Bukan Kader PMII yang ‘Murtad’

Panitia PKD PMII 2015. IG/ashram_bangsa

Ketika saya dihubungi untuk menulis catatan tentang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) atau proses saya ber-PMII, bibir saya spontan berucap, “Alhamdulillah”. Sudah lama saya berharap ada pihak dari PMII, seperti Rayon Ashram Bangsa, berinisiatif untuk memberikan kesempatan kepada kader PMII untuk berbagi pengalaman selama berproses di PMII.

Setelah dihubungi, saya mulai meraba-raba peran saya di PMII, baik sebagai anggota maupun pengurus rayon. Terlintas beberapa pengalaman di kepala saya. Salah satunya, saya pernah diminta oleh Khalilullah, kader PMII angkatan 2010, untuk membantu mengurus dan menata buku-buku di Omah PMII Yogyakarta.

Kala itu, saya sudah menjadi anggota pengurus Komisariat Pondok Sahabat UIN Sunan Kalijaga tahun 2019. Pada waktu yang sama, saya menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga (Sekjen Dema-U). Sebelumnya, saya menjabat sebagai Kepala Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Dema-U.

Akan tetapi, proses saya di PMII terhenti pada tingkat komisariat saja. Itu pun hanya menjadi anggota pengurus. Mengapa tidak berlanjut hingga sampai ke tingkat cabang? Sebab saya tidak mengikuti Pelatihan Kader Lanjut (PKL) yang diselenggarakan oleh pengurus cabang (PC) PMII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). PMII DIY dipimpin oleh Faizi, kala itu.

Bukankah PKL itu terbuka bagi seluruh kader PMII post rayon? Benar, namun tak semua kader PMII post rayon dapat kesempatan untuk mengikutinya. Karena waktu itu berdasarkan asumsi yang saya harap keliru, peserta harus mendapat rekomendasi dari rayon dan tiap rayon hanya boleh mendelegasikan lima orang kader. Saya tidak mendapatkan rekomendasi untuk ikut PKL, sehingga tidak bisa menjadi pengurus cabang PMII.

Apakah saya sedih? Tidak. Karena bagi saya, di mana pun dan sampai kapan pun saya adalah kader PMII. Inilah sumpah saya ketika dibaiat atau dilantik pada tahun 2015.

PMII dan NU

Saya bergabung dengan PMII atas dorongan guru saya, KH. Drs. Abdul Muqiet Arief. Ia adalah mengajar di Pondok Pesantren al-Falah Silo, Jember. Kiai Muqiet mengatakan, “Jika sudah menjadi mahasiswa maka ikutlah organisasi. Tapi, ikutilah organisasi yang sudah jelas sumbangsihnya bagi agama dan bangsa seperti PMII.”

Setelah saya dinyatakan lulus ujian seleksi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga pada tahun 2015, senior saya di pesantren yang juga merupakan kader PMII angkatan 2009, Muhammad Arif, menyarankan agar saya bergabung bersama PMII.

“Segera daftar dan menjadi kader PMII. Karena PMII itu adalah wadah yang tepat bagi santri,” katanya.

Berbekal saran dari guru dan senior maka saya langsung mencari beberapa literatur tentang apa itu PMII dan bagaimana hubungannya dengan Nahdlatul Ulama (NU). Berdasarkan hasil pencarian tersebut, saya mengetahui bahwa PMII lahir dari rahim ormas Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia, yakni NU.

Ide dasar berdirinya PMII bermula dari adanya hasrat kuat para mahasiswa nahdliyin untuk membentuk suatu wadah atau organisasi mahasiswa yang berideologi ahlussunnah wal jama’ah (aswaja) atau sunnah Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Sehingga, tidak ada keraguan bagi warga nahdliyin untuk bergabung dengan PMII.

Saya ikuti proses menjadi kader PMII, salah satunya dengan mengikuti Pelatihan Kader Dasar (PKD) PMII selama empat hari di Piyungan, Bantul. Setelah mengikuti PKD PMII maka meratakan jalan saya menjadi kader pergerakan.

