Belajar di PMII

Alumni PMII. Suhairi Ahmad

Saya Belajar PMII sebelum kaki menginjakkan di tanah mataram, tanpa sengaja dan sadar. Ketika di pesantren dulu, kader PMII Balikpapan sering mengadakan kegiatannya di tempat saya nyantri. Pondok pesantren saya Nahdlatul Ulama (NU) tulen. Oleh karena itu, ketika awal di Yogyakarta, organisasi PMII yang saya cari pertama kali.

Sebagai seorang perantau tanpa saudara, tanpa teman, dan tanpa keluarga PMII memudahkan urusan saya. Apalagi, waktu itu saya belum tahu sama sekali jejaring mahasiswa daerah. Saya buta informasi terkait perkumpulan mahasiswa daerah. PMII menjadi tempat kedua setelah saya menemukan tempat tinggal.

Pada tanggal 30 September 2012, saya resmi menjadi kader PMII. Saya berkenalan dengan orang baru dari berbagai daerah. Seperti, Bengkulu, Bima, Madura, dan beberapa daerah Jawa.

Tradisi PMII Yogyakarta membuat nama korps untuk kader baru di setiap Pelatihan Kader Dasar (PKD). Sejak saat itu, nama korps AMPERA melekat dengan identitas saya di PMII.

Pengalaman menjadi kader baru, semua hal seperti kertas putih. Saya memerlukan banyak waktu untuk selalu menulis setiap kejadian, peristiwa, dan berbagai realitas yang melingkupi organisasi berlogo mirip perisai ini.

Saya aktif PMII secara organisasi dimulai saat korps baru. Ketika itu, pengurus rayon menggelar deklarasi di kampus, korps baru didampingi pengurus rayon untuk menyusun pembacaan situasi kampus. Sebagai korps baru, yang belum tahu tentang kampus, proses tersebut saya anggap sebagai pembelajaran.

Pertemanan saya terbentuk secara alamiah. Awalnya, karena suka diskusi, demonstrasi, dan tentunya suka buku. Sama dengan kader baru, saya hanya bermodal baca modul, kumpul-kumpul tidak jelas. Namun, hal ini cepat saya sadari.

Pada semester dua dan tiga, bacaan saya beralih ke bacaan kritis yang saya nilai lebih serius, Kapital karya Karl Marx, Bumi Manusia karya Pram,dan zaman Bergerak karya Takaishi Shiraishi. Buku-buku inilah yang membawa saya ke bacaan-bacaan lain yang lebih menantang.

Setelah saya pikir-pikir kembali, menjadi kader PMII itu menyebalkan. Sering ribut dengan persoalan yang tidak penting sama sekali. Saat itu, pertanyaan ‘Kamu sudah baca buku berapa?’ menjadi candaan yang biasa dilakukan. Sampai-sampai beberapa teman merasa tersinggung karena dirinya tidak membaca apa-apa.

Selain ribut, kader baru terlalu banyak hura-hura. Biasanya, alasan yang digunakan adalah untuk memperkuat ikatan emosional sesama anggota korps. Oleh karena itu, kegiatan pasca-PKD yang dilakukan di seluruh rayon adalah Makrab. Kegiatan ini biasanya, diawali dengan stadium general. Setelah itu, akan berlanjut sebagai ajang silaturahmi yang dihadiri hampir semua angkatan yang masih berada di Yogyakarta. Kegiatan yang saya pikir hanya omong kosong yang diselenggarakan organisasi gerakan.

Kegiatan menjadi kader baru paling banyak adalah diskusi. Sesekali diajak demonstrasi atau makan-makan di markas organisasi. Saat itu, tak ada petunjuk jelas apa yang harus saya baca. Saya membaca buku secara random dan bisa disebut tidak beraturan. Oleh sebab itu, saya sering membaca buku yang menarik buat saya.

Bacaan wacana islam yang saya baca adalah bukunya Cak Nur, Islam dan Doktrin Peradaban. Berkat buku tersebut, saya bisa berdebat mengenai wacana islam dengan siapa pun. Maklum, saat semester awal saya termasuk orang menggebu-gebu ketika berdebat.

