Kita Adalah Penulis, Maka Kita Harus Menulis

Meet and Greet Pandiva Media Network. PANDIVA

Sejak menerima amanah sebagai chief editor Jogjadaily.com, rasa penasaran saya terhadap model bisnis Pandiva Media Network (PMN) semakin membuncah. Semakin menarik untuk menemukenali simpul-simpul jejaring mulai dari founder PMN, seperti chairman, corporate secretary, marketing officer, dan publishing editor. Ditambah lagi adanya chief editor, executive editor, editorial secretary, dan editor.

Belum lagi ada istilah-istilah yang menurut saya baru, seperti editorial board, imprint, writers, dan agency writers. Adanya forum-forum yang digagas oleh PMN, seperti rapat kerja dan meet and greet. Dari rapat kerja inilah awal mula kebingungan mulai terpecahkan satu per satu. Dan banyak hal yang didapat ketika acara meet and greet, kemarin Senin, 10 Januari 2022.

Pertama, jalinan silaturahmi semakin akrab antara corporate, Jogjadaily.com, editorial board, writers, agency dan beberapa imprint dalam bingkai PMN. Kedua, mulai terbangun ruang-ruang untuk berkomunikasi dan berkolaborasi, satu misi dan visi bersama untuk membangun literasi bersama dalam wadah PMN.

Literasi didefinisikan sebagai kemampuan dan ketrampilan individu dalam berbahasa yang meliputi membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan menurut kamus PMN bahwa literasi didefinisikan lebih sempit lagi dengan menulis artikel progresif tentang konten-konten yang positif, fokus pada solusi pemecahan perekonomian, dan konten lokal kejogjaan yang diterbitkan melalui platform media online Jogjadaily.com, selanjutnya praktik-praktik baik tersebut didokumentasikan menjadi sebuah buku.

Hal tersebut yang menurut saya, yang bisa dijadikan oleh-oleh untuk semua orang yang peduli akan isu literasi. Satu lagi yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang di telinga saya adalah tagline kita semua adalah penulis. Oleh karena kita semua adalah penulis, maka sudah sewajarnya lah jika kita semua harus menulis. Menjadi penulis yang baik adalah bisa menuliskan sesuatu yang menarik tentu saja dengan bahan-bahan tulisan yang lengkap, akurat dan terpercaya.

Bahan-bahan tulisan yang lengkap, akurat dan terpercaya hanya akan didapatkan dengan cara menggalinya melalui membaca. Membaca merupakan cara penulis dalam menemukan gaya penulisan atau beat dalam menulis. Membaca juga dapat menentukan bagaimana gaya kalimat yang mencirikan identitas penulis yang tidak dimiliki oleh penulis-penulis lainnya. Membaca juga akan memperkaya diksi dan akan membuat tulisan semakin enak dibaca dan enak didengarkan oleh pembaca.

Bukannya ayat yang pertama kali yang diturunkan oleh Allah SWT melalui perantara malaikat Jibril as kepada Nabi Muhammad SAW, juga terkait perintah untuk iqra (bacalah). Iqra yang dimaksudkan dalam QS Al Isra, adalah membaca ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah. Ayat-ayat qauliyah sudah pasti terkait dalil naqli melalui dua sumber hukum yaitu Al Qur’an dan Al Hadist. Ayat-ayat kauniyah ini, adalah dengan membaca kehidupan. Dilakukan dengan cara membuka mata dan hati kita untuk membaca kehidupan kita.

Bagi para penulis pemula, mulailah menulis dengan perasaan senang dan gembira. Menulislah dengan topik-topik yang paling dikuasai dan yang paling disukai. Menulislah hal-hal yang menyenangkan seperti: dengan cerita-pengalaman yang paling dekat dengan diri penulis. Mulai dari keluarga penulis, tetangga penulis, saudara penulis, melalui melihat sisi kampung penulis, desa penulis, teman tapi mesra penulis, teman kerja penulis, mitra bisnis penulis, bidang yang sedang digeluti oleh penulis saat ini, dan lain sebagainya.

Menulislah dengan gaya naratif-deskriptif, karena saat ini gaya tulisan seperti ini baru naik daun dan banyak menyedot perhatian pembaca. Gaya menulis seperti ini, akan menghindari perilaku tidak terpuji (plagiarism). Gaya menulis seperti ini, juga dapat memproduksi kalimat-kalimat sampai berfrase-frase tanpa penulis sadari telah memakan ribuan kata, seperti yang dilakukan oleh Jogjadaily.com dengan mensyaratkan panjang minimal 1.400 kata.

Gaya menulis seperti ini, menjadi kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi penulis yang bersumber pada gagasan atau ide sendiri tanpa harus menyadur gagasan atau ide milik orang lain. Menulis sesuai platform Jogjadaily.com tentu saja ada diferensiasi yang ditentukan, seperti: 100% konten lokal kejogjaan, konten-konten positif, fokus pada isu-isu daerah terutama pada perekonomian dan fokus pada literasi.

Literasi menurut Jogjadaily.com adalah menulis konten artikel progresif dan penerbitan buku. Meminjam kalimat dari Wahyudi Anggoro Hadi bahwa: ‘selama ini kita hanya mewarisi tanah tetapi kita tidak mewarisi pengetahuan’.

Di sekitar kita banyak pengetahuan yang bersumber pada praktik-praktik baik yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten/Kotamadya, Pemerintah Kapanewon, dan Pemerintah Kalurahan yang masih berserakan di mana-mana dan tidak ada yang mendokumentasikan dengan baik. Maka saat ini, sudah menjadi fardhu ‘ain untuk mendokumentasikan semua pengetahuan yang bersumber pada praktik-praktik tersebut menjadi sebuah Buku.

