Cerita Menghadapi Keganasan Covid-19

Tim Kubur Cepat FPRB Panggungharjo. ALI YAHYA

Dering nada panggil dari ponsel membangunkan saya dari tidur malam. Ini menjadi hal yang kerap saya alami saat lonjakan Covid-19 terjadi di Kalurahan Panggungharjo. Bisa dibayangkan, begitu tidak nyamannya kehidupan perangkat desa Kalurahan Panggungharjo saat itu.

Sebagai perangkat desa Kalurahan Panggungharjo, saya berkewajiban untuk membantu warga yang terdampak Covid-19. Tetapi, hal tersebut tidak membuat saya menyesal menjadi pamong desa. Ini malah saya jadikan sebagai cara dalam mensyukuri nikmat hidup dan kehidupan di dunia ini.

Sebagai abdi negara, menjadi pamong desa adalah ladang dalam mencari pahala. Demikian pula ketika pamong desa dihadapkan pada persoalan warga akibat adanya bencana kemanusiaan berupa pandemi Covid-19. Mitigasi kedaruratan dan kebencanaan kemanusiaan dalam konteks menjaga warga desa dari keganasan Covid-19 adalah menjadi sebuah kewajiban berjamaah.

Sebagai bagian dari pemerintahan desa, pamong desa harus dapat mengayomi warganya. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kalurahan Panggungharjo. Saat semua orang dalam kondisi yang sulit, termasuk perangkat pemerintahannya sendiri, Pemerintah Kalurahan Panggungharjo tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk warga desanya. Sebab, dalam kondisi apapun warga tetap berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari negara melalui pemerintah desa.

Sejak saya menjabat pamong desa tahun 2002 dan menempati posisi sebagai kepala bagian (kabag) umum. Kemudian, pada tahun 2014 berotasi menjadi kepala seksi (kasi) pemerintahan. Sejak adanya Undang-Undang Keistimewaan, sesuai nomenklatur keistimewaan menjadi jabatan tersebut berubah nama menjadi jagabaya.

Jagabaya bertugas membantu lurah sebagai pelaksana tugas operasional di bidang pemerintahan dan keamanan serta melaksanakan urusan keistimewaan bidang pertanahan. Salah satu lembaga desa yang berada di bawah Jagabaya adalah Forum Penanggulangan Resiko Bencana (FPRB).

Cerita saya terkait pengalaman menjadi relawan Covid-19 erat kaitannya dengan jalannya FPRB Kalurahan Panggungharjo. Lembaga yang sudah ada sejak zaman lurah terdahulu, ini sempat mati suri. Dalam upaya menanggulangi bencana Covid-19, saya mencoba menghidupkan kembali FPRB pada awal tahun 2020.

Saat angka persebaran Covid-19 melonjak di berbagai tempat, tanpa terkecuali di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, saya diberi mandat oleh Lurah Panggungharjo untuk mengurus semua laporan warga desa yang terpapar Covid-19. Termasuk laporan permohonan pemakaman jenazah Covid-19 sesuai dengan protokol kesehatan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Kehadiran FPRB tentu menjadi penting di saat seperti ini.

Karena waktu itu FPRB Kalurahan dalam keadaan mati suri, sementara desa membutuhkan tenaga relawan untuk menindak lanjuti semua laporan dari warga desa yang masuk ke ponsel saya. Strategi yang saya lakukan adalah menggerakkan komunitas relawan yang aktif bernama komunitas relawan Hantu Gayam untuk menindaklanjuti penanganan pasien terpapar Covid-19 dan pemakaman jenazah Covid-19 sesuai protokol kesehatan. Kemudian, muncul satu lagi kelompok relawan yang tergabung dalam komunitas relawan Panggung Guyub.

Kedua komunitas relawan ini, terbentuk karena inisiatif warga saat awal merebaknya Covid-19 di wilayah Kalurahan Panggungharjo. Warga dengan sukarela membantu Pemerintah Kalurahan Panggungharjo dalam menanggulangi bencana kemanusiaan akibat adanya pandemi Covid-19.

Selama perjalanan membantu penanganan pandemi Covid-19, pernah ada wacana untuk menggabungkan dua komunitas relawan tersebut ke dalam FPRB Kalurahan Panggungharjo. Namun, wacana tersebut tidak terealisasi karena kedua komunitas relawan tersebut menginginkan menjadi komunitas relawan yang independen.

