Kesadaran Sosial dalam Pengelolaan Sampah Kalurahan Panggungharjo

Pekerja KUPAS. IYA

Unit Kelompok Usaha Pengelola Sampah (KUPAS) adalah tempat pertama yang saya datangi saat survei locus (tempat yang menjadi objek penelitian) Laboratorium Sosial (Labsos). Ini merupakan pengalaman pertama saya ke Rumah Pengelolaan Sampah (RPS) dan melihat dengan mata saya sendiri bagaimana para karyawan bekerja. Banyak hal baru yang saya temukan.

Saya kagum dengan para pekerja di sana. Mereka seakan tidak mencium bau sampah sama sekali dan bekerja dengan sangat tulus. Bagi saya, apa yang ada di KUPAS adalah sampah, tapi menurut mereka itu semua adalah uang. Bukan hanya saya, pasti banyak orang meremehkan sampah dan menganggap bahwa barang kotor ini tidak bernilai. Namun untuk para pekerja KUPAS, ini adalah sumber penghasilan yang menghidupi mereka.

Pernyataan tersebut membuat saya merenung sekaligus tertampar. Selama ini kesadaran terhadap lingkungan sangat kurang. Beruntung Wahyudi Anggoro Hadi selaku Lurah Panggungharjo, berinovasi untuk memberdayakan warganya mengelola sampah. Pemerintah Kalurahan Panggungharjo membangun sebuah tempat pengelolaan sampah terpadu dengan slogan ‘peduli sampah untuk masa depan anak cucu kita.’ Slogan tersebut mengajak warga Panggungharjo untuk lebih peduli pada lingkungannya.

KUPAS merupakan unit usaha pertama yang dimiliki BUMDes Panggung Lestari berdiri pada awal 2013. KUPAS memfokuskan usahanya pada bidang jasa pengelolaan sampah. Memiliki 14 padukuhan, Kalurahan Panggungharjo menghasilkan sampah rumah tangga yang begitu banyak. Jika tidak dikelola, sampah-sampah ini akan menumpuk dan menyebabkan banyak masalah.

Berdirinya KUPAS merupakan upaya mengurangi dampak buruk yang ditimbulkan sampah bumi melalui pola produksi dan konsumsi yang sewajarnya. Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator penting dalam mewujudkan kesejahteraan warga. Namun, pertumbuhan ekonomi yang diiptakan harus mempertimbangkan keberlanjutan juga.

Oleh karena itu, diperlukan langkah pengurangan jejak ekologi dengan mengubah cara produksi dan konsumsi makanan dan sumber daya lainnya. Pemisah pertumbuhan ekonomi dari penggunaan sumber daya dan degradasi lingkungan adalah salah satu tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Desa.

Efisiensi dalam pengelolaan sumber daya alam milik bersama serta upaya mengurangi sampah beracun dan polutan adalah target penting untuk meraih tujuan ini. Salah satunya, dengan mendorong warga, pengusaha, serta konsumen untuk mendaur ulang dan mengurangi sampah. Untuk itulah, diperlukan pergeseran aktivitas produksi dan konsumsi yang berkelanjutan.

Selain itu, terkait desa dengan kesadaran lingkungan, kita harus memiliki kesadaran terhadap analisis sosial. Analisis sosial merupakan usaha untuk menganalisis suatu keadaan atau masalah sosial secara objektif. Analisis sosial berguna untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai situasi sosial dengan menelaah kaitan-kaitan historis, struktural, dan konsekuensi masalah.

Analisis sosial akan mempelajari struktur sosial, mendalami fenomena-fenomena sosial, kaitan-kaitan aspek politik, ekonomi, budaya, dan agama. Sehingga, akan diketahui sejauh mana terjadi perubahan sosial dan juga dampak sosial yang muncul akibat masalah sosial.

KUPAS menjemput sampah dari tiap rumah, memilah sampah, dan mengelola sampah seperti Tempat Pengelolaan Sampah reuse, reduce dan recycle (TPS3R). Konsep utama pengelolaan sampah pada TPS3R adalah untuk mengurangi kuantitas dan memperbaiki karakteristik sampah yang akan diolah secara lebih lanjut di tempat pemrosesan akhir, serta diharapkan berperan dalam menjamin kebutuhan lahan yang semakin kritis untuk penyediaan TPA di perkotaan. Sejalan dengan kebijakan nasional, untuk meletakan TPA sampah pada hierarki terbawah, sehingga meminimalisir residu yang hanya ditimbun di TPA.

Seperti dikutip dari Waste4Change, ada perbedaan antara TPS dan TPA. TPS melakukan berbagai kegiatan seperti pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, mendaur ulang, pengelolaan, dan pemrosesan akhir sampah. Sedangkan, TPA melakukan pengurugan dengan metode landfill yang dikembangkan menjadi controlled landfill dan sanitary landfill.

Tujuan program ini adalah untuk memberi sarana kepada masyarakat di kawasan pemukiman padat untuk melakukan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang sesuai dengan pilihan dan kondisi lingkungan sekitar mereka. Adapun tujuan TPS3R ini adalah masyarakat dapat mengenal fungsinya berdasarkan jenis, serta dapat melakukan pengomposan sendiri. Operator dapat melakukan pemilahan sampah dan pengomposan tingkat kawasan, menyediakan pupuk organik yang murah dan berkualitas untuk petani, mendongkrak perekonomian daerah, serta membentuk legalitas struktur organisasi yang terpercaya dan mandiri.

Konsep yang ditawarkan KUPAS adalah adanya layanan penjemputan sampah, kepastian jadwal penjemputan sampah, kemudahan sistem pembayaran retribusi sampah dan adanya fasilitas tempat sampah yang layak. Ini muncul akibat kesulitan membuang sampah, yang dan ketidaknyaman atas dampak dari tidak terkelolanya sampah.

Tugas fungsional KUPAS adalah pembuangan sampah, penanganan sampah organik dan residu, serta penjualan sampah anorganik (rongsok). Penyelesaiannya berupa terkelolanya sampah yang dihasilkan dan tidak ada sampah tersisa di rumah. Manfaatnya, adanya standar layanan penjemputan sampah. Bentuk konkritnya adalah layanan penjemputan sampah, fasilitas tempat sampah yang layak dan pembelian sampah anorganik.

Indikator keberhasilan SDGs Desa ini dapat dilihat dari keberhasilan kebijakan desa yang mengatur tentang pengelolaan limbah industri, efisiensi penggunaan sumber daya alam, serta pengelolaan sampah rumah tangga maupun industri. Dengan adanya KUPAS, warga Panggungharjo sadar terhadap analisis sosial dan sadar akan lingkungan. Warga Panggungharjo mampu meninggalkan kebiasaan yang merugikan bumi. Inovasi ini terlaksana dan dapat menjadi contoh bagi desa-desa yang lain, agar pembuangan sampah itu tepat sasaran.