Udang Penyumbang Devisa Negara Terbesar dari Sektor Perikanan

Udang Komoditas Primadona Budi Daya ikan. KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Dengan harga yang yang cukup tinggi dan minat pasar yang luas di berbagai negara, udang menjadi salah satu komoditas ekspor nonmigas yang memiliki peranan penting. Indonesia menjadi negara pemasok udang, salah satunya ke Jepang yang dari tahun ke tahun permintaannya semakin meningkat.

Tingginya minat pasar udang sangat menguntungkan bagi negara karena menambah devisa juga meningkatkan penghasilan pembudi daya udang. Selain itu, juga dapat merangsang usaha-usaha pengembangan produksi udang. Keppres No. 39 Tahun 1980 yang melarang penggunaan jaring trawl atau pukat harimau menyebabkan ekspor udang Indonesia mengalami penurunan.

Melalui Pembangunan Lima Tahun (Pelita) IV, pemerintah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan produksi udang dengan memanfaatkan lahan-lahan pantai untuk budi daya perikanan, khususnya budi daya udang. Shigeno dalam bukunya Shrimp Culture in Japan, mengatakan bahwa Jepang dapat dianggap sebagai negara yang pertama kali memperkenalkan usaha budi daya udang berkat hasil penelitian Fujinaga pada tahun 1933. Hasil penelitian Fujinaga yang diterbitkan pada tahun 1942 menjadi acuan budi daya udang oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Budi daya udang tambak di Indonesia mulai dilakukan pada tahun 1962, yaitu di Jeneponto, Sulawesi Selatan. Pada tahun 1972 budi daya udang merambah ke Pulau Jawa. Usaha budi daya yang dilakukan oleh para petambak masih bersifat tradisional, bergantung pada pasang surut air laut. Setelah beberapa tahun berlalu, cara budi daya semacam ini masih belum bergeser. Hasil panen rata-rata sebesar 500 kilogram per hektare per tahun seperti di Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, menujukan bahwa pertambakan yang dilakukan masih bersifat tradisional.

Shigueno menambahkan, pada tahun 1964 seorang ahli bernama Kittaka telah berhasil mengembangkan suatu metode untuk menghasilkan burayak udang secara massal. Metode yang digunakan adalah memberikan pupuk kimia ke dalam bak budi daya yang berisi burayak udang, dengan harapan bahwa plankton-plankton di dalam bak budi daya akan tumbuh dan menjadi makanan untuk kelangsungan hidup burayak udang.

Budidaya udang di tambak merupakan dasar industrialisasi perikanan udang. Sampai tahun 1973, sudah ada 19 perusahaan yang terdaftar di Jepang melakukan budi daya udang, mulai dari menghasilkan burayak udang sampai pada pembesaran udang di tambak atau kolam. Shigueno, telah berhasil memformulasikan makanan untuk burayak udang secara massal yang memungkinkan untuk acuan pembaruan, standar, dan keefektifan dalam menghemat tenaga kerja budi daya udang.

Poernomo, dalam tulisannya Budi daya Udang di Tambak mengatakan, budi daya udang di Indonesia dimulai dengan mengumpulkan burayak udang windu (Penaeus monodon) yang dari pantai dan muara-muara sungai, sedangkan percobaan pembesarannya dimulai pada tahun 1962 di Jeneponto, Sulawesi Selatan. Tahun 1972, di Jawa para petambak mulai menebar burayak udang windu yang dikumpulkan dari pantai di Banyuwangi, Tuban, dan Lasem.

Poernomo, selanjutnya mengatakan, di Aceh mulai dibudidayakan udang putih (Penaeus indicus) di kolam dengan benih dari yang banyak ditemukan di alamnya. Pada tahun 1970, di Ujung Pandang mulai dilakukan pembenihan udang dengan indukan P. monodon dan P. merguiensis di hatchery. Akhir-akhir ini, pemerintah mulai tertarik pada budi daya udang, karena terbukti bahwa lesunya perekonomian dunia tidak mengakibatkan turunnya permintaan akan udang, bahkan permintaan udang dunia terus meningkat.

