Gotong Royong, Kepedulian Antar Warga yang Perlu Dilestarikan

Gotong Royong Warga Kalurahan Panggungharjo. NUR AFIFAH

Kata gotong royong bukan hal yang asing di telinga kita. Ketika mendengar kata gotong royong, yang sering terlintas di benak kita adalah bersih-bersih desa atau kerja bakti. Padahal, gotong royong memiliki makna yang lebih luas.

Gotong royong bukanlah sikap kurang berani, kurang percaya diri, atau tidak mandiri. Gotong royong tidak selalu berarti orang-orang sekampung menyumbang ketika ada yang terkena musibah, bersih-bersih desa, atau kerja bakti. Gotong royong berarti bahu-membahu dan saling bergandengan tangan.

Menurut Koentjaraningrat dalam buku Sejarah Teori Antropologi, budaya gotong royong yang dikenal oleh masyarakat Indonesia dapat dikategorikan ke dalam dua jenis, yakni gotong royong tolong menolong dan gotong royong kerja bakti. Sedangkan, puncak relasi gotong royong masuk dalam tiga bidang, yaitu bidang sosial berwujud kekeluargaan, bidang ekonomi berwujud kerja sama, dan bidang politik berwujud musyawarah.

Contoh budaya gotong royong, tolong-menolong terjadi pada aktivitas pertanian, kegiatan sekitar rumah tangga, hajatan, kegiatan perayaan, dan pada peristiwa bencana atau kematian. Sedangkan, budaya gotong royong kerja bakti biasanya dilakukan untuk mengerjakan sesuatu hal yang sifatnya untuk kepentingan umum, entah yang terjadi atas inisiatif warga atau gotong royong yang dipaksakan.

Dalam perspektif sosiologi budaya, gotong royong adalah semangat yang diwujudkan dalam bentuk perilaku atau tindakan individu, yang dilakukan tanpa mengharap balasan untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama demi kepentingan bersama atau individu tertentu (kekeluargaan).

Gotong royong menjadikan kehidupan masyarakat Indonesia lebih berdaya dan sejahtera. Berbagai permasalahan kehidupan bersama bisa terpecahkan secara mudah dan murah, demikian halnya dengan kegiatan pembangunan masyarakat. Maka dari itu, penting adanya gotong royong karena manfaatnya yang banyak, juga bermakna.

Beberapa orang, merasa bisa hidup sendiri tidak membutuhkan bantuan orang lain. Penyebabnya, ia merasa segala kebutuhan hidupnya terpenuhi karena memiliki banyak uang misalnya. Akhirnya, orang tersebut tidak mau bersosialisasi dengan tetangga di lingkungannya dan tidak mau bergotong royong. Ia merasa tak acuh dengan lingkungannya, asal dirinya aman tentram

Sikap seperti itu tidak seharusnya terjadi. Pada dasarnya, manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial. Artinya, semandiri apapun manusia, tidak bisa hidup sendiri tanpa pertolongan orang lain. Sejak dalam kandungan sampai mati, manusia tetap memerlukan bantuan dari orang lain.

Gotong royong adalah prinsip yang dinamis, lebih dinamis dari kekeluargaan. Gotong royong menggambarkan satu usaha bersama dan saling membantu demi kepentingan bersama. Adanya gotong royong menciptakan kehidupan bersama dalam bermasyarakat. Apalagi masyarakat Indonesia sangat terkenal dengan sifat ramah, kekeluargaan, serta kebudayaan gotong royongnya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, segala konflik yang terjadi di masyarakat bisa diselesaikan dengan gotong royong.

Jika gotong royong dilaksanakan dengan baik, akan terbentuk kehidupan yang harmonis antarwarga. Selain itu, gotong royong menjadi penguat karakter bangsa Indonesia, memupuk rasa kebersamaan, menambah solidaritas sosial, mempererat tali persaudaraan, menyadarkan masyarakat, toleransi tinggi, serta rasa persatuan untuk kehidupan bernegara sehingga akan tercipta kemakmuran.

Era sekarang, budaya gotong royong perlu dipertahankan dan disosialisasikan kembali ke masyarakat agar melekat kuat di jiwa masyarakat. Walaupun budaya gotong royong masyarakat desa jauh lebih kuat daripada masyarakat kota, budaya gotong royong sekarang ini kian memudar, baik di desa maupun kota. Padahal, gotong royong yang dilakukan masyarakat Indonesia di masa lalu telah memberikan banyak manfaat. Melakukan setiap pekerjaan dengan cara bergotong royong dapat meringankan dan mempercepat penyelesaian pekerjaan.