Setelah dua komunitas relawan tersebut gagal bergabung dengan FPRB Kalurahan Panggungharjo, saya berembuk dengan tokoh-tokoh masyarakat yang masih aktif dalam kepengurusan FPRB. Kami sepakat untuk membuka rekrutmen relawan FPRB kalurahan pada bulan Desember 2020. Berdasarkan kesepakatan bersama maka terpilihlah Munawar Yasin sebagai ketua FPRB.

Setelah terbentuk keanggotaan yang baru, semua tindak lanjut dari laporan yang masuk ke ponsel saya terkait warga desa yang terpapar Covid-19 maupun jenazah Covid-19 saya koordinasikan dengan pengurus FPRB. Dibantu oleh beberapa relawan yang sudah ada sebelumnya, seperti Sena Putra, Banser Panggungharjo, Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI), dan beberapa warga desa yang ikut menjadi relawan PMI dalam sinergisitas dengan FPRB Kalurahan Panggungharjo.

Berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP), warga yang hendak mengajukan permohonan pemakaman jenazah Covid-19 memerlukan surat keterangan pasien Covid-19 dari rumah sakit, surat keterangan kematian Covid-19 dari rumah sakit, dan fotokopi identitas (scan atau foto KTP).

Setelah surat-surat yang diperlukan lengkap, keluarga jenazah tinggal melaporkan permohonan pemakaman jenazah Covid-19. Alur pelaporan permohonan pemakaman jenazah Covid-19 dibagi menjadi tiga bagian.

Pertama, pihak keluarga korban melaporkan kepada jagabaya sesuai SOP yang disebutkan di atas. Kemudian, jagabaya meneruskan laporan pihak korban tersebut kepada ketua FPRB Kalurahan Panggungharjo.

Kedua, jagabaya berkoordinasi dengan pihak rumah sakit dan pihak keluarga korban terkait kesiapan jenazah dari rumah sakit. Ini berkenaan dengan informasi jenazah sudah dimandikan dan dikafani, serta informasi sudah mendapatkan ambulan atau belum, karena dalam proses rukti atau merawat jenazah ini, akan mengalami antrian yang panjang.

Ketiga, Pihak keluarga korban memastikan kesiapan liang lahat sudah bisa ditempati. Selanjutnya, tim FPRB memastikan kesiapan tim kubur cepatnya. Jika tiga hal teknis tersebut sudah siap semua maka jenazah sudah bisa diberangkatkan dari rumah sakit menuju ke rencana pemakaman jenazah Covid-19.

Terkait koordinasi tiga hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama. Belum lagi, karena kondisi yang kalut karena banyak korban berjatuhan, sering terjadi miskomunikasi antara rumah sakit, keluarga korban, dan kesiapan personel FPRB. Pernah terjadi miskomunikasi, jenazah Covid-19 sudah berangkat dengan ambulan dari rumah sakit, tetapi sampai di pemakaman liang lahat belum siap. Hal ini disebabkan karena informasi yang disampaikan keluarga korban tidak melalui satu pintu informasi.

Oleh karena itu, saya mengantisipasi dengan menyimpan beberapa contact person sopir ambulan dari tiga belas rumah sakit di Yogyakarta dan dua rumah sakit di luar Yogyakarta. Rumah sakit tersebut adalah RS PKU Yogyakarta, RS PKU Gamping, RS PKU Bantul, RS Bethesda, RS Panti Rapih, RS Sardjito, RS Harjolukito, RS Panembahan Senopati, RS Hidayatullah, RS Nur Hidayah, RS Lapanga Khusus Covid-19 Bambanglipuro, RSUD Yogyakarta, RS Bethesda Lempuyangan, RS Aisyiyah di Muntilan, dan RSJ di Magelang.

Selama saya mendampingi proses pemakaman jenazah Covid-19 di Kalurahan Panggungharjo, dalam dua puluh empat jam, paling banyak ada empat kali pemakaman jenazah Covid-19. Selama itu, prosesi pemakaman jenazah Covid-19, mulai dari rukti di rumah sakit sampai ke pemakaman berdurasi paling cepat dua jam, dan paling lama sekitar dua puluh empat jam.

Jika saya mendapatkan telepon pada tengah malam, sudah dapat dipastikan itu adalah laporan warga Panggungharjo yang meninggal dunia akibat Covid-19.

Saya sempat terlibat dalam pengelolaan Selter Tanggon. Saat itu, kasi pelayanan atau kamituwo yang bertanggung jawab mengelola Selter Tanggon terpapar Covid-19. Saya menggantikan kamituwo sebagai koordinator Selter Tanggon.

