Mengenal Sudut-Sudut Kampoeng Mataraman

Kampoeng Mataraman. IG/KAMPOENGMATARAMAN

Pertama kali saya berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam imajinasi, saya berpikir tempat yang pertama kali saya kunjungi adalah kawasan Malioboro, Pantai Parangtritis, Taman Sari yang lebih tepatnya berada di area Kompleks Keraton Yogyakarta, dan wisata lainnya. Pastinya setiap kawasan mempunyai ciri khasnya masing-masing. Jogja dengan berbagai jenis wisata mampu menarik orang untuk mengunjunginya, bahkan tidak jarang wisatawan berasal dari luar kota.

Pada tahun 2017, ada sebuah lokasi wisata baru dan unik yang hadir di Yogyakarta. Lokasi wisata ini berada di Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY, yaitu Kampoeng Mataraman. Namun, Kampoeng Mataraman ini sebenarnya merupakan tempat makan yang nuansa ndeso.

Berdasarkan uraian singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa Kampoeng Mataraman merupakan sebuah tempat makan yang memiliki konsep pedesaan atau konsep tempat makan zaman dahulu. Nuansa tersebut semakin diperkuat dengan pelayanan mengedepankan unggah-ungguh (sopan), seperti khasnya orang Jawa. Konsep makanan dan minuman pun juga ndeso. Selain itu, konsep ndeso tergambar di beberapa tata letak ruangan Kampoeng Mataraman yang membuat daya tertarik para pengunjung.

Tata letak ruangan di Kampoeng Mataraman, pertama, ada yang namanya ‘limasan’ atau semacam aula dengan nuansa tempat dulu dan rumah joglo yang masih berbentuk asli tanpa modifikasi. Limasan ini bisa menjadi tempat kamu dan teman-temanmu untuk menggelar arisan, reunian atau sekadar ngerumpi.

Ada tiga bangunan limasan yang berjejer, bangunan asli Jawa yang pertama depan terdiri dari warung makan, tempat kita membeli atau memesan makanan. Kedua, ada ‘patehan’ yang fungsinya khusus untuk pembuatan minuman. Ketiga, dapur dengan kondisi yang terbuka membuat kamu dapat menyaksikan langsung pembuatan pesanan kamu. Selain sebagai tempat memasak, dapur ini juga berfungsi sebagai tempat karyawan menyiapkan makanan.

Saat ini fasilitas di dapur sudah cukup lengkap, terdapat empat buah kompor dengan dua di antaranya mempunyai masing-masing dua tungku dan dua yang lainnya mempunyai satu tungku. Lalu di sebelahnya lagi, ada kantor yang dipakai untuk mengelola Kampoeng Mataraman, salah satunya sebagai tempat melakukan rapat. Bagian dalam kantor terdapat satu ruangan yang bersekat, yaitu gudang. Gudang di sini berfungsi menyimpan stok dan barang-barang untuk proses memasak.

Setelah masuk, nuansa ndesonya Kampoeng Mataraman semakin terasa. Ada kolam ikan dengan jembatan bambu yang di bawahnya terdapat tanaman teratai yang mengapung. Apalagi di waktu pagi, teratai akan terlihat amat menawan. Teratai yang awalnya mingkup (tertutup) akan megar (terbuka) ketika pagi. Tidak hanya itu, jalan di bagian dalam Kampoeng Mataraman ini masih terbuat dari batu alam. Wah, keren sekali, bukan?

Kampoeng Mataraman merupakan tempat yang dijadikan untuk ngemong (mengasuh) anak oleh kaum ibu-ibu. Pastinya, selain bisa menghabiskan waktu dengan anak, mereka juga bisa menikmati hidangan makanan

Semakin masuk, akan disuguhkan dengan pemandangan tanah lapang yang di sebelah timurnya terdapat lima bangunan berupa homestay. Tujuan awal pembangunan homestay digunakan untuk tempat menginap, karena bangunan yang dirasa masih terlalu kecil menjadikan fungsi homestay tersebut berubah menjadi beberapa kantor Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Selain itu, yang menarik perhatian saya dari Kampoeng Mataraman adalah pembangunannya menggunakan Dana Desa BUMDes Panggung Lestari yang luasnya mencapai enam hektare