Memotret Model Bisnis Kampoeng Mataraman

Para Karyawan Kampoeng Mataraman. IG/KAMPOENGMATARAMAN

Saya mendapat kesempatan mengikuti Laboratorium Sosial (Labsos) di Kalurahan Panggungharjo. Desa ini mendapat predikat sebagai desa percontohan di Indonesia. Banyak hal menarik yang ada di dalamnya.

Setelah mengikuti kegiatan selama satu minggu, saya begitu terkesima dengan Kalurahan Panggungharjo. Bagaimana tidak terkesima? Banyak sekali unit usaha yang dikembangkan. Sekian unit usaha yang dikembangkan, pilihan saya adalah Kampeoeng Mataraman.

Kampoeng Mataraman merupakan unit usaha yang bergerak dalam bidang pariwsata sejarah dan kuliner dengan mengusung tema Kerajaan Mataram pada abad ke-19. Tempat ini berdiri berdasarkan ide dari Wahyudi Anggoro Hadi selaku Lurah Panggungharjo.

Wahyudi pernah merasa gelisah karena di Panggungharjo tidak ada bentang alam yang mumpuni untuk dijadikan tempat wisata. Selain itu, di desa ini banyak warga kurang mampu, pendidikan yang rendah, serta potensi diri yang kurang dan berujung menjadi pengangguran. Permasalahan tersebut memunculkan cita-cita baru, yakni Wahyudi ingin menampung warga Panggungharjo yang tidak bisa ditampung di tempat kerja lain, sehingga terbentuklah Kampoeng Mataraman.

Bukan bentang alam yang ‘dibawa’, tetapi bentang hidup dan itu menjadi nilai utama dari Kampoeng Mataraman. Sumber daya manusia Kampoeng Mataraman berasal dari warga Panggungharjo sendiri.

Tahun pertama berdiri, Wahyudi mengajak beberapa orang untuk berdiskusi terkait konsep yang akan diusung. Mereka yang tergabung dalam forum diskusi tidak ada yang memiliki ilmu dasar kewirausahaan restoran atau usaha kuliner. Hasil diskusi tersebut memunculkan ide rumah makan berkonsep Kerajaan Mataram abad ke-19. Arsitektur bangunannya pun menyerupai zaman tersebut.

Menurut penuturan Nuzulina selaku manajer Kampoeng Mataraman, ketika ia datang di Kampoeng Mataraman yang sudah beroperasi selama delapan bulan, prinsip-prinsip bisnisnya salah. Sebagai contoh, dalam usaha tidak boleh ada ikatan saudara dan harus kompeten di bidangnya, tetapi hal tersebut tidak berlaku.

Prinsip bisnis yang dianggap salah itu membuatnya unik dan menjadi beda dari rumah makan berkonsep jawa yang lain. Sebab, syarat utama menjadi karyawan Kampoeng Mataraman adalah warga asli Kalurahan Panggungharjo atau warga yang berdomisili desa tersebut. Syarat yang lain adalah adalah mau bekerja keras, bekerja dengan tim, dan bekerja sesuai arahan.

Ijazah tidak terlalu dibutuhkan untuk mendaftar sebagai karyawan Kampoeng Mataraman. Nuzulina pun mengungkapkan kesulitan selama menjadi manajer, yakni pembangunannya tidak sesuai dengan kaidah restoran karena desain usahanya tidak dilakukan oleh orang yang berpengalaman di bidang tersebut. Sebagai contoh, dapur belum memenuhi syarat serta belum adanya manajer yang mengurus area dari depan sampai belakang.

Karena Kampoeng Mataraman lahir untuk pemberdayaan warga Panggungharjo, jadi standar sumber daya manusia tidak sesuai Standar Operasional Perusahaan (SOP). Akan tetapi, dengan kekurangan yang dimiliki, Kampoeng Mataraman memiliki banyak prestasi pada tahun 2019.

Kampoeng Mataraman mendapat omzet 5,6 miliar dan membayar pajak sebesar 560 juta sehingga pada saat itu mendapatkan penghargaan dari kantor perpajakan daerah karena tertib dalam membayar pajak.

