Jamaah Ahli Ngopi

Alumni PMII. AGUS NURWANSYAH

Jika ditanya soal pengalaman berorganisasi, apalagi di PMII, tentu saya akan menjawabnya dengan senang hati. Awalnya, saya tidak tahu apa itu PMII. Tapi, saya memang ada niatan untuk bergabung di organisasi luar kampus.

Beberapa kali saya melihat brosur dan flyer organisasi tersebut, tapi proses rekrutmen memakan waktu berhari-hari. Sebagai mahasiswa baru, tentu saya tidak ingin kehilangan absen meskipun satu mata pelajaran. Beruntungnya, saat itu saya satu kelas dengan seorang Gus seorang bernama Gus Baha. Bukan Gus Baha dari Rembang, tapi Gus Baha dari Kuantan Singingi, Riau alumni salah satu pondok di Jogja. Beliau adalah orang pertama yang mengenalkan saya dengan PMII.

Pertanyaan saya tentu, “Apa itu PMII?”

Lalu jawabnya, “PMII itu organisasi kemahasiswaan NU. Kowe NU, to?”

Masak iya saya ditanya NU apa bukan, tentu langsung saya jawab, “NU to, Gus.”

“Yowes, ayo, sabtu MAPABA.”

“Opo neh wi, Gus?”

“Haalah, iku loh Masa Penerimaan Anggota Baru. Pengenalan sebelum jadi anggota PMII.”

“Yowes, oke, Gus,” jawaban terakhir saya sambil mengacungkan jempol.

Sesederhana itu prosesnya. Setelah itu saya sempat menjadi anggota lepas. Penyebabnya klasik, kami segan dengan senior, sedangkan dari rayon tidak ada follow up, ditambah libur panjang kuliah. Jadilah satu semester saya tidak aktif di kegiatan PMII. Barulah semester berikutnya aktif di rayon, kemudian membuat sekretariat di kontrakan Gus Baha.

Ada juga, pengalaman dinamika di internal. Saat yang paling tidak saya sukai adalah ketika penunjukan delegasi di internal kampus. Berbeda dengan kader lainnya yang berminat di organisasi intra kampus, saya justru sebaliknya. Bahkan sempat bersitegang dengan salah satu kader yang dituakan di rayon.

Saat itu, kami sempat adu argumen bahkan sampai dilerai Gus Baha, sedangkan sahabat yang lain hanya diam. Alhasil, saya tetap dengan pendirian. Hubungan kami setelah itu baik-baik saja, meski sempat melempar umpatan. Kami tahu semua demi eksistensi Pergerakan. Tapi memang jiwa saya tidak di kepemimpinan. Saya lebih suka dunia literasi, harus berbagi peran antara yang aktif di gerakan dan kepenulisan, antara literasi dan institusi.

Setelah MAPABA tentu jenjang selanjutnya adalah Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (PKD). Nah, lagi-lagi yang meyakinkan saya untuk PKD adalah Gus Baha. Untungnya saya ikut waktu itu, kalau tidak, akan menjadi hal yang paling saya sesali selama berproses di PMII. Sampai saat ini, PKD adalah pengalaman yang paling saya rindukan di PMII. Saat itu, saya mengikuti PKD yang diikuti kader PMII seluruh Riau di Pekanbaru. Pesertanya, Kurang lebih 90 orang dari berbagai penjuru bumi Lancang Kuning.

Apa yang saya dapatkan? Pertama, adalah kekeluargaan. Lima hari kami dididik untuk menjadi kader yang tangguh dan kompak. Ah, tapi terlalu biasa untuk bercerita itu, pasti sudah banyak yang menulisnya. Saya akan cerita mengenai salah satu panitia yang jahil. tidak Kalau ingat salah itu adalah hari keempat. Saat jam makan pagi, yang lebih tepat makan siang karena sudah masuk jam sebelas.

Kami makan dengan alas kertas minyak yang tidak boleh ganti dari hari pertama. Saya sengaja memilih Gus Baha sebagai partner makan karena saya tahu porsi makannya sedikit.saya bisa mendapat jatah lebih. Saat itu, kakak senior menuang makanan dari ujung kiri ke ujung kanan. Sialnya, kami berada di ujung kanan.

Sejak dia menuang nasi dari ujung kiri, tadi pandanganku tidak pernah lepas darinya, nahasnya. Kami panitia menuang nasinya sedikit sekali, padahal perut kami sudah melilit seperti pinjaman online. Eh, dengan tidak berdosanya dia malah tersenyum kepada kami. Entah punya dendam apa Kakak berkacamata itu. Dengan spontan saya langsung protes.

