Tingkatkan Dopamin Melalui Musik di Tengah Pandemi

Konser Dangdut di Taman Budaya Yogyakarta. TBY

Atiek seorang guru bertanya kepada siswa didiknya ketika sedang Zoom Meeting di suatu pagi menjelang siang terkait bidang ekstrakurikuler yang telah dipilih siswa didiknya. Betapa terkejutnya, ketika Atiek bertanya satu per satu kepada siswa didiknya, diperoleh fakta bahwa sebagian besar pilihan ekstrakurikuler siswa didiknya adalah olahraga dan english club.

Dengan nada bicaranya yang canda nan ringan, Atiek sedikit berkomentar kepada siswa didiknya, “Hidup kalian saat ini bahagia-bahagia saja, kan?”

Iya, berdasarkan hasil tanya jawab dengan siswa didiknya, sangat sedikit yang pilihan ekstrakurikuler di bidang seni, baik seni rupa, seni teater, seni tari, dan tentu saja seni musik. Hanya satu atau dua orang dari ratusan siswa yang memilih seni musik.

Masih menurut Atiek, ia bertanya seperti itu karena dengan belajar seni musik dapat memunculkan perasaan bahagia. Ekstrakurikuler seni musik juga menawarkan pelatihan grup vokal, grup band, dan karawitan. Dengan mengikuti esktrakurikuler ini dijamin hatinya menjadi senang. Ekstrakurikuler seni musik pun dapat meningkatkan imun tubuh di masa pandemi Covid-19.

Penasaran dengan yang dikatakan oleh Atiek, saya mencari di Google terkait kebenaran musik dapat meningkatkan imun tubuh seseorang. Berdasarkan hasil pencarian, saya menemukan manfaat musik dalam kesehatan yang dimuat pada laman alodokter.com. Enam manfaat musik bagi kesehatan yang jarang diketahui adalah menghilangkan suasana hati yang buruk, mengatasi gangguan tidur, mencegah kejang pada penderita epilepsi, membantu pemulihan setelah operasi, membantu pemulihan strok, dan mengatasi stres.

Jika rajin membuka wawasan terkait manfaat atau fungsi musik di Google, pasti akan menemukan banyak tulisan yang membahas tentang hal tersebut. Berdasarkan beberapa artikel, banyak yang menyebutkan musik dapat mengurangi depresi, redakan stres, meningkatkan daya ingat, mengurangi tekanan darah, dan meningkatkan daya imun tubuh. Bahkan, ada yang menyebutkan bahwa musik mampu meningkatkan produksi dopamin agar bahagia.

Dopamin (C8H11NO2) adalah salah satu senyawa kimia organik yang berfungsi sebagai hormon dan neurotransmiter (molekul pembawa sinyal di antara neuron), serta mempunyai peran penting di dalam otak. Dalam keterangan lain Dopamin merupakan zat kimia di dalam otak yang bisa meningkat kadarnya saat seseorang mengalami sensasi yang menyenangkan, salah satu ketika mendengarkan musik.

Sebagai rakyat awan, wong cilik, saya dan bisa jadi tetangga saya, keluarga saya atau teman saya di manapun berada, akan merasa lega ketika mendengarkan lagu dangdut secara live di lapangan terbuka, kafe-kafe musik, atau aula tertutup. Saya yakin sekali dengan menonton konser live musik dangdut seperti itu akan berdampak pada meningkatnya daya imun tubuh kita.

Pada era pandemi Covid-19, usaha untuk menjaga dan meningkatkan imun tubuh sangatlah dibutuhkan. Sayangnya, salah satu wadah untuk berekspresi yang mendukung imunitas tubuh berupa tontonan konser live musik dangdut dilarang. Tetapi, pemerintah juga terlalu gegabah melarang dengan alasan menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas dapat meredam lonjakan angka Covid-19, namun fakta di lapangan, hal tersebut kurang efektif.

Semestinya, menonton live musik dangdut tidak dilarang seratus persen, tapi perlu dikontrol dengan pembatasan tertentu, seperti yang diberlakukan pada pembukaan mall-mall dengan syarat penonton konser harus sudah vaksin, minimal vaksin pertama dan juga telah dinyatakan negatif setelah tes PCR.

Saya sepakat dengan pendapat para ahli epidemiologi bahwa pemerintah harus lebih menguatkan 3T Covid-19; testing (tes); tracing (telusur); dan treatment (tindak lanjut) untuk memutus rantai penularan. Saya juga yakin-seyakinnya bahwa menonton konser live musik dangdut dapat meningkatkan imun tubuh para penonton, pencinta atau fansnya.

Beberapa ada yang mengatakan bahwa menonton konser live musik dangdut bisa melalui televisi atau beberapa kanal Youtube. Saya tegaskan sekali lagi, itu dua hal yang berbeda. Saya ingin bertanya, ketika menonton siaran langsung sepak bola di televisi dengan menonton langsung di stadion, euforianya lebih terasa yang mana?

Menurut saya, tetap beda sensasinya dan beda dalam memproduksi dopamin. Apalagi ketika pemain andalan kita berhasil menjebol gawang lawan, kita akan lebih lepas mengekspresikannya. Demikian pula ketika kita sedang menonton konser live musik dangdut di lapangan terbuka, convention hall, atau kafe-kafe musik mirip dengan menonton sepak bola di stadion sepak bola.

Apalagi yang main adalah tim kesayangan kita, sebagai orang Bantul tim sepak bola kesayangannya adalah Persiba Bantul. Demikian juga, sebagai anak millennial zaman sekarang, akan merasa bahagia, senang sekali, dan suka cita ketika penyanyi dangdut favoritnya performance konser live musik dangdut, seperti Sedoyo Mawut.

Sementara menurut Bu Atiek, sebagai Guru SBK Seni Musik, merasa bahagia yang luar biasa ketika bisa mengajar seni musik dan membuat siswa didiknya hanyut, larut tanpa memikirkan pelajaran yang abot seperti pelajaran exact.

Sementara, menurut Sedoyo Mawut, dalam sebuah lirik lagunya,”loske wae aja dipikirke, kabeh ana dalane, happy aja lupakan yang menyakiti kita. Begini cara Sedoyo Mawut ketika berinteraksi dengan fans nya ketika performance konser live musik dangdut dimanapun tempatnya, mau di lapangan terbuka, mau di kafe musik atau hall tertutup, dan selalu diakhiri dengan lirik lagu, “loss… mboh… sekarepmu”. Pokoknya dengan menonton live musik dangdut hati jadi bahagia, yang akan berdampak meningkatkan daya imun tubuh kita.

Tulisan ini sudah pernah publish di media Qureta.com pada tanggal 18/08/2021 dengan judul yang berbeda dan telah mengalami penyuntingan pada beberapa kalimatnya.