Karangkitri, Solusi Alternatif Ketahanan Pangan Keluarga

Monografi Balai Budaya Karangkitri. JUNAEDI

Harga kedelai lokal di tingkat petani Rp8.500 per kilogram dengan harga jual di tingkat konsumen Rp9.200 per kilogram. Hal ini mengacu pada Permendag Nomor 7 Tahun 2020 bahwa harga acuan pembelian kedelai lokal di tingkat petani Rp8.500 per kilogram. Pada saat aturan ini dibuat, harga kedelai impor Rp6.500 per kilogram dengan harga jual Rp6.800 per kilogram.

Kemendag mencatat faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai dunia baru-baru ini, pada kisaran Rp8.000 hingga Rp9.000 karena lonjakan permintaan kedelai dari China kepada Amerika Serikat (AS) selaku eksportir kedelai terbesar dunia.

Pada Desember 2020, permintaan kedelai China naik dua kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton. Asal tahu saja, saat ini Indonesia masih memenuhi kebutuhan kedelainya 70 persen dari impor.

Kondisi pertanian kedelai di dalam negeri sangat mengkhawatirkan. Penyebabnya karena pertanian kedelai tak menarik buat petani di Indonesia. Berdasarkan hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS), struktur biaya produksi kedelai jauh lebih besar dibandingkan nilai produksi yang dihasilkan per tahun dari setiap hektar lahan kedelai.

Fakta di lapangan terkait Harga Patokan Petani (HPP) kedelai yang dinilai cukup rendah. Produk kedelai impor yang lebih murah, membuat HPP kedelai lokal selalu tak tercapai.

Tergambar di dalam survei terkait HPP jika ada kepastian harga untuk menjamin petani akan tetap untung, dia bertambah produksinya. Harga impor juga jauh lebih murah, kondisi ini membuat produksi kedelai Indonesia per tahun semakin berkurang. Pada kenyataanya, dahulu Indonesia pernah memproduksi kedelai di atas 1 juta ton per tahun.

Tetapi, kini produksi kedelai hanya 600.000 sampai 700.000 ton saja per tahun. Masih menurut sensus BPS, struktur biaya produksi kedelai jauh lebih besar dibandingkan nilai produksi yang dihasilkan per tahun dari setiap hektare lahan kedelai. Untuk komoditas tanaman pangan lain, seperti sawah, sawah ladang, dan jagung jauh lebih menguntungkan.

Dilansir dari www.liputan6.com, Gerakan Ketahanan Pangan (GKP) secara nasional di tengah ancaman virus Covid-19 merupakan langkah nyata Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) telah merumuskan empat metode untuk mencapai ketahanan pangan.

Pertama, peningkatan kapasitas produksi. Kementan mengajak pelaku pertanian melaksanakan percepatan tanam pangan di musim tanam II 2020 seluas 6,1 juta hektare, pengembangan lahan rawa di Provinsi Kalimantan Tengah 164.598 hektare, termasuk intensifikasi lahan rawa 85.456 hektare dan ekstensifikasi lahan pertanian 79.142 hektare.

Kedua, diversifikasi pangan lokal. Kementan akan mengembangkan diversifikasi pangan lokal berbasis kearifan lokal yang berfokus pada satu komoditas utama.

Ketiga, penguatan cadangan dan sistem logistik pangan dengan cara penguatan Cadangan Beras Pemerintah Provinsi (CBPP), kemudian penguatan Cadangan Beras Pemerintah Kabupaten/Kota (CBPK).

Keempat, pengembangan pertanian modern, caranya melalui pengembangan smart farming, pengembangan dan pemanfaatan screen house untuk meningkatkan produksi komoditas hortikultura di luar musim tanam, pengembangan korporasi petani, dan pengembangan food estate untuk peningkatan produksi pangan utama (beras/jagung).

Kementan juga mempunyai agenda yang bersifat jangka pendek, menengah dan panjang dalam menghadapi pandemi Covid-19. Untuk jangka pendek, agenda SOS atau emergency, di antaranya dengan menjaga stabilitas harga pangan dan membangun buffer stock.

Agenda jangka menengah diwujudkan dengan melanjutkan padat karya setelah Covid-19, diversifikasi pangan lokal, membantu ketersediaan pangan di daerah defisit, antisipasi kekeringan, menjaga semangat kerja pertanian melalui bantuan sarana produksi (saprodi) serta alat mesin dan pertanian (alsintan), mendorong family farming, membantu kelancaran distribusi pangan, meningkatkan ekspor pertanian dan memperkuat Kostratani (gerakan pembaharuan pembangunan pertanian kecamatan).

Sementara itu, agenda jangka panjang (permanen) juga dilakukan, antara lain dengan mendorong peningkatan produksi 7 persen per tahun dan menurunkan kehilangan hasil (losses) menjadi 5 persen.

GKP bukan hanya menjadi PR Kementan, tetapi menjadi tugas bersama semua pemangku kepentingan, mulai dari Kementan, pemerintah daerah, pemerintah desa, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), dan lain-lain.

Persoalan kenaikan harga kedelai belum terselesaikan, kini harga cabai di pasaran kembali melambung. Padahal,sebelumnya harga cabai tidak ada artinya bagi petani karena harganya tembus level terendah. Sebelumnya, terjadi fenomena petani bawang merah membuang hasil panennya karena harga pasar dengan ongkos produksi tidak Break Event Point (BEP). Dan, masih banyak lagi problem dalam dunia pertanian.

Karangkitri

GKP seyogyanya dimulai dari tingkat keluarga, misalnya dengan alternatif model karangkitri. Karangkitri adalah suatu kawasan lahan pekarangan yang ada di sekitar rumah dengan batas pemilikan yang jelas sebagai tempat tumbuh berbagai jenis tanaman buah, sayuran, tanaman obat keluarga (TOGA), dan perikanan. Seperti yang sudah dilakukan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur yang dimulai sejak tahun 2014.

Tahun 2017 di Kabupaten Lumajang ada lima kelompok karangkitri (sebagaimana diberitakan di laman p.lumajangkab.go.id), yaitu Karangkitri Dasawisma Desa Umbul, Karangkitri Dasawisma Kunir Kidul, Karangkitri Dasawisma Desa Tukum, Karangkitri Dasawisma Desa Klanting, dan Karangkitri Dasawisma Kelurahan Ditotrunan.

Atas dasar budaya karangkitri ini juga, ketika Kalurahan Panggungharjo mendirikan sebuah balai budaya dinamakan Balai Budaya Karangkitri. Kawasan Budaya Karangkitri ini, harapannya akan menjadi sebuah ruang yang menegaskan hubungan manusia dengan air, tanah, dan udara yang telah membangun jasad dengan ragam pangan yang tersimpan di dalam tanaman dan tumbuhan yang ada di pekarangan.

Pekarangan merupakan basis kedaulatan pangan, karena karbohidrat tersimpan dalam umbi-umbian, mineral tersimpan dalam sayuran, vitamin tersimpan dalam buah-buahan, protein tersimpan dalam kacang-kacangan dan hewan piaraan, serta bahan pengobatan tersimpan dalam daun, batang, akar, dan rimpang. Karangkitri menyejahterakan tatkala sentuhan tangan dan kasih sayang ibu atas bahan pangan sejak di pekarangan sampai ke meja makan, yang mengakibatkan kita tidak berjarak dengan apa yang kita makan.

Tulisan ini pernah tayang di media online nyoret.com tanggal 02/02/2021 dengan judul yang sama dan telah mengalami penyuntingan pada beberapa kalimatnya.