman yang mengajak saya ngobrol, sharing tentang kehidupan dan tentang apa saja di sela-sela berlangsungnya agenda LKD PMII tersebut. Saya kurang begitu pandai dalam menjalin hubungan dengan cewek, sehingga tidak sempat mengenal Rara lebih dekat. Padahal, pernah suatu malam kami berdua ngobrol ngalor-ngidul yang tidak ada ujungnya. Tahu-tahu waktu sudah menjelang subuh. Kami sadar waktu sudah menjelang subuh pun karena mendapat teguran dari teman-teman panitia.

Pengalaman selanjutnya, ketika saya mendapatkan undangan dari teman satu komplek H, sesama anggota PMII. Undangan tersebut merupakan ajakan untuk demo di kampus UIN Sunan Kalijaga menanggapi kebijakan pemerintah terkait kenaikan BBM. Tetapi, karena kesibukan kuliah di kampus UTY, saya tidak dapat mengikuti acara yang diadakan oleh teman-teman sepergerakan.

Bagi orang awam seperti saya dan orang-orang di luar organisasi PMII yang tidak mengenal PMII, PMII lekat dengan stigma negatif sebagai organisasi mahasiswa yang suka demonstrasi. Padahal, sebenarnya PMII punya bargaining position yang menjadi nilai lebih dan tidak dimiliki oleh organisasi mahasiswa lainnya. Pertama, memiliki jalan berfikir ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) atau berpedoman pada sunah Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya sebagai ikatan kultural ideologi NU yang tertanam pada setiap kader PMII.

Kedua, memiliki Nilai Dasar Pergerakan (NDP), yakni tauhid, hubungan dengan Tuhan, hubungan manusia, hubungan dengan alam, dan hubungan dengan ilmu. Ketiga, memiliki paradigma kritis-transformatif paradigma, sebagai cara pandang kader PMII demi untuk melakukan perubahan yang lebih baik demi bangsa dan negara Indonesia tercinta.

Sebagai alumni PMII, pergerakan apa yang sudah kita perbuat untuk PMII, untuk NU, untuk bangsa, dan negara Indonesia?

Hubungan NU dan PMII

Sekitar tahun 1970-an, ketika rezim Orba mulai mengerdilkan fungsi partai politik, penyederhanaan partai politik secara kuantitas dan adanya isu back to campus dan organisasi-organisasi profesi kepemudaan mulai diperkenalkan melalui Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) atau Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) maka PMII menuntut adanya pemikiran realistis, salah satunya adalah suara untuk independen terhadap NU.

Tetapi setelah diadakannya muktamar NU di Situbondo pada tahun 1984, yang menghasilkan komitmen NU untuk kembali ke khittah atau garis besar perjuangan untuk tidak aktif pada politik praktis maka ada dua pertanyaan yang muncul, apakah PMII akan kembali bergabung dengan NU atau tetap independen terhadap NU?

Pertanyaan di atas terjawab ketika PMII kembali menegaskan komitmennya dari independensi menjadi interdependensi terhadap NU. Bahwa, secara struktural kelembagaan PMII tidak terikat terhadap NU. Tetapi secara kultural dan teologis, pola relasi NU dan PMII tidak dapat dipisahkan.

Keterpisahan NU dan PMII pada perkembangan terakhir ini tampak dari perspektif organisatoris formal saja. Nyatanya, secara moral berdasarkan latar belakang historis ideologis sosio-ekonomi dan sosio-politik tidak dapat dipisahkan, karena NU dan PMII saling berkelindan satu sama lainnya.

Perspektif Lain PMII

Ada satu cerita lagi tentang PMII dari perspektif yang berbeda, salah satunya dari sejarah perjalanan Korps Dakwah Mahasiswa (Kodama) Yogyakarta. Embrio lahirnya Kodama, dilatarbelakangi kegelisahan beberapa santri pondok pesantren yang juga merupakan aktivis organisasi PMII Rayon Krapyak Yogyakarta. Setelah mendapat lampu hijau dari allahu yarham Ali Maksum, para santri mahasiswa berinisiatif membentuk Korps Dakwah Mahasiswa pada tahun 1968.

Perspektif ini penting saya tuliskan agar memberi warna berbeda dalam membaca pergerakan PMII dari masa ke masa. Ternyata PMII tidak hanya suka demo tok. Buktinya, aktivis PMII Rayon Krapyak gegana (gelisah, gundah, dan merana) karena memiliki ilmu, tapi tidak mengamalkan keilmuannya kepada masyarakat di pelosok-pelosok kampung.

Korps Dakwah Mahasiswa menjadi wadah bagi santri mahasiswa untuk mengamalkan ilmu yang dimiliki dengan cara terjun langsung ke objek-objek binaan Kodama. Sesuai dengan pelajaran yang diberikan oleh allahu yarham Ali Maksum kepada para santri mahasiswa bahwa tanpa adanya sentuhan dakwah langsung dari santri mahasiswa ke pelosok-pelosok kampung dan tanpa adanya kaderisasi dai Kodama maka dalam kurun waktu 10 sampai 15 tahun mendatang, Islam akan hilang atau segala ritual keagamaan akan terkikis habis di tempat itu.

Saya adalah alumni PMII tahun 1994 sampai 1995, yang bisa diibaratkan sebagai butiran debu tertiup angin. Maksudnya, saya alumni yang belum banyak berkontribusi untuk NU, PMII, bangsa, dan negara. Meski begitu, saya merasa senang pernah menjadi aktivis Kodama yang pernah merasakan atmosfer PMII dalam tubuh Kodama dengan format dakwah langsung ke masyarakat, ke kampung-kampung.

Saat menjadi aktivis Kodama, saya beruntung karena memiliki motor. Berbeda dengan para founding father Kodama yang waktu itu yang hanya punya sepeda. Para founding father harus bersepeda dari pondok pesantren Krapyak menuju pemukiman warga binaan Kodama yang mencakup empat kelurahan di wilayah Kapanewon Sewon, mulai dari Panggungharjo, Bangunharjo, Pendowoharjo, dan Timbulharjo.

Dari perjalanan dakwah terjun langsung ke masyarakat melalui Kodama inilah, saya bertemu dengan istri saya di pengajian yang berada di Kalurahan Panggungharjo. Alhamdulillah, sampai sekarang saya menetap dan hidup berumah tangga di kampung asal istri saya tersebut.

Saat ini, saya mendapat amanah untuk menjadi Kaum Rais (Imamuddin) atau orang di kampung saya menyebutnya Mbah Kaum. Sampai sekarang, saya masih melakukan dakwah secara langsung kepada semua warga di kampung asal istri saya.

Menjadi alumni anggota PMII, yang seperti butiran debu tertiup angin bukan masalah bagi saya. Bagi saya, yang lebih penting adalah darah pergerakan saya masih mengalir melalui urat-urat nadi saya hingga saat ini.

Apa yang bisa kita sumbangkan untuk NU, bangsa dan negara tercinta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)? Siapa kita? NU. NKRI? Harga mati. Pancasila? Jaya.