Selain itu, bacaan yang wajib dibaca saat itu adalah Catatan Sang Demostran karya Soe Hok Gie dan Gelojak Pemikiran Islam karya Ahmad Wahib. Dua buku tersebut membawa saya pada perjalanan sebagai seorang aktivis mahasiswa sekaligus sebagai mahasiswa di organisasi Islam. Saat itu saya sudah tahu nama Mahbub Djunaidi. Namun, buku-bukunya baru saya baca setelah saya berjarak lumayan cukup jauh dengan struktur organisasi.

Ketika menjadi kader tengah, saya dan beberapa teman sering membuat diskusi yang difasilitasi oleh Korps. Pada forum tahun kedua, terbentuk pertemanan yang kemudian berkelindan satu sama lain dan berkelanjutan. Willy, Ipul, Hedar, dan Taufik, keempat nama inilah yang saya ingat ketika berproses pada tahun kedua di PMII.

Tahun keempat, saya melanjutkan proses belajar menjadi pengurus rayon. Pada tahap ini, perseteruan serta perdebatan semakin kompleks dan hampir bikin kisruh kultur korps. Nama yang akan naik menjadi ketua rayon masih buram dan baru diselesaikan menjelang selesai pemilihan. Saat itu, nama Jalu akhirnya keluar sebagai ketua rayon terpilih dan kami sepakati bersama.

Beberapa hari setelah rapat tahunan anggota (RTA), saya, Jalu, Kendari, Willy, Taufik, Ipul, Hedar, Azip, Haji, dan Arta, sering rapat untuk menyusun struktur anggota rayon yang lain. Iya, ada Dayat juga yang juga menjadi wakil ketua rayon. Hari ke hari rapat tersebut tak jua selesai malah menuai kebuntuan. Jalu tiba-tiba hilang, Dayat tidak saya ketahui keberadaannya, dan Kendri hanya bilang iya, tapi hanya dusta dan tak pernah ada wujudnya.

Kisruh tersebut berlarut-larut hingga satu bulan struktur pengurus. Oleh karena itu, rapat untuk musyawarah luar biasa pun digelar di rayon. Selanjutnya, ketua rayon diputuskan diambil alih oleh Ipul sebagai ketua korps. Tanpa perlu banyak cincong, awal puasa dihabiskan untuk menyusun struktur kepengurusan dan menyelesaikan hal-hal genting.

Delapan orang menyatakan siap secara lahir dan batin untuk menjalankan organisasi. Delapan nama selain Jalu, Dayat, dan Kendri. Selanjutnya, kami semua melanjutkan pembacaan terkait orientasi pengenalan akademik kampus (OPAK) dan pelatihan kader dasar (PKD). Kader lain diluar, kedelapan nama tersebut, hanya datang dan pergi terlibat dalam berbagai kegiatan di rayon.

Pada proses ini memang banyak menguras pikiran. Manajemen organisasi, manajemen manusia, dan bagaimana membuat diskusi maupun acara yang baik. Saya menikmatinya dengan sukacita dan penuh sambat ketika ada senior yang sering banyak protes dan mau intervensi pada keputusan bersama pengurus rayon.

Saya beruntung sempat berproses bersama orang-orang yang memegang teguh keputusan bersama. Pasca-PKD, rayon tidak pernah sepi diskusi dan delapan orang tersebut setia sampai akhir pengurusan saat laporan pertanggungjawaban (LPJ) di RTA. Setidaknya, saya bisa berbangga pernah bersama mereka, dalam perjalanan selama menjadi pengurus rayon. Ada Mita, Shinta, Samhe, dan banyak nama lainnya yang tidak mampu saya ingat lagi.

Pasca-rayon, demisioner rayon sempat bersama untuk berproses di Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (DEMA-U) dan beberapa di Senat Mahasiswa Universitas (SEMA-U). Namun, karena belum bersatunya visi, aliansi itu pecah dan saya termasuk orang yang memilih mundur dari struktur dewan mahasiswa tersebut.

