Pintarnya Kalurahan Panggungharjo Menciptakan Kampoeng Mataraman

Hari Rabu tanggal 10 November 2021, saya melakukan kegiatan riset aksi di tempat locus Kampoeng Mataraman yang merupakan salah satu pengalaman pertama saya dan pelajaran baru mengenai potensi atau peluang yang ada di Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). BUMDes Panggung Lestari yang bergerak dalam bidang usaha wisata kuliner dengan mengangkat potret warga Kalurahan Panggungharjo pada abad ke-19.

Yang berusaha diangkat dalam unit usaha Kampoeng Mataraman, yakni terkait sandang, pangan, dan papan. Terkait sandang yang di potret di Kampoeng Mataraman, salah satunya menggunakan kebaya dan jarik untuk perempuan, untuk laki-laki mengenakan surjan, celana panjang hitam, dan penutup kepalanya adalah blangkon atau iket. Terkait papan yang di potret di Kampoeng Mataraman adalah bangunan yang berbentuk atau bercorak limasan, karena rumah warga Kalurahan Panggungharjo menggunakan limasan pada zaman dulu.

Terkait pangan yang di potret di Kampoeng Mataraman adalah sayur ndeso, pacitan ndeso, dan wedang ndeso. Seperti sayur lodeh, sayur asem, gudangan, pecel, sop ndeso, bakwan jagung, bakwan sayur, mendoan, wedang uwuh, wedang bajigur, wedang sereh, wedang jahe, dan lain-lain.

Kampoeng Mataraman yang beralamat di Jalan Ringroad Selatan No. 93, Padukuhan Glugo, Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kampoeng Mataraman ini, merupakan suatu kawasan wisata dengan nuansa pedesaan. Konsep dari Kampoeng Mataraman ini sebenarnya merupakan kawasan wisata kuliner edukatif yang ndeso, tradisional, dan mengambil konsep potret Kalurahan Panggungharjo yang dikaitkan pada masa Kerajaan Mataram Islam abad ke-19, tetapi dalam perspektif warga desa biasa, bukan dalam perspektif keraton atau kerajaannya.

Kampoeng Mataraman memanfaatkan tanah kas desa seluas enam hektare. Menurut saya, enam hektare itu luas sekali dan dibingkai dengan nuansa atau atmosfer yang sangat unik. Saya melihat dan mengamati sendiri dari potret karyawan-karyawannya. Selain itu, di Kampoeng Mataraman menyajikan aneka wedang yang tradisional. Berdasarkan pengamatan yang saya lalui, dalam proses memasak sayur lodeh, saya mencoba mengamati terkait inbond logisticnya (pemenuhan bahan bakunya) dari sayuran yang didapatkan dari warga Kalurahan Panggungharjo.

Saya mengamati proses rekrutmen karyawan yang ada di Kampoeng Mataraman tidak berbasis pada jenjang pendidikan, kemampuan, pengalaman dalam bekerja, dan juga batasan umur. Saya sempat bertanya kepada salah satu karyawan di Kampoeng Mataraman, yaitu Yuli yang menempati bagian dapur, setelah saya menelusuri dari awal hingga akhir kerjanya, dia sampai di kampoeng Mataraman itu pukul 06.48 WIB pagi.

Setelah itu melakukan prepare untuk semua masakan, seperti sayur lodeh, bakmi ndeso, sop ndeso, soto, oseng tempe, oseng godong kate, dan lain-lain. Saya sempatkan bertanya-tanya terkait job desk yang dipegang oleh Yuli di dapur. Ia menceritakan latar belakang permasalahan yang ada di keluarga, pendidikan, hingga pekerjaannya.

Ternyata, dia dari latar belakang keluarga yang berkecukupan dan tidak kekurangan. Selain itu, latar pendidikannya adalah belum tamat sekolah dasar. Saat ini sudah tamat pendidikan nonformal program paket A dan paket B, serta masih menjalani paket C. Sebelumnya, pekerjaan ia di Kampoeng Mataraman sebagai pencuci piring. Lanjut menjadi pramusaji dan saat ini menempati posisi sebagai karyawan dapur.

Cerita lain yang saya dapatkan di Kampoeng Mataraman adalah ketika saya mengamati Etik. Ia salah satu ibu rumah tangga dan seorang guru sekolah. Pekerjaannya di Kampoeng Mataraman menjadi among tamu, tetapi karena kekurangan sumber daya manusia makanya terkadang double atau malah triple pekerjaan. Berkat perhatian Etik kepada rekan kerjanya, mereka merasa terbantu dengan pekerjaanya.

Ada lagi cerita unik di Kampoeng Mataraman, saya juga mengamati salah satu karyawan yang berkebutuhan khusus (penyandang disabilitas), yaitu tuna wicara bernama Erika. Ia berkerja di bagian pramusaji. Walaupun penyandang disabilitas, ia juga termasuk karyawan disiplin dalam pekerjaannya. Saya melihat dengan kacamata saya bahwa Erika termasuk karyawan yang cepat tanggap dalam pekerjaan, disiplin, dan peka terhadap tugasnya.