Dari sharing pada acara meet and greet kemarin, saya mencatat banyak pengetahuan yang masih berserakan pada masing-masing imprint yang harus segera ditindaklanjuti dengan mendokumentasikan menjadi sebuah buku. Pengetahuan yang masih berserakan tersebut antara lain: isu-isu perempuan berkebaya di Kulonprogo, memecah kebisuan sociopreneurship di Kulonprogo, maraknya pernikahan dini yang ditulis dalam lirik lagu Ayunda si Menik di Gunung Kidul, jajan tangga nglarisi konco (Jagoriko) di Bantul, isu Bantul Town bukan Bantul City, hukum bisnis, kemaritiman, kemiskinan, disabilitas, desa berbisnis, pertanian, dan lain sebagainya, yang menurut saya urgen untuk segera terealisasi menjadi sebuah buku.

Tentu saja, harapan kita semua, sebagai penulis ketika sudah berhasil mewujudkan pengetahuan menjadi sebuah buku, buku yang sudah dicetak tidak hanya menjadi asesoris pada lemari buku saja tanpa dibuka apalagi dibaca. Tetapi menjadi sebuah kebanggaan penulis, ketika buku laris terjual, banyak diminati pembaca, dijadikan referensi sumber pengetahuan oleh semua pihak yang membutuhkan buku pengetahuan tersebut.

Pengetahuan yang bersumber dari praktik-praktik terbaik yang telah ditulis dan didokumentasikan melalui sebuah buku, ketika menjadi candu penikmat literasi akan menambah penasaran generasi penerus sehingga akan berdampak pada tingginya minat membaca dan menulis pemuda khususnya di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Syukur-syukur buku yang telah diterbitkan oleh PMN menjadi ‘best seller’ berlipat ganda repeat ordernya, sehingga ada memberikan manfaat ekonomis bagi semua pihak. Melalui jaringan PMN ini, menurut nalar berfikir saya merubah pola pikir kita yang tadinya bahwa untuk menerbitkan sebuah buku merupakan hal sulit dan membutuhkan nilai project yang lumayan tinggi.

Ternyata tidak demikian dengan PMN, yang saya alami sendiri justeru berbanding terbalik, bahwa melalui jaringan PMN membuat buku karya sendiri dengan lebih mudah dan lebih murah. Impian penulis semakin dekat dengan kenyataan.

‘Menulislah, maka kau akan hidup seribu tahun lagi’ demikian quote dari Fenan Baharaudin. Siapapun boleh menulis dan harus menulis. Mulai dari santriwan/santriwati Madrasah Aliyah (MA) Ali Maksum, Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU), Dosen, Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), lurah, camat, bupati, Aparatur Sipil Negara (ASN), dokter hewan, penghulu, dan profesi lainnya.

Menurut Umar Kayam, bahwa teknik opening atau cara membuka cerita bagi Umar Kayam menjadi sangat penting. Oleh karena itu bukalah tulisan dengan kalimat yang enak. Kalimat yang enak diucapkan sekaligus enak didengar. Seperti Refrain sebuah lagu yang sekali dengar langsung nancep. Dalam menulis opini, esai, atau artikel perlu diperhatikan tiga sinkron: judul, paragraf pembuka, dan pesan utama.

Tulisan esai, opini, atau artikel progresif dinyatakan layak jika memenuhi syarat dan ketentuan sebagai berikut: ide atau sudut pandang yang baru, relevan, tunggal atau fokus, luas atau publik, konseptual atau paradigmatik. Sudut pandang yang lain atau berbeda menjadi sangat penting karena menyajikan sisi yang belum dipikirkan oleh publik luas dengan menambah khazanah referensi pembaca.

Menjadi tidak menarik ketika tulisan satu sisi yang semua orang membicarakan wajah depan isu (pasaran atau common sense). Penulis yang baik, tidak akan menulis hal-hal plagiarism (menjiplak persis tulisan orang lain). Penulis yang baik, akan menulis karya-karya yang bersifat orisinal dan tidak pasaran. Penulis yang baik, bisa juga menulis imajinasi terhadap fenomena yang lagi trending atau viral, tetapi dalam platform Jogjadaily.com harus bersifat positif. Penulis dapat melihat dari perspektif jauh ke depan, semacam imajinasi, hipotesis, atau prediksi yang akan terjadi dan risiko apa jika dibiarkan hal itu terjadi.

Sekali lagi, bahwa literasi menurut PMN adalah kita semua adalah penulis, maka kita harus menulis. Menulislah senyaman mungkin, seenjoy mungkin, sehappy mungkin sehingga akan mengalir begitu saja seperti mengalirnya air dari sumber mata air di pegunungan sana mengaliri sungai-sungai besar, sungai-sungai kecil, dan akhirnya sampai juga ke area persawahan para petani yang sedang bersiap untuk menanam padi. Baik atau buruknya tulisan itu berkelindan dengan konsistensi dan jam terbang dari penulis.

Baik menurut kita belum tentu baik menurut pembaca. Buruk menurut kita belum tentu juga buruk menurut pembaca. Tetapi pembaca lebih suka tulisan yang orisinal, relevan dengan situasi dan kondisi terkini, dan menurut perspektif yang lain daripada yang lain, dan tidak pasaran. Dalam teori menulis, tidak ada yang benar dan yang salah. Adanya hanya enak dibaca dan didengarkan, seperti refrain sebuah lagu yang akan mudah dihafalkan walaupun kita tidak tahu artinya.

3 thoughts on “Kita Adalah Penulis, Maka Kita Harus Menulis

Add Comment