Kampoeng Mataraman merupakan penyumbang pendapatan terbesar Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Panggung Lestari. Selain itu, hal yang menarik adalah pembangunannya menggunakan Dana Desa yang dikelola oleh BUMDes Panggung Lestari dari tahun 2014.

Sudah ada tiga undang-undang desa yang mulai berlaku, salah satunya adalah untuk memajukan desa dan hal itu sudah dilaksanakan oleh Kalurahan Panggungharjo. Dalam perspektif ekologi, Kampoeng Mataraman bertugas dalam menjaga kemurnian tiga unsur, yaitu air, udara, dan tanah dari pencemaran yang tidak sehat.

Dalam perspektif ekonomi, Kampoeng Mataraman bertugas secara kolektif kolegial dalam memberdayakan warga sebagai pelaku langsung yang menggerakan ekonomi. Pelaku itu terdiri dari karyawan, pemasok bahan baku, dan mitra usaha.

Dalam perspektif budaya, Kampoeng Mataraman bertugas menjaga sandang, pangan, serta papan dalam balutan nuansa seni dan budaya khas kawulo alit di pedesaan.

Dalam era serba modern ini, banyak sekali tempat makan yang bertemakan restoran tempo dulu dengan menyediakan makanan berciri khas zaman dulu. Namun, berbeda dengan Kampoeng Mataraman, selain menjual makanan dengan ciri khas tempo dulu, juga memberikan edukasi tentang sejarah Kerajaan Mataram. Para karyawannya pun memakai pakaian tradisional, yaitu surjan lurik bagi karyawan laki-laki dan kebaya babat bagi perempuan.

Ketika pertama kali ke Kampoeng Mataraman, yang saya rasakan adalah atmosfer kebudayaan Jawa sangat terasa. Angin semilir dan musik langgam Jawa adalah harmoni yang semakin menimbulkan kesan syahdu. Tempat wisata yang berada di Jalan Riangroad Selatan ini mampu membuat para pembeli terkesima, karena tempatnya yang sejuk dengan khas pedesaan.

Selain itu, keunikan yang saya temukan di Kampoeng Mataraman adalah karyawannya ada yang seorang disabilitas. Menurut Wahyudi, penerimaan tenaga kerja yang relatif tidak diterima di pasar tenaga kerja adalah suatu perwujudan dari prinsip BUMDes Panggung Lestari dalam menjalankan fungsi pemerintah desa. Sebab, perilaku BUMDes tidak harus bertumpu pada profit, tetapi bertumpu pada kebermanfaatan bagi masyarakat.

Ketika saya terjun langsung di Kampoeng Mataraman, nuansa yang tercipta dari karyawan di sana seperti ada hajatan karena yang bekerja di sana kebanyakan ibu-ibu serta tempat yang ndeso semakin mengentalkan nuansa tersebut.

Pertama kali menginjakan kaki di Kampoeng Mataraman, saya ditempatkan di pawon (dapur). Hal itu cukup berkesan bagi saya. Kegiatan saya di pawon adalah plating makanan yang akan disajikan ke pelanggan.

Minggu kedua, saya berada divisi gudang. Divisi gudang dipimpin oleh Tari. Saya harus berangkat pukul tujuh pagi bersamanya untuk pergi ke Pasar Niten. Sayur, ayam, dan buah-buahan sudah diantar ke Kampoeng Mataraman sehingga pergi ke pasar hanya membeli kebutuhan yang kurang.

Kampoeng Mataraman membeli barang kebutuhan pangan dengan kualitas yang bagus. Bagian terpentingnya, makanan yang ada merupakan makanan sehat tidak menggunakan monosodium glutamate (MSG).

Setelah menjalani Labsos di Kampoeng Mataraman selama dua minggu, saya menyimpulkan bahwa di balik kekurangan yang dimilikinya, Kampoeng Mataraman menyimpan banyak kelebihan. Terlebih lagi, mampu memberdayakan warga Panggungharjo.