Mengenal Kembali Falsafah Jawa, Memayu Hayuning Bawana

Salah satu sudut Kampoeng Mataraman. JUNAEDI

Memayu hayuning bawana memiliki relevansi dengan wawasan kosmologi Jawa atau kosmologi kejawen. Kejawen memiliki wawasan kosmos yang tidak lain sebagai perwujudan konsep memayu hayuning bawana. Memayu hayuning bawana sendiri adalah ihwal space culture (ruang budaya), sekaligus spiritual culture (spiritualitas budaya). Dipandang dari sisi space culture, ungkapan ini memuat serentetan ruang atau bawana.

Dalam kosmologi Jawa, bawana adalah dunia beserta isinya. Sebagai wilayah kosmos, bawana dipandang sebagai jagad rame. Jagad rame adalah tempat manusia hidup dalam realitas. Bawana diartikan juga sebagai tanaman, ladang, dan taman hidup setelah mati. Orang yang hidupnya di jagad rame menanamkan kebaikan, akan menuai hasilnya.

Selain itu, memayu hayuning bawana juga menjadi spiritualitas budaya. Spiritualitas budaya adalah ekspresi budaya yang dilakukan oleh orang Jawa di tengah-tengah jagad rame. Pada tataran ini, orang Jawa menghayati laku kebatinan yang senantiasa menghiasi kesejahteraan dunia. Realitas hidup di jagad rame perlu mengendapkan nafsu agar lebih terkendali dan dunia semakin terarah.

Realitas hidup tentu ada tawar-menawar, bias, dan untung atau rugi. Hanya orang yang luhur budinya yang dapat memetik keuntungan dalam realitas hidup. Dalam proses semacam itu, orang Jawa sering melakukan ngelmu titen dan petung demi tercapainya bawana tentrem atau kedamaian dunia. Keadaan inilah yang dimaksudkan sebagai hayu atau selamat tanpa ada gangguan apapun. Suasana demikian, oleh orang Jawa disandikan ke dalam ungkapan memayu hayuning bawana.

Memayu hayuning bawana adalah upaya melindungi keselamatan dunia, baik lahir maupun batin. Orang Jawa merasa berkewajiban untuk memayu hayuning bawana atau memperindah keindahan dunia, hanya inilah yang memberi arti dari hidup. Secara harfiah, manusia harus memelihara dan memperbaiki lingkungan fisiknya.

Sedangkan di pihak lain, secara abstrak manusia juga harus memelihara dan memperbaiki lingkungan spiritualnya. Pandangan tersebut memberikan dorongan bahwa hidup manusia tidak mungkin lepas dari lingkungan. Orang Jawa menyebutkan bahwa manusia hendaknya arif lingkungan, tidak merusak dan berbuat semena-mena.

Menurut saya, dari sumber yang diperoleh secara langsung dari seorang mentor bernama Panji Kusumah, memayu hayuning bawana terdiri dari tiga kata, yaitu memayu berarti menjaga atau melestarikan, hayuning adalah keindahan atau kecantikan, dan bawana adalah bumi yang kita tempati. Memayu hayuning bawana didefinisikan menjaga keindahan bumi yang kita tempati.

Keindahan bumi beserta isinya harus dijaga atau dilestarikan oleh manusia sebagai khalifah fil ardhi (penguasa di bumi). Sebagai khalifah fil ardhi, manusia memiliki dua jalur hubungan, yaitu hablum minallah dan hablum minannas. Dua jalur hubungan tersebut harus seimbang. Agar dua jalur hubungan ini seimbang maka manusia perlu menjaga keindahan dunia atau bumi beserta isinya. Terdapat tiga hal yang harus diperjuangkan oleh manusia sebagai khalifah fil ardhi supaya dua jalur hubungannya dapat berjalan seimbang, yaitu ekologi, ekonomi, dan sosial budaya.

Pertama, Ekologi. Ekologi meliputi tiga unsur, yaitu air, udara, dan tanah. Keberadaan ketiga unsur harus terpenuhi dan tidak boleh ditawar-tawar lagi agar kecantikan atau keindahan bumi terjaga, serta ekologi harus dijaga dari pencemaran atau polusi ketiga unsurnya. Air dijaga dari cemaran limbah berbahaya, udara dijaga dari polusi gas karbon dioksida, dan tanah dijaga dari pupuk buatan pabrik atau pestisida.

Kedua, Ekonomi. Berbicara keseimbangan ekonomi adalah memberdayakan ekonomi masyarakat sebagai aktor atau pelaku langsung, yang mengatur ekonominya sendiri dan menghindari perilaku kapitalisme terhadap warga masyarakat. Artinya, segala perekonomian tidak semata-mata mengejar atau berorientasi pada keuntungan, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat.

Ketiga, Sosial Budaya. Ketika berbicara tentang sosial budaya, terdiri dari unsur sosial dan unsur budaya. Berbicara keseimbangan sosial adalah rasa berpihak kepada kaum rentan, seperti kaum fakir miskin, kaum lansia, anak-anak yatim piatu, para janda sebagai kepala keluarga (single parent), dan para penyandang disabilitas (kaum difabel). Sedangkan, keseimbangan budaya adalah upaya warga menjaga keseimbangan sandang, pangan, dan papan dalam balutan nuansa seni dan budaya khas kawulo alit di pedesaan atau istilahnya nguri-uri kabudayan Jawa.

Demikian ketika saya diajari tentang asal muasal konsep berdirinya Kampoeng Mataraman. Kampoeng Mataraman adalah salah unit usaha BUMDes Panggung Lestari yang dimiliki oleh Pemerintah Kalurahan Panggungharjo. Unit usaha yang coba dikembangkan oleh beberapa warga Panggungharjo dan pemerintah desa untuk berkolaborasi, diawali dengan menemukan kembali potensi yang dimiliki Panggungharjo di masa lalu (pada abad ke-19).

Menurut perspektif warga desa biasa, dipotret dari pemenuhan tiga kebutuhan dasar warga desa, yaitu pangan, sandang, dan papan. Kemudian, tiga kebutuhan dasar warga desa dikemas dalam balutan seni dan budaya, jadilah unit usaha yang bernama Kampoeng Mataraman.

Demikian model bisnis yang dibangun oleh BUMDes Panggung Lestari, yang dilandasi oleh salah satu falsafah Jawa yang masih relevan hingga saat ini, yaitu ajaran memayu hayuning bawana. Hal ini juga yang membedakan model bisnis-model bisnis yang ‘serupa tapi tak sama’ yang saat ini mulai menjamur di Yogyakarta.

Tulisan pernah dipublish di media nyoret.com pada tanggal 05/03/3021 dengan judul yang agak berbeda dan telah mengalami sedikit penyuntingan beberapa kalimatnya.

Add Comment