Gus Dur Penerus Spirit Patembayatan

Gus Dur, Bapak Pluralisme. NAHDLATUL ULAMA

Ada sebuah quotes yang ditulis Bidang Media dan Opini Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) yang berbunyi, “Para Aktivis PMII jangan takut jadi intelektual pengangguran. Banyak yang mesti dikerjakan di Nahdlatul Ulama (NU). Dan lapangan itu seluas dan selebar kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia,” dengan foto Gus Dur sebagai gambar latarnya.

Mengingatkan pada autokritik Gus Dur untuk PMII yang dikutip Berita PMII dari pidato ‘PMII dan Tantangan Masa Depan’ yang disampaikan pada musyawarah pimpinan PMII di Jakarta tahun 1995. Poin penting yang disampaikan, tentang kerinduan Gus Dur atas forum diskusi mahasiswa-mahasiswa PMII mengenai paradigma pembangunan dan paradigma perubahan sosial.

Suntikan semangat dari Gus Dur ini, kemudian menjadi pendorong generasi muda NU untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya. Terbukti, saat reformasi bergulir dan Gus Dur terpilih sebagai Presiden RI keempat, banyak kader-kader muda NU mengemban jabatan strategis.

Jika disandingkan dengan semboyan Ki Hajar Dewantara yang berbunyi ‘Ing Ngarso sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani’, Gus Dur memegang semua peran dalam semboyan itu. Demikianlah seharusnya kaderisasi digalakan, agar nafas perjuangan ini terus berkelanjutan.

Menjelang usia seratus tahun, NU sebagai induk dari PMII menunjukkan tanda-tanda kebangkitan untuk kedua kalinya. Setelah reformasi, kader-kader muda NU, khususnya PMII dan alumni berjibaku melawan westernisasi dan wahabisasi yang merambat ke semua lini kehidupan.

Tidak heran, awal tahun 2000 di media banyak narasi yang mengkafirkan amaliah NU dan tradisi Nusantara. Pada tahun inilah Gus Dur mengeluarkan Sabda Pandhita yang berbunyi, “Anak Muda NU akan Bangkit 10 tahun lagi. Mereka (kelompok radikal) akan kalah dengan anak muda kita.”

NU di tahun 2022 khususnya PMII, terbukti mampu menyaingi kelompok-kelompok radikal ini. Namun, NU dan PMII tidak bermaksud menguasai pemerintahan Indonesia dengan arogan.

NU mengambil peran tersebut agar Indonesia tetap tawassuth (bersikap netral), tawazun (sikap menyeimbangkan segala aspek dalam kehidupan), i’tidal (sikap tegak lurus dan adil), dan tasamuh (sikap akhlak terpuji dalam pergaulan) sebagaimana ajaran Imam Ghozali yang diusung oleh PMII. Mengingat bahwa Indonesia terdiri dari beragam agama, suku, golongan dan budaya. Dengan menekankan penerapan nilai-nilai itu, Gus Dur mendapatkan julukan sebagai Bapak Pluralisme karena mampu merangkul semua elemen Bangsa Indonesia.

Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Sunan Pandanaran. Selain peninggalan fisik Sunan Pandanaran, terdapat pula peninggalan nonfisik yang berupa ‘wejangan’. Wejangan akan musyawarah dan gotong-royong menjadi ajaran Sunan Pandanaran yang terabadikan dalam sebuah nama, yaitu Bayat. Bayat berasal dari kata tembayat atau patembayatan yang merupakan bentuk lain dari Syahadat Tembayat.

Sunan Pandanaran, mengajarkan kepada santri-santrinya untuk selalu gotong-royong dan bermusyawarah. Dengan metode ini, para mantan santri Syekh Siti Jenar beralih menjadi santri Sunan Pandanaran. Para mantan santri Syekh Siti Jenar tidak serta-merta dicap sesat lalu dibunuh, melainkan dirangkul dan diperbaiki pemahamannya. Orang yang berbeda bukan musuh, di NU tidak ditemukan konsep musuh.

Pengkafiran dan penyesatan tidak ada dalam NU. Jika ada yang berbeda maka selalu dipandang dengan husnuzan. Dalam tasawuf, Rumi berkata bahwa orang lain itu adalah diri kita yang lain. Tidak salah jika Gus Dur diklaim sebagai penerus spirit patembayatan di zaman ini.

Terdapat benang merah antara ajaran pluralisme Gus Dur dan patembayatan dari Sunan Pandanaran ing Tembayat. Walaupun tidak mengherankan, karena Gus Dur masih memiliki hubungan darah dengan Sunan Patembayatan. Gus Dur merupakan keturunan Panembahan Agung ing Kajoran, pendiri Wangsa Kajoran yang merupakan menantu Sunan Pandanaran ing Tembayat.