Selama menjadi kader, saya dilatih untuk menjadi peka terhadap isu yang sedang hangat dan cara menyikapi isu tersebut. Selain itu, di PMII juga diajarkan berpikir kritis dalam menghadapi suatu persoalan yang ada di kampus, masyarakat, bahkan pemerintahan.

PMII dan BEM

Saya bersyukur menjadi kader PMII. Pertama, saya dapat belajar mengelola waktu dengan baik dan peka terhadap lingkungan sekitar. Kedua, saya dapat belajar mengelola organisasi dan menjadi pemimpin di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Pengalaman semacam ini belum pernah saya peroleh di tingkat Madrasah Ibtidaiyah hingga SMA.

PMII dan BEM itu ibarat dua mata koin. Artinya, keduanya tidak bisa dipisahkan. Diakui atau tidak, BEM adalah wadah untuk menyerap aspirasi. Sementara, segala aspirasi itu ada di PMII. Jadi, jika PMII adalah wadah sumber inspirasi maka BEM adalah wadah serap aspirasi yang pada gilirannya diwujudkan ke dalam aksi.

Dua tahun berproses sebagai kader PMII Rayon Ashram Bangsa Fakultas Syari’ah dan Hukum menjadi pengurus rayon dan dewan syuro atau musyawarah partai-partai yang berada di bawah naungan PMII. Salah satu partai, yakni Partai Rakyat Merdeka (PRM) merekomendasikan saya maju di ajang pesta mahasiswa, pemilihan mahasiswa (Pemilwa) tingkat Program Studi (Prodi) Ilmu Hukum. Berbekal rekomendasi ini, saya mendaftar sebagai calon ketua BEM. Alhasil, saya terpilih menjadi Ketua BEM Prodi Ilmu Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum.

Selama menjabat, ada sebelas program yang telah dilaksanakan, di antaranya mengadakan program berbasis penguatan skill, seperti pelatihan-pelatihan. Kemudian, program berbasis penguatan literasi, seperti pengadaan perpustakaan dinding di kampus dan memberikan reward bagi mahasiswa yang karyanya terbit di koran cetak atau menjuarai lomba karya tulis.

Terakhir, program berbasis penguatan kolaborasi seperti silaturahmi ke rumah dosen dan alumni serta melakukan studi banding di beberapa kampus hukum, di DIY, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Satu tahun berikutnya, saya diajukan kembali oleh pengurus Komisariat agar mengisi struktur kepengurusan Dema-U tahun 2019. Saya diamanahi memegang tanggung jawab sebagai Kepala Kominfo Dema-U. Enam bulan berproses, saya kembali ditunjuk dan diangkat menjadi Plt. Sekjen Dema-U.

Bukan Kader ‘Murtad’

Keaktifan saya di organisasi mahasiswa (ormawa) intrakampus justru membuat beberapa pihak menganggap saya kader ‘murtad’. Murtad di sini bukan berarti saya mengingkari agama yang saya anut melainkan saya dianggap berpaling dari PMII. Dalih mereka, selama menjabat di BEM saya dianggap tidak pernah aktif dan peduli terhadap PMII.

Bagi saya, tudingan mereka itu keliru karena, saya selalu hadir pada acara-acara yang dihelat oleh PMII. Keaktifan saya di ormawa intrakampus tidak merugikan PMII. Justru, melalui BEM saya menyebarluaskan paham-paham ke-PMII-an kepada teman-teman mahasiswa lain. Keberadaan saya di dalam BEM untuk menghidupkan marwah atau citra baik BEM, yang sebelumnya citra BEM buruk di mata sebagian mahasiswa. Maka, menghidupkan dan menjaga citra BEM sejatinya adalah menghidupkan dan menjaga marwah PMII itu sendiri.

Jadi, sungguh aneh bin ajaib jika ada pihak menyebarluaskan kebohongan kepada kader PMII bahwa saya adalah kader murtad. Apabila memang saya adalah kader murtad seperti yang dituduhkan, tidak mungkin saya masih mau menulis catatan ini.

Lalu, yang menjadi pertanyaan, mengapa saya mau berpartisipasi dalam penulisan artikel buku antologi ini? Jawabannya adalah karena bagi saya, PMII adalah sumpah saya. Kini sampai nanti dan sampai mati.

Salam Pergerakan!