Total produksi perikanan Indonesia tahun 2020 mencapai 23,16 juta ton senilai 380,61 triliun rupiah, turun 2,94 persen jika dibanding produksi tahun 2019. Turunnya produksi perikanan budi daya sebesar 5,34 persen disebabkan pandemi Covid-19. Pandemi menyebabkan sulitnya memperoleh sarana produksi karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diberlakukan pemerintah. Sedangkan, perikanan tangkap mengalami kenaikan sebesar 2,26 persen.

Udang vaname merupakan produk udang utama, produktivitasnya bisa mencapai 10 sampai 150 ton per hektar per siklus tergantung teknologi budi daya yang digunakan. Penyebaran usaha budi daya udang vaname hampir ada di semua kepulauan di Indonesia, antara lain Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat, Maluku, dan Maluku Utara. Sehingga tidak mengherankan kalau produksi udang vaname tertinggi dibanding produksi jenis udang lainnya.

Udang windu merupakan produk ekspor udang premium (organik), produktivitas udang windu dengan teknologi budi daya intensif sebesar 6 ton per hektar per siklus, sedang dengan budidaya secara tradisional produksinya hanya sekitar 100 kilogram per hektare per siklus.

Penyebaran kawasan usaha budi daya udang windu terdapat di beberapa provinsi, antara lain Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, Aceh, Kalimantan Utara, dan Papua.

Sedangkan, udang jerbung merupakan produk udang masa depan. Udang jerbung merupakan jenis udang asli Indonesia yang telah berhasil dibudidayakan oleh Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Jepara. Penyebaran kawasan budi daya udang jerbung belum begitu luas, karena masih dalam proses pengembangan.Pengembangan di beberapa kawasan sudah dilakukan, antara lain di sebagian Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Tren produksi perikanan nasional dari tahun 2000 sampai 2020 adalah produksi perikanan budi daya di atas produksi perikanan tangkap. Sampai tahun 2019, produksi perikanan budi daya berkontribusi sekitar 68,4 persen dari seluruh produksi nasional. Pada tahun 2002, produksi perikanan budi daya sekitar 0,99 juta ton, sedangkan produksi perikanan tangkap sekitar 4,13 juta ton.

Namun, sejak tahun 2010 produksi perikanan budi daya di atas produksi perikanan tangkap, yaitu sekitar 5,1 juta ton, sedangkan produksi perikanan tangkap sekitar 4,5 juta ton. Peningkatan produksi perikanan budi daya lebih signifikan di tahun 2019, yakni mencapai 16,33 juta ton, sedangkan produksi perikanan tangkap sebesar 6,7 juta ton.

Secara nasional, produksi udang tahun 2018 sebesar 932.698 ton, menempati posisi keempat setelah produksi rumput laut sejumlah 10.320.226 ton, ikan nila sejumlah 1.169.145 ton, dan ikan lele sejumlah 1.027.033 ton.

Sedangkan di tingkat dunia, pada tahun 2019 Indonesia menempati peringkat ketiga produksi udang vaname dengan jumlah produksi sebesar 697.100 ton, setelah Tiongkok dengan jumlah produksi 1.815.550 ton, dan India dengan jumlah produksi 724.267 ton.

Perkembangan Pasar Ekspor

Beberapa komoditas perikanan unggulan Indonesia yang di ekspor ke berbagai negara antara lain udang, ikan tuna, tongkol, cakalang, rumput laut, cumi-cumi, sotong dan gurita, serta kepiting dan rajungan. Komoditas yang diekspor tersebut mempunyai volume dan nilai dengan kontribusi yang berbeda-beda.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2020, udang menempati peringkat pertama dengan volume dan nilai ekspor tertinggi serta mempunyai kontribusi devisa negara tertinggi, yaitu sebesar 39,7 dari total keseluruhan nilai kontribusi ekspor nasional. Diikuti tuna, tongkol, dan cakalang dengan nilai kontribusi sebesar 17,4 persen. Peringkat selanjutnya di tempati oleh cumi-cumi, sotong, dan gurita dengan nilai kontribusi sebesar 11,6 persen. Selanjutnya, ada kepiting dan rajungan dengan nilai kontribusi sebesar 7,2 persen. Posisi di bawahnya, ditempati rumput laut dengan nilai kontribusi sejumlah 6,6 persen.