Fakta lain yang saya dapat dari cerita karyawan di Kampoeng Mataraman, salah satu ibu rumah tangga dan senior yang bernama Tari atau yang sering dikenal ‘Ibu Mawo’, bertugas di dapur sejak awal restoran ini buka hingga sekarang. Selain itu, Tari juga mengalami beberapa kali pergantian tugas.

Setelah saya telusuri dan mendapat beberapa informasi dari karyawan, ternyata panggilan ‘mawo’ tersebut berasal dari singkatan dari kata ‘ma’ yang berarti ibu dan kata ‘wo’ yang berarti tua. Jika digabungkan menjadi satu berarti ibu tua atau seseorang yang dituakan.

Selain itu, saya memotret dari kemampuan dan pengalaman kerja karyawan yang ada di Kampoeng Mataraman, salah satunya Yanto. Ia merupakan kepala keluarga yang menjadi tulang punggung. Tugasnya di Kampoeng Mataraman saat ini di bagian patehan (tempat membuat minuman).

Sebelum kerja di Kampoeng Mataraman, dia sempat bekerja di salah satu perusahaan mebel yang ada di Yogyakarta. Karena perusahaan mebel bangkrut, Yanto memutuskan bergabung di Kampoeng Mataraman sampai sekarang.

Saya juga memotret salah satu karyawan yang paling rajin, ceria, humoris, dan tanggap dalam bekerja. Saya melihat orang tersebut ketika mendapat tugas di pembagian stok saat riset pukul 07.00 WIB. Kebetulan saya berangkat pagi pukul 06.00 WIB dan saya berpapasan di Kampoeng Mataraman. Ia merupakan ibu rumah tangga yang menjadi tulang punggung keluarga. Saat ini, usia Temu sekitar 60 tahun.

Pada tanggal 25 Oktober 2021, ada pertemuan antara mahasiswa UNU (Universitas Nahdlatul Ulama) Yogyakarta dan pihak Kampoeng Mataraman terkait pemutaran tugas untuk mahasiswa. Tugas saya adalah pembagian stok. Tugas tersebut membuat saya harus mulai riset pukul 07.00 WIB, dan saya mengikuti salah satu karyawan bagian stok khusus di Kampoeng Mataraman, yaitu Tari.

Ia adalah ibu rumah tangga dan warga asli dari Kalurahan Panggungharjo. Setiap hari, Tari pergi ke pasar pada jam 07.00 WIB untuk membeli bahan baku dan penyetokan bahan baku yang sudah habis di Kampoeng Mataraman.

Setiap hari, saya pergi ke Pasar Niten bersama Ibu tari pada pukul 07.00 WIB. Saya mengikuti dari belakang dengan menggunakan sepeda motor yang saya kendarai. Selanjutnya, saya membantu untuk membawa bahan baku yang dibeli di Pasar Niten. Selain itu, yang paling unik di Kampoeng Mataraman adalah sudah memiliki langganan di pasar. Jadi, ada sebagian mitra warung sayuran yang langsung mengantarkan pesanan ke Kampoeng Mataraman dan pembayarannya di tempat.

Itu menjadi pengalaman pertama saya pergi ke Pasar Niten yang ada di Kabupaten Bantul. Ternyata, setiap pembelian di mitra warung yang di Pasar Niten, Tari selalu mencatat kebutuhan yang ingin dibeli, begitu pula dengan notanya dengan sangat teliti dan jujur. Sifat jujur yang dimiliki Tari ini wajib kita ikuti, di manapun tempat kerjanya, maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan cerita karyawan yang saya jelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa unit usaha BUMDes Panggung Lestari, yaitu Kampoeng Mataraman, dalam perekrutan karyawannya tidak berdasarkan pada kemampuan, jenjang pendidikan, memiliki keterbatasan khusus atau difabel, dan batasan umur.

Hanya saja dalam perekrutan karyawan Kampoeng Mataraman ini, memprioritaskan warga Kalurahan Panggungharjo yang dibuktikan dengan identitas E-KTP. Artinya, BUMDes Panggung Lestari lebih memfokuskan pada pemberdayaan masyarakat.

Potensi atau peluang desa merupakan segala sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang terdapat serta tersimpan di desa. Semua sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan bagi kelangsungan dan perkembangan desa. Potensi desa sendiri terbagi menjadi dua, yakni potensi fisik dan potensi nonfisik.

Untuk potensi fisik, pertama, tanah yang merupakan faktor paling penting bagi kehidupan warga desa. Kedua, air yang digunakan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Ketiga, manusia yang diartikan sebagai tenaga kerja. Keempat, cuaca serta iklim yang memiliki peran penting bagi warga desa. Kelima, ternak yang memiliki fungsi sebagai sumber tenaga hewan.

Berdasarkan cerita salah satu unit usaha BUMDes Panggung Lestari yang bernama Kampoeng Mataraman, menunjukkan bahwa Kelurahan Panggungharjo begitu pandai dalam membentuk sebuah unit usaha dengan memanfaatkan bentang sosial budaya dan bentang sumber daya manusia.

Akhirnya, dengan mengkolaborasikan konsep pemberdayaan masyarakat, Kalurahan Panggungharjo dapat mengentaskan kemiskinan warga desa sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi warganya, serta menghasilkan laba usaha bagi unit usaha Kampoeng Mataraman sehingga dapat menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes).