Review Launching Jagongan Selapanan

Jagongan Selapanan. KALURAHAN PANGGUNGHARJO

Acara Jagongan Selapanan yang diinisiasi oleh Pemerintah Kalurahan Panggungharjo bekerja sama dengan PT. Pegadaian Persero Tbk, Setiap hari Sabtu Legi menarik untuk saya tuliskan dalam media Jogjadaily.com. Rencananya agenda Jagongan Selapanan ini akan diadakan selama 10 lapan mendatang, dengan format acara talk shows atau bincang-bincang sersan, serius tapi santai secara tematik tentu saja dengan 10 pilihan tema menarik tentang isu-isu lingkungan, UMKM dan pendidikan yang ketiga tema besar tersebut dibingkai dalam pengetahuan kebudayaan, yang saat semakin berjarak dengan desa maupun warga desanya.

Acara Jagongan Selapanan yang dihelat di Balai Budaya Karang Kitri akan mengundang tokoh-tokoh budayawan, seniman maupun dari publik figur dari Pemerintah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang tentunya konsen dengan perkembangan dan problematika kebudayaan saat ini. Jagongan Selapanan Pertama, yang diadakan pada hari Sabtu Legi, 11 Desember 2021 dengan tema Transformasi Pengetahuan Hidup Manusia Jogja untuk Dunia, menampilkan Wahyudi Anggoro Hadi dan R. In Nugroho Budhi Santoso sebagai pemantik serta Den Baguse Ngarso sebagai moderator.

Menurut Wahyudi, masyarakat desa atau hal menarik dari desa adalah bahwa desa tidak hanya terdiri dari software (bentanghidup), hardware (bentang alam) tetapi ada juga socialware (pranata sosial). Pranata sosial merupakan basis nilai bagi warga desa, dan terkait pranata sosial ini dapat kita jumpai dalam konteks agama dan kebudayaan.

Dalam konteks agama dan kebudayaan, pranata sosial mengatur pola relasi antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhannya dan manusia dengan alam. Hubungan manusia dengan manusia diwujudkan dalam bentuk tatanan, unggah-ungguh, etika yang terbungkus dalam bahasa Ibu. Jangan heran ketika bahasa ibu dicabut dari sebuah keluarga, runtuh tata krama. Akibatnya, seorang anak tidak hormat kepada orang tua,seorang murid tidak hormat kepada guru.

Hubungan manusia dengan Tuhan, pertama kali terjadi di dalam rahim seorang ibu. Kebudayaan dikonsepsikan dalam bentuk bangunan Yoni. Hubungan manusia dengan alam yang terdiri dari tiga unsur yaitu air, tanah, dan udara yang tersimpan dalam tanaman pangan yang ada di pekarangan kita, dan kebudayaan dikonsepsikan dengan budaya karang kitri. Karang berarti pekarangan, kitri artinya tunas. Karang kitri merupakan sebuah pekarangan yang dipenuhi dengan tunas-tunas tanaman. Karang kitri adalah model ketahanan pangan yang sudah dimiliki oleh warga desa pada jaman dahulu.

Jadi, ketika sebuah desa mengalami gagal panen misalnya, maka sebuah desa masih bisa bertahan hingga sampai enam bulan kedepan. Karena dalam karang kitri warga desa masih bias bisa bertahan dikarenakan masih menyimpan makanan berupa karbohidrat dalam tanaman umbi-umbian, mineral dalam sayur-sayuran, vitamin dalam buah-buahan, protein dalam kacang-kacangan dan hewan piaraan, obat dalam akar, daun, batang dan rimpang.

Ditambah lagi, bahwa model karang kitri warga desa jadi tidak berjarak dengan sumber makanan yang dikonsumsinya, yaitu dari tanaman yang ditanam sampai siap di meja makan melalui sentuhan tangan seorang ibu, yang telah telatennya memasaknya dengan resep masakan dari peninggalan nenek moyang kita. Ketika sumber pangan yang kita makan berada jauh dari sumbernya sehingga kita tidak mengenal dari makanan yang kita konsumsi, maka ini bukti bahwa pengetahuan telah hilang beserta praktek-prakteknya.

Pengetahuan akan budaya karang kitri, mencoba kita diskusikan kembali dalam melalui sebuah tempat yang bernama Balai Budaya Karang Kitri, agar pengetahun sebagai penghormatan antara manusia dengan alam ini, tidak hilang dimakan zaman. Karena selama Ini, sebuah keluarga mewariskan tanah tanpa mewariskan pengetahuan.

Sementara menurut Romo In Nugroho Budhi Santoso, menanggapi apa yang disampaikan oleh Wahyudi. Menurut Romo In, hilangnya pengetahuan karena tanpa adanya praktek-praktek lagi. Ternyata faktanya pengetahuan membutuhkan praktek-praktek, membutuhkan mekanisme untuk sesuatu hal yang membungkusnya. Pengetahuan dalam bahasa Jawa biasanya dikaitkan dengan ‘kawruh’. Kalau tidak punya kawruh maka tidak ‘weruh’. Orang yang tidak punya pengetahuan maka orang tidak tahu.

Termasuk kalau ada masalah, kalau ada problem-problem dalam hidupnya. Biasanya, hilangnya kawruh malah ditanyakan kepada seorang konsultan. Contoh dalam ruangan rumah, misalnya pawon. Beberapa peralatan yang ada di pawon tidak pernah digunakannya sama sekali. Jaman sekarang manusia, orang tua, remaja, anak-anak lebih suka makanan yang praktis-praktis. Ingin sate, tinggal beli. Ketika kita lebih suka yang praktis, sesuatu yang lebih gampang tetapi sesungguhnya tanpa kita sadari kawruh-kawruh tentang pengetahuan akan pawon pelan-pelan menjadi hilang. Pengetahuan akan bumbu-bumbu (resep-resep) masakan yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita perlahan –lahan hilang, karena orang tua kita tidak pernah mengajari, tidak mau melatih memasak dengan resep-resep peninggalan nenek moyang kepada anak-anaknya.

Contoh lainnya, dalam kenduri. Apakah dalam prosesi kenduri tersebut, sungguh-sungguh menjadi bagian dari rasa syukur? Apakah semua komponen makanan yang dikendurikan di situ dihasilkan oleh warga sendiri? Jangan-jangan hilangnya pengetahuan beserta dengan hilangnya rasa. Hilangnya kawruh efek dari modernitas. Semakin maju teknologi tetapi kita menjadi kehilangan rasa.

Dari beberapa peserta yang hadir dalam acara tersebut ada yang menanyakan, bahwa terkait peralatan rumah tangga dahulu sebagai media pembelajaran. Tetapi saat ini, bahwa hilangnya artefak Jawa sebenarnya disebabkan oleh orang Jawa sendiri, seperti yang diibaratkan dalam beberapa diksi ‘pogo ilang langese’, ‘amben ilang longane’. Menurut sistem perdapuran Jawa, pogo adalah tempat untuk menempatkan peralatan dapur, dan di atasnya untuk menaruh jagung dan sebagainya. Dan banyak orang Jawa yang tidak mengetahui apakah pogo itu?.

Kita kehilangan pengetahuan tentang sistem peralatan dapur sementara google telah menyimpannya menjadikan benefit yang luar biasa bagi banyak pencari informasi. Dengan kata lain, sebenarnya kita sedang membebaskan diri kita untuk dijajah daripada menjadi manusia yang mandiri. Siapa yang akan menguasai hidup adalah siapa yang menguasai pengetahuan. Pengetahuan yang ada pada diri kita adalah kuasa akan diri kita. Bagaimana konsep membangun rumah dijadikan untuk menemukan hidup semakin bermakna. Rumah tidak sekedar jadi museum, atau artefak.

Bagaimana cara mengkonstruksikan pengetahuan yang masih berserakan di lingkungan sekitar kita? Wahyudi kembali menegaskan caranya adalah dengan memungut kembali pengetahuan yang berserakan di lingkungan sekitar kita dengan menuliskannya pengetahuan tersebut menjadi beberapa buku pengetahuan.

Romo In menegaskan bahwa teknologi ibarat hardware, dan budaya ibarat software,teknologi dan budaya ibarat kata dan makna. Katanya ada tetapi artinya tidak ada. Teknologi tanpa budaya terlalu material. Budaya tanpa teknologi ditinggalkan oleh banyak orang. Budaya adalah sesuatu yang melekat pada diri orang, di situ teknologi menjadi bagiannya juga. Budaya tidak ada di situ tetapi budaya ada di sini. Tidak adanya pegatan antara yang fisik dan ruh.

Maka kedepannya, perlu mengumpulkan tidak hanya balung-balung sing pisah, tetapi kawruh-kawruh sing ilang. Merekonstruksikan pengetahuan yang hilang. Bagaimana memulai praktek-praktek. Hati-hati terhadap sesuatu yang magic-magic biasanya dapat menghilangkan peralatan dapur Jawa. Kita lebih menyukai sesuatu yang ringkes-ringkes tetapi akhirnya kita sendiri yang diringkus. Sekarang ini, banyak orang Jawa yang tidak tahu lagi apa fungsinya ‘kethel’, apa fungsinya ‘kuali’. Tidak tahu lagi apa bedanya ‘anglo’ dan ‘keren’.