Sayangnya, pada zaman modern ini semakin jarang orang yang menerapkan nilai-nilai gotong royong. Orang-orang memikirkan kebutuhan mereka sendiri tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Masyarakat menjadi cenderung individualis, konsumtif, dan kapitalis. Contohnya, masyarakat lebih suka membeli barang-barang mewah ketimbang menyisihkan hartanya untuk membantu orang yang membutuhkan di sekitarnya. Rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan senasib sepenanggungan sesama manusia tergerus ganasnya badai dampak negatif globalisasi. Jika ini terus terjadi, akan berdampak buruk bagi generasi penerus bangsa ini. Karena, generasi muda sekarang tumbuh di lingkungan budaya individualis.

Aristoteles mengatakan, manusia adalah zoon politicon, yang artinya bahwa manusia sebagai makhluk, pada dasarnya selalu ingin bergaul dalam masyarakat. Ada kecenderungan dalam diri manusia untuk hidup bersama orang lain. Dengan demikian, manusia tidak bisa mencapai tujuannya sendirian.

Gotong royong dilakukan dengan ikhlas tanpa pamrih. Indonesia merdeka salah satunya juga berkat gotong royong, tidak mungkin kemerdekaan dicapai satu orang saja. Tanpa adanya gotong royong, semangat dalam kebersamaan dan bahu-membahu mungkin tak akan mencapai kemerdekaannya.

Banyak corak gotong royong, contohnya lembaga yang merangkul relawan-relawan untuk melakukan aksi sosial. Ada pula komunitas pecinta atau hobi tertentu dengan tujuan berkumpul dan bisa saling berinteraksi, tak jarang pula mereka juga turut mengambil aksi sosial itu sendiri. Semangat gotong royong masih bisa dijumpai antartetangga. Walaupun mulai berkurang, ini menandakan bahwa masih ada rasa cinta terhadap semangat gotong royong.

Apalagi, di tengah pandemi saat ini, kita sangat memerlukan gotong royong. Masyarakat di Kalurahan Panggungharjo sudah mempraktikannya, saling peduli dan menolong. Masyarakat Panggungharjo dengan jargon ‘merawat desa dengan semangat gotong royong’, menerapkan gotong royong dengan tidak memberikan stigma negatif bagi penderita, saling mengingatkan untuk berjemur atau berolahraga, hingga menyediakan dukungan kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, Kalurahan Panggungharjo sangat cepat merespon datangnya Covid-19. Kalurahan Panggungharjo membuat langkah-langkah tanggap darurat dengan pendataan dan sosialisasi kepada masyarakat, serta membuat basis data pada web desa.

Jika membuka web Kalurahan Panggungharjo, akan muncul popup yang menggarah ke laman Panggung Tanggap Covid-19. Panggung Tanggap Covid-19 merupakan gerakan bersama warga Kalurahan Panggungharjo dalam penanggulangan pandemi Covid-19 dengan melakukan upaya pencegahan, penanganan, maupun penanggulangan dampak Covid-19 dalam aspek kesehatan, sosial, maupun ekonomi. Melalui laman ini, warga desa dapat melaporkan statusnya.

Bayangkan jika tidak ada gotong royong saat pandemi seperti sekarang, pasti akan kesulitan. Apalagi jika terinfeksi Covid-19 dan tidak ada yang membantu, hidup sendiri seperti di hutan atau pulau terpencil, padahal kita hidup lingkungan yang banyak warga lainnya. Maka dari itu, dengan adanya gotong royong, hidup kita akan terasa nyaman karena kondisi nyaman dimulai dari keluarga dan lingkungan. Pada proses seperti inilah keluarga menjadi benteng utama bagi ketahanan keluarga.

Oleh sebab itu, perlu adanya kesadaran diri dalam pola pikir masyarakat zaman sekarang. Agar terwujudnya kehidupan bangsa yang lebih terarah pada kemakmuran dengan bahu-membahu maka gotong royong harus dihidupkan kembali. Persatuan adalah harga mati, harga yang sangat mahal tak dapat dibeli maka gotong royong harus tetap dihidupkan karena ini adalah jati diri bangsa Indonesia. Kesejahteraan umum Indonesia hanya bisa diwujudkan bila semua warga mengedepankan semangat gotong royong.