Desa dan Seisinya, Juara di Hati

Bagian Belakang Kampoeng Mataraman. IG/KAMPOENGMATARAMAN

Bagi saya, tinggal desa menjadi hal yang patut saya syukuri. Lebih tepatnya, saya bersyukur hidup berdampingan dengan suasana tenang, tetangga yang baik dan ramah, serta gotong royong yang masih sangat melekat.

Perasaan yang sama itu hadir ketika masuk di Kalurahan Panggungharjo yang letaknya bersebelahan dengan Kota Yogyakarta. Walaupun kondisinya berbeda dengan desa saya, karena Kalurahan Panggungharjo lebih ramai dengan penduduk dan jarak rumah satu dengan yang lain dekat, suasana asri pun masih bisa sedikit saya rasakan. Kesempatan merasakan suasana di desa ini karena dalam rangka mengikuti Laboratorium Sosial (Labsos) yang diadakan oleh Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta.

Melalui kegiatan Labsos saya jadi mengetahui, Kalurahan Panggungharjo memiliki sebuah restoran yang bernama Kampoeng Mataraman. Saat memasuki wilayah ini, suasana ndeso langsung menyambut.

Padahal, jika dilihat dari letaknya, Kampoeng Mataraman ini terletak di Jalan Ringroad yang ramai sekali. Anehnya, berada di restoran ini suara bising kendaraan tak lagi terdengar. Tergantikan oleh suara ranting-ranting dan dedaunan yang saling bergesekan karena tersapu angin. Selain itu, alunan lagu jawa turut menenangkan pendengaran dari bisingnya knalpot kendaraan.

Melihat dari konsep yang diambil, yaitu era Kerajaan Mataram abad ke-19, memberi pemahaman kepada saya alasan di balik arsitektur bangunannya yang berupa limasan. Tak hanya bangunannya yang menguatkan kesan ndeso, namun juga karena karyawannya memakai baju adat Jawa.

Pertama kali menginjakan kaki di Kampoeng Mataraman, yang saya rasakan adalah kebingungan bercampur dengan rasa terpukau. Bagaimana bisa membangun tempat makan bernuansa ndeso di pinggiran kota?

Dapat kesempatan melakukan Labsos di Kalurahan Panggungharjo merupakan anugerah. Saya jadi tahu rasanya hidup di desa yang berdampingan dengan kota. Namun, jika harus memilih, saya ingin lebih sering menghabiskan waktu di desa. Keinginan itu muncul ketika bunyi dedaunan pohon di Kampoeng Mataraman saling bergesekan hingga mampu meredam kebisingan kendaraan di jalan raya. Seperti yang saya harapkan, desa memang tak pernah absen untuk menawarkan ketenangan.

Sejak lahir saya sudah tinggal di desa. Desa yang saya tempati masih sangat asri dengan banyak pohon dan sawah yang membentang luas. Keasrian itu saya dapat di Kalurahan Panjatan yang berada di Kabupaten Kulonprogo.

Desa yang masih banyak pemandangan hijau memang indah untuk dipandang. Ketika di jalan melewati pedesaan, tidak ada kata bosan untuk melihat alam sekitar, meski sesekali mengeluh karena untuk mencapai fasilitas umum jauh sekali. Bahkan, ke puskesmas atau ke apotek saja membutuhkan kurang lebih 15 menit.

Akan tetapi, desa tetap menjadi tempat favorit untuk ditinggali, entah karena memang terlahir di desa atau memang suasana nyaman yang sulit dilepaskan. Kebiasaan tinggal di desa itulah yang membuat saya merasa nyaman sehingga tak ingin meninggalkan kenyamanan tersebut.

Beberapa orang kota memandang bahwa masyarakat desa gagap teknologi, namun itu tidak menjadi masalah besar karena masih dapat dipelajari. Sekarang ini, orang desa bisa mengikuti perkembangan zaman dengan tidak meninggalkan kesederhanaan.

Orang tua saya tidak memiliki ponsel pintar. Dulu mereka punya ponsel, namun bukan layar sentuh. Pemakaiannya pun hanya untuk mengirim pesan singkat guna menanyakan kabar anaknya jika sedang pergi dari rumah, namun sudah rusak. Bersyukurnya, kedua orang tua saya jadi bisa memberikan waktu yang lebih untuk anak-anaknya, bisa sering ngobrol dan bercanda bersama.

Ketika pandemi Covid-19, melihat berita terus-menerus dapat membuat kepala pusing karena rentetan berita buruk yang dihadirkan, baik di televisi maupun di media sosial. Tak jarang pula berita bohong terkait Covid-19 bertebaran di grup-grup WhatsApp. Jika terpaku pada berita buruk saja, bisa-bisa bukan sakit karena Covid-19, namun sakit karena takut melihat banyaknya berita yang ada.

Ada hal hebat lagi dari desa, yakni yang dianggap keluarga bukan hanya dari saudara satu derah, namun semua tetangga bisa menjadi keluarga terdekat yang siap membantu. Itu betul-betul saya rasakan, di sekitar rumah banyak tetangga yang seperti saudara sendiri. Tanpa rasa canggung, saya memanggil mereka pakde, bude, simbah, bulik, kang, dan sebagainya. Sebagai bukti bahwa hubungan kami sangat akrab.

Rasa nyaman yang didapat dari desa dan kecintaan saya terhadap desa, tak berarti bahwa kota adalah hal yang saya benci. Ada kesadaran bahwa eksistensi kota di muka bumi itu sangat penting, tidak hanya bagi orang lain, namun juga bagi saya. Jadi, tidak ada alasan untuk saya membenci kota.

Perihal desa maupun kota, masing-masing pasti memiliki hal yang membuat nyaman. Tidak ada yang lebih baik, hanya tergantung dari mereka yang merasakannya. Sebab, setiap orang memiliki preferensi masing-masing. Kota dengan hiruk pikuknya dan desa dengan ketenangannya. Keduanya mempunyai keistimewaan tersendiri, meski berbeda.

Barangkali, menetap di kota terasa menyenangkan. Barangkali, juga ada yang memiliki preferensi tinggal di desa karena enggan menerima kota dengan hiruk pikuk yang selalu menemani.

Add Comment