Sunan Pandanaran menyebarkan ajaran Islam di beberapa daerah, seperti Pengging, Pajang dan Mataram. Sunan Pandanaran atau Wali Tembayat dimakamkan di Bayat, sebuah kecamatan di Kabupaten Klaten. Bayat merupakan sebuah pusat keagamaan yang dihormati oleh para raja di Jawa kala itu. Setidaknya, tercatat dua sultan pernah mengunjungi makam Sunan Pandanaran. Pertama, Sultan Hadiwijaya dari Pajang, berziarah ke Bayat pada 1556 Masehi dan melakukan pemugaran kompleks makam. Kedua, Sultan Agung dari Mataram berziarah ke Bayat pada 1633, beberapa tahun setelah menaklukkan Batavia (1628 dan 1629).

Muncul pertanyaan, jika Gus Dur Bapak Pluralisme yang meneruskan spirit patembayatan, mengapa Bayat malah sejak lama menjadi arena perang, konspirasi, dan kontra elite Mataram? Gus Dur itu cinta damai, tetapi tegas dalam membela kebenaran agar Indonesia tetap tawassuth, tawazun, i’tidal, dan tasamuh. Demikian juga warga Tembayat kala itu, tegas dalam melawan penjajahan.

Karena dalam catatan sejarah, setelah Sultan Agung wafat, Belanda terlalu mencampuri urusan internal Kesultanan Mataram. Para raja, pangeran, dan rakyat tidak berdaya melawannya. Pilihannya dibunuh atau bersekutu dengan Belanda. Iklim politik dan pemerintahan di Mataram, kemudian berat sebelah. Tembayat tampil menjadi penyeimbang.

Setelah tahun 1830, yaitu Pascaperang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro berakhir, gerakan pembebasan kemudian beralih dari hard power menjadi soft power. Para pangeran, ulama, dan tokoh masyarakat yang mendukung Pangeran Diponegoro, kemudian melebur bersama masyarakat menanamkan cinta tanah air melalui pesantren-pesantren dan segenap lini.

Dalam banyak catatan, rata-rata pesantren NU, bahkan pendiri NU merupakan anak ideologis maupun biologis dari laskar Pangeran Diponegoro. Kemudian, zaman ini menjadi bara dalam sekam, tetap terjaga dan berkobar lagi saat perang 10 November di Surabaya. Genderang itu dipukul oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, pendiri NU dengan resolusi dan fatwa jihad.

Memang penulis belum pernah bertemu dengan Gus Dur, tetapi sering membaca tentang sosok Gus Dur. Penulis sendiri, ikut PKD PMII tahun 2011 di Rayon Pondok Syahadat, Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga. Mewakili kampus yang nyaris tidak ada PMII, yaitu Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” Yogyakarta. Sehingga secara doktrin memang tidak terlalu NU dan PMII. Saya pun kurang memahami sosok Gus Dur. Meski demikian, entah mengapa rasa cinta dan ingin tahu itu begitu besar. Orang tua menyebut itu sampun jatahe atau sudah jatah untuk mengenal NU dan seluk-beluknya.

Sebagai penutup, penulis menyampaikan bahwa nafas-nafas perjuangan ini harus terus digelorakan. PMII harus mengambil peran dalam segenap lini kehidupan agar membawa maslahat bagi masyarakat. Diharapkan kader-kader NU, khususnya PMII, mampu berpikir dinamis dan strategis dalam melihat roda zaman. Pesantren yang selama ini dianggap kuper dan terbelakang mampu diubah oleh generasi muda NU menjadi dinamis sesuai perkembangan zaman, namun tidak ter cabut dari akarnya.

Saat sebagian umat Islam terlalu kencang dalam purifikasi, NU senantiasa merawat tradisi dan kearifan lokal di masyarakat. NU paham bahwa kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia. Membumi memang perlu, karena cara-cara delegitimasi NU dengan corak-corak NU, misalnya menyebut dirinya santri, menyebut ahlussunnah wal Jamaah atau aswaja merupakan pemahaman tentang akidah yang berpedoman pada sunnah Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya, maupun menggunakan kalam-kalam ulama rujukan NU.

Cara-cara tersebut sudah terbaca oleh generasi muda NU. Kaum abangan, menganggap NU hanya suka hadrohan yang merupakan budaya Arab. Padahal, NU juga melakukan corek-corak pendekatan dengan gamelan, macapat, wayang, dan budaya lokal Indonesia lainnya.

One thought on “Gus Dur Penerus Spirit Patembayatan

Comments are closed.