Laboratorium Sosial, Bentuk Mental Kerupuk Jadi Mental Baja

Mahasiswa Labsos UNU di Yayasan Sanggar Inovasi Desa. AHMAD SYAHRUDDIN

Tanggal 13 Desember 2021 adalah hari penerjunan mahasiswa Laboratorium Sosial (Labsos) UNU ke masyarakat. Kegiatan yang melibatkan masyarakat dikemas dalam bentuk survei terkait dengan kebutuhan konsumsi sayuran rumah tangga tahun 2021 yang diselenggarakan Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID). Ada 14 padukuhan di Kalurahan Panggungharjo yang akan disurvei. Sekitar 1500 orang menjadi responden. Setiap mahasiswa diberi amanah untuk mencari 70 responden.

Rasa gelisah terus memenuhi dada. Seakan-akan ingin berhenti dan tidak melanjutkan kegiatan ini. Sebab, saya sering gugup ketika berjumpa dengan banyak orang, terlebih lagi jika bertemu orang yang masih belum dikenal.

Kala perasaan gugup itu datang, seketika saya tidak bisa berbicara sama sekali. Hal yang ingin terucap langsung menghilang. Salah satu dari sekian banyak alasan saya takut bertemu dengan orang adalah public speaking yang sangat buruk.

Semalaman saya sampai tidak bisa tidur gara-gara memikirkan kegiatan survei yang akan dilakukan seorang diri. Dalam hati saya berbicara, “Apakah saya bisa menyelesaikan survei ini dengan kondisi yang seperti ini?”

Sampai subuh saya tidak bisa tidur. Saya pun menyadari bahwa ketakutan ini hanya akan membuat saya tidak dapat merubah diri menjadi yang lebih baik. Ketakutan hanya membuat saya terpuruk. Ketakutan membuat saya kehilangan banyak hal. Banyak peluang bagus yang saya sia-siakan karena takut mencoba. Dengan adanya survei ini, saya bertekad membentuk dan memperbaiki mental kerupuk saya menjadi mental baja.

Namun, ketika sedang berjuang menuju sesuatu yang ingin kita capai, tentu banyak rintangan atau cobaan yang menerpa. Salah satunya adalah diremehkan banyak orang dan sebagainya. Mau tidak mau, kita harus menahan diri terhadap cacian mereka. Pasang hati yang kuat dan tutup telinga.

Ada prinsip yang saya ingat, yaitu hidupku untukku dan hidupmu untukmu. Jika selalu memikirkan omongan mereka, itu membuat kita akan berhenti di tengah jalan. Rasa sakit hati memang ada, rasa ingin balas dendam pun ada, namun kita tidak perlu balas dengan keburukan. Lebih bijak, balas dengan pembuktian bahwa kita mampu.

Menurut saya, kegiatan survei ini adalah sesuatu yang sangat mendukung dalam pembentukan mental karena kita pasti menghadapi orang-orang yang melakukan penolakan. Sebab, tidak semua warga ingin berpartisipasi dalam kegiatan survei. Ada yang menolak dengan cara yang tegas, namun baik. Ada pula yang menolak secara tidak langsung. Oleh karena itu, kita harus menguatkan hati agar tak mudah menyerah dengan kalimat penolakan.

Kegiatan survei mengajarkan tentang kegigihan dan pantang menyerah sebelum tercapainya tujuan. Saya sangat dipaksa menjadi sosok yang tangguh dan tak banyak mengeluh. Selayaknya manusia, mengeluh memang diperlukan untuk melepaskan beban dari hati dan pikiran, namun terlalu sering mengeluh juga tidak dianjurkan.

Pada hari pertama survei, sebelum berangkat ke lokasi, pikiran-pikiran buruk memenuhi kepala. Tapi, mau bagaimana lagi? Ini kewajiban saya sebagai mahasiswa yang harus dipenuhi. Padukuhan Jaranan menjadi jatah saya melakukan survei. Patut mengucap syukur, sebab ada teman-teman yang berencana ikut dengan saya. Hati jadi sedikit tenang.

Rencana pertama kami adalah datang ke rumah Kepala Dukuh Jaranan untuk meminta izin survei, tetapi sesampai di rumahnya, ia tidak ada. Jadi, kami pun langsung berangkat menuju rumah Kepala Dukuh Sawit.

Tanpa meminta izin kepada ketua RT ataupun Kepala Dukuh Sawit, kami langsung berpencar. Tidak membutuhkan waktu lama, saya menemukan warga yang sangat baik. Awalnnya, sangat bingung cara mengawali pembicaraan, lidah saya kelu, dan ucapan yang keluar tidak jelas.

Sayang sekali, keberuntungan tersebut singgah dengan sekelebat. Sebab, seharian saya mengitari daerah Padukuhan Sawit hanya dapat dua responden, sedangkan teman saya ada yang mendapat sepuluh responden.