Saat ini, permintaan ekspor udang vaname di eropa sangat rendah. Penyebabnya adalah virus Early Mortality Syndrome (EMS) yang menyerang udang vaname, ini membuat konsumen eropa banyak yang berhenti mengonsumsi udang ini. Faktor ini sangat berpengaruh terhadap turunnya harga udang vaname di Indonesia.

Masyarakat eropa sangat peduli terhadap kesehatan sehingga tidak banyak lagi yang mengkonsumsi udang vaname. Akibatnya, permintaan ekspor untuk wilayah eropa sekarang ini sudah ditutup sementara dan tidak pasti kapan akan dilanjutkan. Dengan demikian, pengekspor asal Indonesia harus mencari wilayah ekspor yang menjadi mangsa baru tujuan ekspor.

Setelah ekspor ke eropa terhenti, kini eksportir indonesia menemui negara tujuan ekspor baru, yaitu Amerika dan sekitarnya. Udang vaname merupakan udang perairan Amerika Latin jadi sudah tentu konsumennya tinggi, jadi permintaan udang pun tinggi. Sehingga, mata pengekspor tertuju ke Amerika.

Kuota ekspor ke Amerika pun tinggi, sedangkan produksi udang vaname di Indonesia tidak mencukupi jumlah permintaan kuota ekspor, para pengekspor harus mengeluarkan dana yang tinggi untuk menyimpan barang agar mencukupi kuota ekspor sehingga harga udang turun drastis hingga 30 persen. Penyebab turunnya harga udang vaname di Indonesia, antara lain disebabkan oleh faktor ekspor yang kurang stabil; faktor penyakit yang menyerang udang vaname sehingga permintaan ekspor berkurang; dan adanya kelebihan produksi udang vaname.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa udang vaname beku menjadi produk ekspor nonmigas nomor satu ke Amerika Serikat yang nilainya mencapai 617,3 juta dolar Amerika, mengalami kenaikan sebesar 27,4 persen pada tahun 2020. Sedangkan, udang siap saji mengalami kenaikkan lebih tinggi mencapai 60,5 persen. Kenaikkan ekspor tersebut jauh melebihi kenaikkan ekspor nonmigas secara keseluruhan sebesar 4,6 persen.

Ekspor produk perikanan Indonesia dalam bentuk udang beku, udang hidup, udang olahan, dan udang segar-dingin tahun 2020 mencapai 5,2 miliar dolar Amerika atau setara 72,8 triliun rupiah dengan volume sebesar 1,26 juta ton. Ekspor ikan konsumsi menjadi penyumbang paling besar, yakni 1,06 juta ton senilai 4,84 miliar dolar Amerika.

Berdasarkan data KKP, nilai ekspor udang ke berbagai negara pada tahun 2019 dan 2020 mengalami penurunan apabila dibanding tahun-tahun sebelumnya. Seperti pada tahun 2018, Indonesia mengekspor udang sebanyak 197.433.608 kilogram dengan nilai 1.742.119.193 dolar Amerika.

Pada tahun 2019, volume ekspor naik menjadi 207.702.651 kilogram, namun nilainya menurun menjadi 1.719.172.129 dolar Amerika. Pada tahun 2020, volume ekspor merosot ke angka 116.090.884 kilogram, dengan nilai 954.696.881 dolar Amerika. Hal ini disebabkan adanya pandemi Covid-19 yang hampir melanda semua negara di dunia.

Udang juga masih menjadi komoditas andalan untuk pasar ekspor. Tujuan ekspor berdasarkan urutan volume tertinggi, antara lain Amerika Serikat, Cina, ASEAN, Jepang, dan Uni Eropa. Udang merupakan komoditas andalan Indonesia, baik secara volume maupun nilainya. Hal ini sesuai dengan program KKP yang memprioritaskan penggarapan produksi udang sebagai produk unggulan perikanan budi daya. Komoditas yang didorong adalah udang vaname, udang windu, dan udang jerbung dengan target peningkatan produksi udang sebesar 250 persen pada tahun 2024, yakni sebesar 727.000 ton.