Eh, dengan senangnya dia balik bertanya. “Apa kamu bilang? Sedikit? Oke, kakak kurangi setengah lagi porsi makan kelian!”

Uh… Rasanya tidak bisa dituliskan. Langsung buram hati saya, Kak. Ah, sudahlah.

Bagaimana, menarik bukan? Tapi sepertinya ada yang menganggap itu masih biasa. Kakak dulu lebih sengsara dari itu, Dek! Oke, baiklah, ampun, Senior.

Setelah pengalaman MAPABA dan PKD, sebagai aktivis mungkin kurang lengkap jika tidak ada pengalaman menghadapi bentrokan. Saat itu, ada penerimaan mahasiswa baru dan kami buka stand, tapi ada mahasiswa yang tidak berkenaan dengan keberadaan kami akhirnya adu mulut dan sempat bentrok. Kami saat itu hanya berdelapan menghadapi mereka yang puluhan. Tapi sepertinya itu tidak perlu kembali diceritakan.

Oke, setelah MAPABA dan PKD, saya rasa pengembangan diri juga layak dan harus didapatkan seorang kader dalam berproses di PMII. Mungkin di tempat lain, wadah untuk pengembangan dan minat bakat kader sudah berjalan. Tapi, selama saya berproses di PMII, pengembangan diri di sini belum berjalan baik, khususnya di bidang literasi sehingga, saya berproses di luar untuk urusan literasi.

Berbicara masalah pergaulan, saya lebih nyaman bergaul dengan kader yang aktif ngopi dibanding kader yang aktif di internal. Alasannya, karena bahasa kader-kader terlalu kaku, atau mungkin saya yang terlalu lembek. Jujur, saya kurang suka dengan sesama kita memanggil dengan sebutan ‘tum, ke, atau senior’ bagi saya penggunaan kata tersebut terlalu mengagungkan dan meninggikan yang lain, sedangkan yang lainnya lebih rendah.

Saya lebih senang memanggil sesama kader dengan apa adanya. Kalau dia memang seorang ketua, baru saya panggil ketua, tapi itu sangat jarang sekali. Kalau dia senior, ya, sesekali saya panggil senior. Tapi paling afdhol saya panggil sesama kader dengan sahabat, bukankah itu juga panggilan resmi kita?

Selain konotasi, menurut saya panggilan di atas seolah kita hanya punya satu orientasi ber-PMII, yakni orientasi yang mengarah ke kepemimpinan atau menjadi seorang ketua. Jabatan ‘ketua atau tum’ seolah-olah puncak dari segala proses kita di PMII. Padahal tidak demikian. Bagi saya, kader yang berhasil di luar, entah dia berkecimpung di bidang seni, olahraga, lingkungan, kepenulisan atau bidang lain dan tetap membawa ke-PMII-annya, itulah yang sesungguhnya berhasil.

Jadi, konotasi dan orientasi yang sudah membudaya itu menurut saya harus direproduksi secara kultural dan intelektual. Agar nanti kader-kader PMII benar-benar bisa menjadi kader yang bermental sangar di luar. Tidak berorientasi di dalam. Agung di dalam dan tidak bergaung di luar. Sekali lagi pengembangan diri sangat diperlukan, karena dunia ini luas, tidak melulu soal kepemimpinan.

Terakhir, sebagai Jamaah Ahli Ngopi di PMII, saya akan menuliskan alasan mengapa bergabung dengan kader kopi itu sangat menyenangkan. Karena disana saya menemukan arti kekeluargaan, bisa berbagi cerita, meminta pendapat atau meminta solusi. Tapi yang jelas kita bisa mendengarkan cerita dan bercerita apapun, meskipun itu awalnya adalah diskusi. Tentu topiknya tidak ada dalam list diskusi karena cerita dan diskusi kita random sekali.

Awalnya kita bisa membahas PMII, tapi akhirnya malah diskusi nikah siri. Awalnya diskusi pergerakan, akhirnya malah curhat yang lagi diputuskan. Malah, kadang kita diskusi tentang nilai dasar penggerakan (NDP) jadi curhat kader yang kena PHP. Asyik sekali pokoknya. Begitulah kira-kira pengalaman saya berorganisasi di PMII, salam kepada sahabat dari seluruh Indonesia, salam literasi! Hidup PMII! Salam pergerakan!