Selain itu, saya sempat belajar di komisariat untuk menyusun perumusan Pelatihan Kader Menengah (PKM). Barangkali itu satu-satunya keterlibatan saya dalam dinamika komisariat pada 2014. Selain kegiatan tersebut, saya tidak mau terlibat pada perdebatan politik yang melibatkan seluruh rayon.

Selain di komisariat, pada tahun-tahun tersebut saya masih sering bersentuhan dengan PMII. Saat itu, secara kultural sempat membantu untuk penyusunan rancangan diskusi di Casilda, banom Korps Putri di Rayon PMII Dakwah. Diskusi demi diskusi berjalan dengan baik, walaupun menjelang akhir kepengurusan, Casilda seakan berjalan di tempat lantaran struktur di rayon tidak stabil.

Sampai saat rayon 2014 sampai 2015 demisioner, persoalan yang dihadapi oleh pengurus masih ribut yang tidak bermanfaat sama sekali, tentu saja melelahkan. Alhasil, proses pengawalan kaderisasi tidak berjalan maksimal. Oleh karena itu, ketika rayon ini menggelar RTA dan LPJ, saya meletakkan kembali segala tanggung jawab moral dan intelektual saya dan memilih untuk tidak hadir di RTA. Setelah itu, saya benar-benar tidak bersentuhan lagi dengan PMII.

Selama satu tahun saya tidak aktif secara kultural, kondisi PMII masih sama. Perseteruan yang saya alami saat awal-awal menjadi kader terus saja terulang. Senior-senior kurang kompeten menjamur dan kader yang percaya pada senior yang kurang kompeten tak bisa dibilang sedikit. Oleh karena itu, kultur yang terbangun adalah sentimen-sentimen yang jelas tidak bermanfaat sama sekali. Tak heran, bila kader awal yang tidak tahu apa-apa merasa jengah dan bahkan memilih tempat lain yang lebih menyenangkan sebagai tempat belajar.

Pada tahun 2017 atau 2018, saya mulai kembali ke PMII. Pada saat persiapan RTA dan LPJ pengurus rayon. Saya mengikuti proses diskusinya sampai LPJ pengurus selesai dibacakan. Kuantitas kepengurusan rayon, seharusnya bisa digunakan dengan baik agar kualitasnya baik. Namun, realita bicara lain. Persoalan yang itu-itu saja terus terulang, dan mereka tidak belajar pada kesalahan generasi sebelumnya yang mereka kritik saat menjelang mereka menjadi pengurus.

Saat ini, saya tidak terlalu berharap dengan struktur di PMII. Jika terlalu berekspektasi terlalu tinggi dan akhirnya kecewa. Saya ingin menghabiskan waktu saya dengan merdeka dan saya bahagia menjalani aktivitas saya. Baik di PMII secara kultural, , maupun di tempat lain yang saya anggap menyenangkan.

Saya hanya ingin menulis, membaca, dan menghabiskan sisa-sisa waktu kuliah yang tak lama lagi. Mau mikirin kamu, tetapi,sudahlah.

Waktu berjalan begitu panjang dan cepat. sering kali, saya bertemu dengan kader baru PMII dalam satu tahun sekali untuk belajar di PMII dan permasalahan yang mereka hadapi walaupun dengan konteks yang berbeda.

Saya hanya bisa berdoa agar semua kader pintar, cerdas, dan tidak mudah dibodohi oleh senior tidak kompeten yang hanya mengambil keuntungan di PMII, tetapi sama sekali tidak memberi manfaat terhadap organisasi. Mereka hanya mampu nyinyir yang tidak bermanfaat dan bahkan menimbulkan mudharat dan masfadat.

Waktu terus berlalu, beberapa kepengurusan terus berjalan dengan PMII sebagai organisasi mahasiswa sudah seharusnya tetap menjaga tradisi intelektual dan gerakannya dengan berbagai bacaan. Sebab, tanpa tradisi intelektual dan gerakan yang baik, PMII hanya akan menjadi paguyuban yang tak punya visi bagi kemanusiaan, apalagi kebangsaan.

Salam Pergerakan!