Sebelumnya, peran serta FPRB ditugaskan untuk menjaga Selter Tanggon secara bergiliran dan juga bertugas dalam memobilisasi antar jemput pasien Covid-19 dari rumah warga ke selter dan sebaliknya, serta menjalan tugas utama pemakaman jenazah Covid-19.

Sebenarnya, dalam pengelolaan Selter Tanggon, koordinasinya dikomando langsung oleh lurah, bahkan komunikasi dengan Puskesmas Sewon I dan Sewon II dilakukan sendiri oleh lurah. Situasi dan kondisi berjalan begitu cepatnya seiring dengan laju pandemi Covid-19 yang semakin menggila, satu per satu relawan Covid-19 dari pamong desa mulai terpapar Covid-19. Sehingga saya sendiri dalam melakukan koordinasi dan evaluasi hanya dapat melalui grup WhatsApp saja, termasuk koordinasi dan evaluasi FPRB Kalurahan Panggungharjo yang langsung di bawah kepemimpinan saya.

Membutuhkan usaha yang luar biasa dalam membersamai FPRB Kalurahan Panggungharjo yang baru saja aktif kembali. Ketua FPRB belum dapat mengambil keputusan sendiri, sehingga banyak tenaga dan waktu yang saya curahkan untuk membersamai kegiatan FPRB Kalurahan Panggungharjo, terutama dalam melayani permintaan warga desa yang keluarganya menjadi penyitas Covid-19.

Banyak hal yang menjadi kendala saat memantau dan evaluasi FPRB Kalurahan, seperti kendala anggaran untuk keperluan logistik FPRB dalam menunjang tugas-tugas pemakaman jenazah Covid-19, banyaknya relawan yang pingsan pada saat menjalankan tugas pemakaman jenazah Covid-19, serta kendala saat menjalankan pemakaman jenazah Covid-19, baik dari pihak keluarga korban maupun tetangga korban.

Kendala dari pihak keluarga korban yang paling sering terjadi adalah informasi dari keluarga korban tidak melalui satu pintu. Sehingga menyebabkan miskomunikasi antara pihak rumah sakit dan penggali kubur dari kampung korban, hal tersebut menyebabkan beberapa pihak menyalahkan kinerja FPRB.

Sedangkan, kendala dari tetangga korban terjadi karena masih ada warga yang memandang bencana Covid-19 sebelah mata. Warga menyepelekan pandemi ini dan tidak mematuhi protokol kesehatan dengan mendatangi pemakaman jenazah Covid-19, berkerumun, serta tidak mengenakan masker.

Hal ini sempat mengakibatkan perseteruan antara warga dan relawan FPRB. Ada satu kejadian salah satu warga tidak memakai masker, kemudian relawan FPRB memberi warga tersebut masker dan memintanya untuk memakainya. Bukannya dipakai, warga tersebut malah membuang masker pemberian relawan di depan mata relawan FPRB. Tindakan ofensif tersebut tentu menyinggung perasaan relawan FPRB. Untung situasi bisa dikendalikan, sehingga tidak terjadi cekcok lebih lanjut.

Ada juga kejadian ketika para tetangga jenazah Covid-19 meminta kepada tim FPRB agar menyalatkan jenazah di dalam masjid terlebih dahulu. Relawan FPRB pun membuat kesepakatan dengan warga, jenazah bisa disalatkan di masjid dengan syarat warga harus mematuhi protokol kesehatan. Namun, pada kenyataannya beberapa warga yang menyalatkan jenazah Covid-19 tidak mengenakan masker.

Pengalaman lain yang saya temui ketika melaksanakan pemakaman jenazah Covid-19 pada malam hari. Kalau tidak salah, ini terjadi di Dusun Glugo. Setelah tim kubur cepat FPRB menguburkan sebagian liang lahat sampai terkubur peti jenazahnya, relawan FPRB kemudian mencari warga Dusun Glugo yang akan meneruskan proses pemakaman. Namun, relawan tidak menemukan warga yang akan meneruskan proses pemakaman. Ternyata, warga yang bertugas meneruskan penguburan jenazah berpakaian menyerupai tim FPRB, yakni menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).

Itulah pengalaman saya selama terlibat dalam penanganan pandemi Covid-19 di Kalurahan Panggungharjo. Meski sekarang sudah mulai kondusif, pengalaman ini masih menghantui tidur saya. Bunyi nada dering di tengah malam dari ponsel, kadang masih terngiang-ngiang.