Kebutuhan Garam untuk Industri di Era Green Economy

Gagasan Green Ekonomi. PUSAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA APARATUR

Lahirnya jalur perdagangan dan kegiatan perindustrian yang mendorong pertumbuhan ekonomi, hingga terbentuknya jalur perdagangan yang saat ini kita kenal sebagai Silk Road menjadi dasar bagi Pemerintah China memperbaiki perencanaan negaranya. China juga melakukan pembangunan masif dan terstruktur dengan program Belt and Road Initiative yang mengubah konstelasi dunia saat ini.

Mengapa China tumbuh begitu pesat dalam kurun waktu cukup singkat? Kurang dari 50 tahun menjadi China yang kita kenal saat ini? Bahkan, negara-negara barat pun cukup dibuat pening dengan perkembangan China? Apa rahasia industri China begitu pesat dan mampu melakukan amati, tiru, modifikasi (ATM) dengan cepat?

Berawal dari industri teh era Dinasti Han pada 260 sebelum masehi sampai 220 masehi. Berkembang menjadi industri porselen di era Dinasti Tang pada 618 masehi sampai 907 masehi. Kemudian, keduanya menjadi produk global pada masanya.

China mampu memproteksi dan mandiri dengan satu komoditas bahan baku vital dan strategis bagi kegiatan manufaktur. Komoditas ini diperlukan kurang lebih 400 jenis industri modern, mulai dari industri makanan dan minuman, farmasi, minyak dan gas, reaktor nuklir, hingga storage untuk baterai listrik yang menjadi kunci dari energi hijau. Apakah komoditas itu? Garam.

Strategi Belt and Road Initiative China dan Strategi Nine Dash Line China di Kawasan Laut China Selatan seolah tidak terbendung dan tidak gentar menghadapi berbagai tekanan dari negara lain. Bahkan, China mampu mengatasi perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) di era Trump yang menjegal Trump menjabat kedua kalinya sebagai Presiden AS.

China mengembangkan strategi Belt and Road Initiative maupun negosiasi terkait Nine Dash Line yang penuh kontroversial itu dengan berbasiskan landasan sejarah arkeologi industrinya. Ini bukan hanya soal jalur perdagangan. Jika ditelaah lagi, jauh sebelum China menguasai teknologi informasi dan komunikasi dengan mempelopori 5G, China konsisten menguasai bahan baku dasar yang vital dan strategis dan dibutuhkan hampir semua jenis industri yang terus berkembang dari era masa pra sejarah hingga menjelang society 5.0.

Saat virus Covid-19 muncul di Wuhan, kemudian merebak ke seluruh dunia, China malah menguasai delapan puluh persen jalur perdagangan yang berbasis industri dunia. Juga ketika Ningbo Port ditutup beberapa minggu karena salah satu stafnya terinfeksi Covid-19 varian Delta. Hingga saat ini jalur logistik belum sepenuhnya pulih normal, sehingga masyarakat Amerika Serikat akan kesulitan mencari hadiah natal di bulan Desember, karena pengiriman mainan-mainan anak ke AS terkendala.

Semua itu tidak terjadi dengan tiba-tiba atau dengan melakukan ATM dari teknologi barat saja. Pemerintah China mengembangkan strategi Belt and Road Initiative dan Nine Dash Line dengan perhitungan matang kekuatan industrinya. Diawali dengan penguasaan bahan baku dasar dan vital, yaitu garam. Sejarah garam di China berawal kurang lebih 6000 tahun yang lalu, berlanjut pada 4700 tahun yang lalu, di era kaisar China bernama Huang Di, garam menjadi barang negara dan dikuasai oleh negara secara monopoli.

Huang Di yang kekuasaannya meliputi seluruh kawasan China modern di wilayah Sungai Kuning atau Yellow River (Huang He) yang membentang dari China bagian utara hingga China bagian barat daya sejauh 1900 kilometer. Huang Di memperlakukan garam sebagai materi yang sangat berharga. Kemudian, berkembanglah industri dasar porselen, farmasi, persenjataan, dan pengawetan makanan yang memungkinkan keberlanjutan produksi suatu komoditas makanan dan minuman, termasuk teh terjadi dalam skala besar.

