Wujudkan Ketahanan Pangan dari Pekarangan Rumah

Pemanfaatan Pekarangan Rumah di Panggungharjo. FAJAR BUDI AJI

Mempunyai lingkungan rumah yang hijau subur adalah impian banyak orang. Bisa memperindah lahan dengan menanami bermacam-macam bunga atau sayuran. Seorang ibu lebih tertarik dengan hal semacam itu . Ia juga lebih telaten merawatnya, seperti ibu saya sendiri.

Keluarga kami mempunyai pekarangan yang luas. Ibu saya menghijaukan lingkungan rumah dengan menanam macam-macam sayuran dan bunga. Setiap hari, ibu merawatnya dengan telaten.

Mempunyai pekarangan rumah merupakan anugerah. Dengan adanya pekarangan rumah, kita dapat berkreasi untuk memanfaatkannya. Tentu saja, pemanfaat tersebut membawa dampak baik bagi penghuninya. Sebagai contoh, atas kerja keras ibu saya memanfaatkan pekarangan rumah dengan menjadikannya sebagai tempat menanam sayuran dan bunga, rumah jadi terasa lebih nyaman.

Tak hanya dijadikan tempat menanam, pekarangan pun bisa digunakan untuk warung, apotek hidup, lumbung hidup, dan bank hidup. Disebut lumbung hidup karena sewaktu-waktu kebutuhan pangan pokok, seperti jagung, umbi-umbian dan sebagainya, dapat tersedia di pekarangan.

Program pemanfaatan lahan pekarangan, menjadi bagian proyek pengembangan Diversifikasi Pangan dan Gizi (DPG) sejak tahun anggaran 1991/1992. Kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan dalam program DPG dilaksanakan dalam rangka meningkatkan mutu gizi makanan masyarakat, dengan memanfaatkan persediaan bahan makanan setempat (termasuk yang tersedia di pekarangan) dan mendukung perbaikan gizi keluarga.

Secara umum DPG bertujuan untuk memantapkan peran pekarangan dalam mendukung penyediaan aneka bahan pangan yang berkualitas dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan perbaikan gizi keluarga.

Menurut Suhardjo (1996), pangan adalah kebutuhan paling hakiki yang menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa dan stabilitas sosial politik suatu negara. Negara dengan pangsa pengeluaran pangan penduduknya yang besar, selalu dijumpai potensi masalah kekurangan pangan.

Pangsa pengeluaran pangan dipakai sebagai salah satu indikator ketahanan pangan. Semakin besar pangsa pengeluaran pangan, berarti ketahanan pangan juga semakin rentan. Permasalahan pokok ketahanan pangan masih berputar sekitar ancaman terhadap ketahanan masyarakat, terutama terjadinya kerawanan pangan di berbagai daerah.

Menurut Kebijakan Umum Ketahanan Pangan 2006-2009, kerawanan pangan adalah kondisi tidak tercapainya ketahanan pangan di tingkat wilayah maupun rumah tangga/individu. Kerawanan pangan dapat terjadi secara berulang pada waktu-waktu tertentu (kronis), dapat pula terjadi akibat keadaan darurat, seperti bencana alam maupun bencana sosial.

Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Kementerian Pertanian mencatat, 100 kabupaten dari 349 kabupaten di Indonesia berpotensi rawan pangan. Daerah-daerah tersebut memiliki kebutuhan pangan tinggi, tapi juga memiliki masalah terkait dukungan penanaman tanaman pangan dan rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap pangan.

Salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan dan gizi keluarga, melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia maupun yang dapat disediakan di lingkungannya. Upaya tersebut, dapat berupa pemanfaatan lahan pekarangan yang dikelola oleh anggota rumah tangga.

Selain difungsikan untuk memenuhi bahan pangan, pekarangan juga berfungsi sebagai tempat konservasi keanekaragaman hayati pertanian, mendukung agroekologi dan pertanian yang berkelanjutan, sebagai peluang usaha untuk meningkatkan ekonomi, dan kesehatan keluarga dengan tujuan meningkatkan gizi mikro. Pekarangan akan menjadi lahan potensial jika dikelola dan didayagunakan.

Fungsi pokok pekarangan, yaitu sebagai sumber bahan makanan. Namun, tidak semua bahan makanan dapat memenuhi ruang kosong di pekarangan. Pemanfaatan pekarangan rumah yang paling cocok dilakukan adalah dengan ditanami oleh tanaman sayur.

Kegiatan memanfaatkan pekarangan rumah dengan cara menanami tumbuhan sayur, menjadi salah satu langkah mengatasi kerawanan pangan. Pemanfaatan pekarangan juga sebagai penyedia pangan yang sehat bagi keluarga. Lebih tepatnya, kita dapat mengontrol kualitas tanaman dengan tidak menggunakan pestisida.

Sekarang, sudah banyak model penanaman sayuran yang tidak begitu memakan tempat, seperti hidroponik, vertikultur, aeroponik, dan sebagainya. Memadukan berbagai model bercocok tanam, dapat memaksimalkan jumlah tumbuhan yang ditanam. Sebab, dengan model bercocok tanam yang kian modern, tanah atau bidang datar bukan satu-satunya unsur dalam melahirkan tumbuhan. Oleh karena itu, memanfaatkan pekarangan rumah tidak hanya berlaku bagi mereka yang memiliki halaman yang luas.

Bercocok tanam sempat menjadi tren di kalangan masyarakat ketika awal-awal pandemi Covid-19. Bagi sebagian orang, kegiatan tersebut bagaikan pelipur penatnya berdiam diri di rumah. Barangkali juga, ada yang menganggap bahwa bercocok tanam menjadi kegiatan untuk mengisi waktu luang. Mengingat pada saat itu, hampir tidak ada yang bisa dilakukan selama masa karantina.

Gerakan memanfaatkan pekarangan rumah juga diserukan oleh Pemerintah Kalurahan Panggungharjo pada awal pandemi. Pemerintah desa sadar betul bahwa bercocok tanam di pekarangan merupakan jalan menuju stabilnya pangan. Hal itu berangkat dari keinginan untuk mengantisipasi kondisi terburuk karena adanya pandemi Covid-19.

Melalui arahan Pemerintah Kalurahan Panggungharjo dapat disimpulkan, pemanfaatan pekarangan rumah dengan menjadikannya lahan perkebunan, sebuah solusi dari kekurangan kebutuhan pangan dan kekurangan asupan gizi masyarakat. Perawatan yang mudah, tidak menghabiskan banyak waktu, dan tidak banyak modal yang dibutuhkan, sebuah nilai tambah dari bercocok tanam di pekarangan.

Hal itu, seharusnya menjadi dorongan untuk menghidupkan tradisi memanfaatkan pekarangan. Sebab, banyak dampak positif yang bisa kita dapat, mulai dari pemenuhan bahan asupan yang bergizi hingga mata pencarian. Tentunya, bukan hal yang mustahil menghasilkan uang dari sekadar bercocok tanam di pekarangan.