Pada hari kedua, saya pun memberanikan diri untuk terjun ke Padukuhan Jaranan sendiri karena teman-teman tidak ada kabar. Sebelum berangkat, saya berlatih berbicara sambil menghadap ke cermin. Kemudian, saya menyiapkan untaian kata basa-basi untuk membuka pembicaraan sebelum responden mengisi daftar pertanyaan.

Tempat yang pertama kali saya kunjungi adalah rumah kepala dukuh, tetapi ia sedang tidak ada di rumah. Saya pun melanjutkan ke rumah para ketua RT yang ada di Padukuhan Jaranan. Sama seperti kepala dukuh, semua ketua RT juga tidak ada di rumah. Agaknya, kegiatan pada hari itu juga tak berjalan baik, saya pun memutuskan untuk kembali.

Hari ketiga survei di Padukuhan Jaranan, akhirnya saya bertemu dengan kepala dukuh. Setelah mengantongi izin, saya meminta nama warga Jaranan yang kira-kira sedang berada di rumah dan dapat mengoperasikan ponsel untuk menginput jawaban.

Saya pun diarahkan oleh kepala dukuh agar meminta kepada ketua RT. Saya menuruti perkataannya dan berkeliling ke setiap ketua RT, tetapi saya diarahkan ke ibu-ibu PKK. Bahkan, ibu-ibu PKK meminta saya untuk menanyakan hal tersebut kepada kepala dukuh. Bagaimana tidak kesal? Sudah mengitari padukuhan, namun tidak ada kejelasan sama sekali. Saya memutuskan untuk pulang daripada semakin kesal.

Hari keempat, kami diarahkan oleh pihak Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID) untuk terjun ke Padukuhan Krapyak Kulon. Alhamdulillah, saya mendapatkan banyak responden. Dengan ajaib, hasil dari latihan berbicara sambil bercermin dapat diimplementasikan dengan baik ketika melakukan wawancara ke responden. Saya cukup terkesan dengan improvisasi tersebut. Sebab, tidak merasa gugup sama sekali dan mampu berbicara dengan lancar.

Setelah kegiatan di Padukuhan Krapyak Kulon, saya menyadari bahwa rasa takut hanya akan menghabiskan waktu. Saya anggap, mental saya sudah mulai terbentuk di hari keempat. Walaupun masih belum maksimal, ini sebuah kebanggaan karena hari pertama survei berujung dengan buruk. Paling tidak, ada kemajuan sejak hari itu.

Saya tidak ingin terlalu bangga dulu dengan kemajuan ini. Barangkali, keberuntungan yang menghampiri hanya kebetulan. Saya harus terus berlatih dan berproses. Keberhasilan akan tercapai ketika kita selalu mengasah kemampuan. Sama halnya dengan membentuk mental pada diri seseorang.

Memang betul, mental itu harus sering dilatih. Jangan sampai mempertahankan mental krupuk dalam diri kita, karena dapat membatasi kebebasan diri dengan segala ketakutan yang belum tentu terjadi. Saya harus punya mental seperti baja agar mampu menahan beban yang begitu berat dan tahan banting. Sebab, ada banyak tujuan yang harus saya capai.

Namun, kita perlu tahu arti mental sebenarnya. Jadi, mental adalah sebuah kondisi tentang stabilitas jiwa yang melekat dalam diri dan menjadi sebuah dasar daripada apa yang akan diperbuat oleh manusia.

Mengapa mental kuat harus dibentuk? Selain untuk menjadi pribadi yang tangguh dan memiliki akhlak karimah, mental yang kuat akan membuat berani dalam mengambil keputusan.

Thomas Edison pernah diuji mentalnya ketika pabrik yang ia dirikan terbakar pada tahun 1914. Kejadian itu menghancurkan prototipe buatannya dan merugi hingga 23 juta USD. Respon Edison saat itu sederhana, “Semua kesalahan kita habis terbakar. Sekarang, kita bisa mulai lagi dari awal.” Reaksi tersebut adalah bukti kekuatan mental yang melihat kesempatan dan mengambil reaksi terhadap suatu masalah.

Menurut saya, kegiatan survei ini sangat bermanfaat. Sebab, mental akan terbentuk ketika kita mampu untuk memahami dan mengendalikan emosi negatif dalam diri, memilki rasa percaya diri, mampu beradaptasi, mampu menerima kegagalan, tidak berlarut larut dalam kesedihan, tidak menjadikan kesalahan sebagai beban, dan tidak membandingkan diri sendiri dengan orang.

Semua energi positif tersebut bisa saya pelajari ketika melakukan survei ke warga Panggungharjo. Menghadapi karakter warga yang berbeda-beda dan keadaan yang tak selalu sesuai dengan rencana ketika survei, perlahan memupuk mental saya menjadi lebih tangguh dan bangga terhadap diri sendiri.

Add Comment