Kini di era green economy, pembangunan rendah karbon menjadi topik besar para pemimpin dunia di Konferensi Tingkat Tinggi Grup Dua Puluh (KTT G20) di Roma dan Konferensi Tingkat Tinggi Iklim UN Climate Change Conference of the Parties ke 26 (KTT COP26) kemarin. Disadari atau tidak, garam menjadi komoditas vital. Perkembangan teknologi storage baterai yang dibutuhkan dalam teknologi baterai untuk kendaraan listrik, panel surya, bahkan reaktor nuklir membutuhkan garam.

China adalah penghasil garam terbesar dunia sebanyak 23 persen, diikuti AS sebesar 15 persen dan India 9 persen. China sekaligus pengguna garam terbanyak di dunia untuk manufakturnya, tak heran, industri manufaktur China begitu tangguh.

Dengan menguasai bahan baku garam, pola monopoli garam oleh Pemerintah China dilakukan dengan merevitalisasi jejak sejarah peradaban negeri mereka. Kegiatan-kegiatan penelitian integratif diawali dari kajian arkeologi, sejarah, sosiologi, serta human geography. Kemudian, penelitian ini digunakan sebagai dasar membaca kewilayahan masa lalu untuk diprediksikan dan ditingkatkan dengan perkembangan teknologi, evidence based policy, dan science based policy.

China tidak berangkat dari ‘katanya dulu leluhur kita’, tetapi membuat kajian berbasis arkeologi super serius untuk menjadi landasan kebijakan negaranya dan menjadi alat diplomasi dengan negara lain, baik secara multilateral maupun bilateral. Sehingga, strategi Belt and Road Initiative serta Nine Dash Line yang diintegrasikan dengan rencana kerja China Green Vision, membuat negara-negara barat yang selama ini mendominasi kerjasama multilateral goyang. Mereka membuat konsep yang sulit untuk dibantah karena memiliki bukti yang rigid, komprehensif, dan memiliki banyak kesesuain dengan standar global di berbagai sektor.

Perdagangan antara Laut Bengal di India ke Laut Jawa di Indonesia adalah jalur perdagangan yang jauh lebih tua dari jalur perdagangan era Selat Malaka. Komoditas utamanya adalah beras dan rempah. Tidak mengherankan apabila relasi Indonesia dan India terjalin sejak awal abad masehi. Keberadaan candi-candi di Indonesia menjadi salah satu penandanya. Samudra Raksa salah satu relief kapal yang terukir di Candi Borobudur menggambarkan perkasanya Mataram Kuno. Menjadi bukti bahwa Mataram Kuno adalah global player komoditas beras yang menguasai jalur Samudra Hindia dan Laut China Selatan.

Proses ekspor memakan waktu lebih lama dibanding masa sekarang tentu membutuhkan teknik pascapanen yang tidak main-main agar beras sampai tetap dalam kondisi yang baik. Teknik pengeringan yang jelas sudah maju dan proses-proses lain yang terkadang membutuhkan minyak atsiri merupakan penerapan teknologi nano yang saat ini dianggap sebagai future of food safety atau biotechnology. Demikian juga berlaku untuk komoditas lain berupa rempah dan produk pangan lain yang membutuhkan proses pengawetan.

Di mana keterampilan dan teknik tersebut bisa dipelajari? Kenapa sekarang seolah-olah semua hilang? Jangankan dari pascapanen dan pengawetan, dari sisi hulu produksi saja, sekarang Indonesia mengimpor beras. Bahan baku rempah untuk industri obat herbal juga impor.

Tahun 2021, Indonesia mengimpor 3,07 juta ton garam dari total kebutuhan garam nasional sebanyak 4,6 juta ton. Impor garam tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri klor-alkali, farmasi, makanan, kosmetik, dan pengeboran minyak. Jadi, cukup tergambarkan bagaimana nasib industri Indonesia?

Dengan UMKM yang 80 persen bergerak di sektor olahan pangan, Indonesia sangat tergantungnya pada pihak luar. PR kita sangat banyak, tidak cukup hanya berteriak ‘merdeka’ untuk memahami Indonesia.

Untuk integrasi ke green economy dan net zero carbon, setidaknya perlu memotong carbon print dari kegiatan ekonomi dengan menjadi mandiri dalam pengadaan garam misalnya. Karena dari rempah, kita juga memiliki dasar perindustrian dan koneksi kewilayahan. VOC bahkan memindahkan ibukotanya dari Ambon ke Batavia mengikuti jejak perindustrian nusantara. Minyak atsiri salah satu contoh produknya. Jadi, soal rempah memang panjang urusanya. Bukan sekadar cengkeh, lada, pala, jahe, kemukus, serta gambir dalam bentuk raw material.