Mindset Warga yang Bijak Terhadap Lingkungan Sehat dan Bersih

Potret Kandang Kambing Liar di Atas Parit. JUNAEDI

Kampung saya yang menjadi juara sebagai kampung terkumuh se-kalurahan. Kebanggaan tersendiri bisa berdampingan dengan orang-orang paling ngeyel serta super kolot. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di kampung saya masih jauh dari standar minimum. Masih ada perilaku warga yang suka membuang sampah di sungai, sejauh mata memandang sampah mengalir dari hulu ke hilir.

Tetapi, sampai sejauh manakah sampah tersebut akan memaksa berhenti? Padahal, sudah jelas-jelas Perda Kabupaten Bantul Nomor 5 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Sampah, dalam Bab XII Larangan Pasal 44 Poin D, setiap orang dilarang membuang sampah atau yang dianggap sampah ke dalam sungai, bantaran sungai, got, saluran-saluran air, gang-gang, taman, lapangan, badan jalan, dan tempat-tempat umum lainnya.

Adapun ketentuan pidananya sebagaimana diatur dalam Bab VI Pasal 48 ayat 1 adalah ancaman pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp50.000.000. Saya yakin, apabila perda ini benar-benar dieksekusi maka bisa dipastikan beberapa warga kampung saya bisa menjalani kurungan paling lama tiga bulan, karena tidak mungkin memilih membayar denda paling banyak Rp50.000.000, wong untuk makan saja masih susah.

Belum lagi perilaku unik dan lucu sekali yang dilakukan peternak kambing sampingan atau pemelihara kambing bukan pekerjaan pokok. Uniknya, mereka membuat kandang kambing di depan rumah, seperti yang dilakukan tetangga depan rumah saya. Parahnya lagi, peternak ini tidak rajin membersihkan intil (kotoran kambing). Ketika diterjang angin yang mengarah ke utara, baunya minta ampun. Banyak tamu yang berkunjung ke rumah saya terganggu oleh aroma bau tidak sedap ini.

Bahkan, ada warga yang memelihara kambing di dalam rumah, hidup bersama dengan si empunya dalam satu atap. Walaupun sudah berkali-kali diinspeksi oleh pihak puskesmas dan Panewu (kepala kecamatan), tetap saja hal ini tidak mampu berbuat banyak untuk merubah pola pikir warga. Kebiasaan buruk itu tak kunjung sembuh, meskipun banyak anak atau bayi yang terkena penyakit flek paru-paru, juga ada beberapa warga, baik orang tua maupun anak-anak yang terkena DBD.

Jika dihitung-hitung, jumlah warga yang beternak kambing sekitar seperempat dari jumlah kepala keluarga di kampung saya. Semua posisi kandang kambingnya, rata-rata berada di depan rumah. Sebab, di kampung saya belum ada kandang kelompok ternak. Diperparah lagi dengan adanya salah satu warga yang memelihara kambing, namun ikut di kandang kambing milik warga lainnya.

Mau tahu jawaban warga yang tetap nekat memelihara kambing di depan rumahnya sendiri? Katanya, biarin saja, wong tanah milik sendiri kok. Mau kita dirikan kandang kambing di mana pun, terserah kita yang punya tanah. Katanya lagi, yang penting tidak mengganggu warga.

Mari garis bawahi sekali lagi, “Tidak mengganggu.” Bau kotoran kambing sampai ke mana-mana, kok enak saja bilang tidak mengganggu? Kamu yang untung, kita yang rugi, dong.

Bahkan, ketika ada teman saya yang main ke rumah, melihat pemandangan unik ini, ia sempat berkomentar. Ia berkomentar bahwa jika yang punya kambing tidak rajin membersihkan kandang, dibakar saja, rampung, deh. Begitu ekstremnya komentarnya mendengar cerita ngeyelan dan kenekatan para tetangga saya. Memelihara kambing di depan rumah atau halaman rumah ‘sedikit’ masih dapat ditolerir.

Sekarang ada tren baru di kampung saya, mendirikan kandang kambing liar di atas patusan. Patusan adalah aliran sungai kecil (parit) yang hanya mengalir ketika musim hujan. Kandang kambing liar di atas sungai atau patusan, jelas ilegal, walaupun sungai kecil. Dengan modal kekolotan dan kenekatan saja, beberapa warga berlomba-lomba mendirikan kandang kambing liar di atas parit.

Menurut saya, beberapa orang yang masih nekat dan ngeyel membuang sampah di sungai, di sembarang tempat, sudah terjangkit patologi sosial yang akut. Termasuk orang-orang yang nekat dan ngeyel memelihara kambing di depan rumah, lebih-lebih yang memelihara kambing di atas parit dengan dalih apapun yang tidak masuk akal. Mereka itu penderita patologi sosial akut.

Mereka egois, hanya mengedepankan kepentingan pribadi tanpa mempedulikan kondisi lingkungan kampung. Mereka semua sakit, mereka tidak sadar dalam setiap kebebasan selalu dibatasi oleh kepentingan umum atau kepentingan bersama. Mindset warga yang bijak, lingkungan yang bersih, dan lingkungan yang sehat adalah hak semua warga atas perilaku hidup bersih dan sehat.

Inilah sudut kecil dari kampung saya yang berlokasi di sisi paling selatan dari Padukuhan Ngireng-ireng, Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul.Ternyata, dari desa juara nasional yang terkenal dengan pengelolaan sampahnya yang terkenal dengan nama Kupas.id, masih menyimpan sedikit persoalan pola pikir warga kampung terkait PHBS. Itulah pekerjaan rumah bersama yang harus diselesaikan oleh semua pemangku kepentingan yang ada di kampung, seperi ketua RT, kepala dukuh, hingga pemerintah kalurahan.

Tulisan ini pernah ditayangkan di media online nyoret.com pada tanggal 29/01/2021 dengan judul yang berbeda, dan telah mengalami suntingan beberapa kalimat.