Cerita Budaya Desaku

Budaya Gotong Royong Saat Hajatan. UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Indonesia memiliki 34 provinsi dengan bahasa, budaya, adat istiadat, dan suku yang berbeda-beda. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencatat pada tahun 2020, karya budaya yang telah ditetapkan menjadi warisan budaya takbenda Indonesia sejumlah 1.239.

Dikutip dari Gerakan Literasi Nasional (GLN) Kemendikbud, warisan budaya adalah keseluruhan peninggalan kebudayaan yang memiliki nilai penting sejarah, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni. Warisan budaya takbenda bersifat tak dapat dipegang atau abstrak, seperti konsep dan teknologi. Sifatnya dapat berlalu dan hilang dalam waktu seiring perkembangan zaman, seperti bahasa, musik, tari, upacara, serta berbagai perilaku terstruktur lain.

Berdasarkan berbagai provinsi di Indonesia, provinsi dengan jumlah warisan budaya takbenda paling banyak sampai dengan tahun 2020 adalah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni sejumlah 104 warisan budaya. Adapun, Provinsi Kalimantan Tengah memiliki warisan budaya takbenda paling sedikit dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia, yakni sejumlah 7 warisan budaya takbenda.

Sekarang ini, sudah banyak warisan budaya Indonesia yang dikenal oleh negara lain dan diakui oleh dunia. Seperti seni wayang kulit, alat musik tradisional angklung dan gamelan, batik, tari saman, tari kecak, dan reog Ponorogo. Semua warisan budaya ini berasal dari daerah yang berbeda-beda.

Selain warisan budaya takbenda berupa kesenian yang terkenal sampai ke manca negara, ada juga warisan takbenda yang berupa perilaku masyarakat. Desa adalah salah satu tempat di mana bentuk warisan takbenda ini sering ditemukan.

Desa merupakan salah satu tempat tinggal kekayaan budaya yang dilestarikan dan diwariskan turun-temurun. Kebudayaan Indonesia yang ada sekarang terbentuk dari proses sosio-historis yang terjadi dalam kurun waktu yang panjang akibat kontak budaya antarbangsa maupun antarsuku. Kekayaan ini menjadikan Indonesia sebagai bangsa multikultural dengan berbagai corak.

Acara seperti pernikahan atau khitanan seringkali kita jumpai di desa. Biasanya, tamu yang hadir akan memberi sumbangan. Sumbangan tersebut bisa berbentuk uang, atau barang. Biasanya, tetangga sekitar atau tamu undangan menyumbang bahan pangan atau sembako. Misalnya beras, minyak, daging ayam, telur, bumbu dapur, bawang, dan lain-lain. Sumbangan ini merupakan salah satu bentuk gotong royong.

Sumbangan di sini memiliki dua arti, pertama, sumbangan dalam arti luas yang mencakup semua pertolongan berupa tenaga, pikiran, benda materi, biaya, dan sebagainya. Kedua, sumbangan dalam arti yang lebih sempit, yaitu pertolongan berupa bantuan material dalam bentuk benda ataupun biaya untuk membantu seseorang yang sedang memiliki hajat.

Terdapat berbagai fenomena sosial pada sistem sumbangan, khususnya dalam acara pernikahan atau upacara khitan. Mulai dari sistem aturan timbal balik yang mengikat, pergeseran makna dan tujuan dari sistem sumbangan, potensi munculnya konflik, beban sosial, dan sebagainya.

Meskipun tampak teratur dan sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan masyarakat, dewasa ini sumbangan sering dinilai secara sinis sebagai sumber keuntungan. Banyak orang yang menyelenggarakan hajat dengan mengundang banyak tamu undangan hanya untuk mengharapkan keuntungannya dari sumbangan yang diperoleh dari para tamu.

Fenomena sumbangan hajatan telah menjadi budaya yang tidak sehat dalam kehidupan masyarakat desa. Sangat jarang penyelenggara hajatan yang tidak mengharapkan sumbangan dari tamu undangannya. Masyarakat kini sering mengeluh soal sumbangan karena undangan hajatan yang sering datang bersamaan atau di waktu yang berdekatan.

Memang hal seperti ini adalah bentuk gotong royong, tapi di balik itu semua ada satu niat di mana warga yang menyumbang pada yang punya acara hajatan hanya sebatas titip barang. Bagaimana maksudnya? Jadi, para tamu undangan yang memberikan sumbangan hanya menitip barang. Suatu saat, jika si tamu memiliki hajat, orang yang disumbang harus mengembalikan atau memberikan barang yang sama dengan barang yang disumbangkan si tamu. Dengan kata lain, orang yang menyumbang mengharapkan timbal balik sesuai barang yang ia berikan.

Lalu, bagaimana jika ada seseorang yang lupa tidak mengembalikan sesuai dengan apa yang telah mereka terima? Inilah yang menjadi sumber konflik. Sebab, ia akan jadi bahan pergunjingan tetangga lain.

Bukan hanya tamu undangan yang tidak mengembalikan sumbangan yang berpotensi menjadi bahan gunjingan. Si pemilik hajat pun tidak lepas dari ini. Seseorang yang sudah menyumbang dengan jumlah banyak akan mengharapkan makanan yang didapat sesuai dengan apa yang sudah dikeluarkan. Jika ekspektasi tamu tentang menu sajian hajatan tidak terpenuhi, pemilik hajat juga akan digunjing.

Entah bermula dari mana dan bagaimana, budaya ini semakin meluas dan turun temurun. Mungkin memang sifat dasar manusia yang perhitungan atau egois. Tetapi, sebaiknya jika kita menyumbang, menyumbanglah dengan hati ikhlas agar tidak ada yang saling grundel (jengkel yang tidak tersampaikan) di hati, sehingga tidak akan ada gosip dengan tetangga-tetangga lain.

Memang ini adalah salah satu budaya di desa dan kita harus bisa menghargainya. Ada ungkapan ‘desa mawa cara, negara mawa tata’ yang artinya dalam suatu desa atau negara tertentu memiliki tata cara yang berbeda-beda. Tetapi, bagaimana jika budaya ini dijalankan oleh orang-orang yang mungkin ekonominya menengah ke bawa, bukankah ini akan menyulitkan? Bisa jadi ia akan berhutang sana-sini untuk mengganti sumbangan yang ia peroleh.

Kata sumbangan hajatan menjadi bias. Bias tersebut kini mulai merasuk pada niatnya. Kenyataan pada umumnya, apabila masyarakat menerima undangan suatu acara pernikahan atau sunatan yang merupakan kabar gembira dari saudara atau temannya, justru sering menjadi bahan keluhan.

Masyarakat kini memandang jika menghadiri undangan suatu acara, yang dipikirkan pertama kali adalah harus menyediakan sejumlah uang yang dianggap pantas sebagai sumbangan. Pandangan ini telah menggeser niat utama dalam menghadiri suatu undangan. Masyarakat seakan-akan menjadi kurang ikhlas.

Maksud tujuan budaya ini pasti baik, sayangnya melenceng karena perilaku oknum-oknum yang tidak mau rugi atau perhitungan. Alangkah baiknya, budaya menyumbang ini dilakukan dengan sama-sama ikhlas, antara yang pemilik hajat maupun tamu undangan. Agar keduanya bisa saling ikhlas dan legawa.

Add Comment