Dialog

IG/flipper.vintage.store

“Halo?”

Halo.

“Hai! Apa kabar?”

Kaku sekali, ada apa?

“Emmm… aku cuma mau dengar suaramu.”

Sudah kan?

“Menyebalkan sekali!”

Lho, katanya kamu mau dengar suaraku, ini sudah dengarkan? Tidak ada gangguan dengan pendengaranmu kan?

“Benar-benar menyebalkan! Kenapa jarang menelpon?”

Bukannya kamu sibuk?

“Tahu dari mana?”

Tahu saja

“… tidak adakah yang ingin kamu katakan atau ceritakan padaku?”

Banyak

“Kenapa tidak pernah kamu lakukan?”

Karena setiap akan mengatakan sesuatu atau bercerita padamu, kamu sedang sibuk.

“Kamu tahu dari mana aku sibuk? Memangnya aku sibuk apa?”

Kamu yang paling tau apa yang kamu sibukkan.

“Aku tidak sibuk.”

Orang yang sering melewatkan jam makan sampai sakit, cuma sempat tidur tiga jam sehari, bahkan untuk sekedar mandi saja sulit meluangkan waktu, bukankah itu sibuk namanya?

“Baiklah, sekarang aku sedang tidak sibuk. Aku tidak melewatkan sarapan dan makan siangku tadi, sekarang aku sedang menunggu jam makan malam. Aku tidak begadang semalam, jam sepuluh aku sudah tidur, dan banhgun jam lima. Aku juga mandi dua kali hari ini. Ceritakan dan katakan lah sekarang.”

Aku lupa.

“Lupa?”

Ya, saking banyak yang ingin aku ceritakan dan katakan padamu aku jadi lupa.

“Berapa banyak memang? Seberapa sering kamu ingin bercerita?”

Banyak sekali, hampir setiap hari ada yang ingin aku ceritakan.

“Setiap hari?”

Hampir.

“Kalau begitu, adakah cerita untuk hari ini?”

Sepertinya tidak.

“Sayang sekali.”

Ya, sayang sekali.

“Kenapa kamu benar-benar menyebalkan?”

Entahlah.

“Astaga.”

Bisa aku tutup telponnya sekarang?

“Kenapa? Kamu tidak suka bicara denganku?”

Bukan begitu, sekarang kamu sedang tidak sibuk, tapi aku yang sibuk. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini.

“Baiklah, tapi boleh aku minta sesatu?”

Apa?

“Setiap kamu ingin bercerita atau mengatakan sesuatu padaku, bisakah kamu tulis itu di sebuah catatan? Nanti kalau kita betemu, berikan catatan itu padaku.”

Ide bagus, baiklah. Boleh aku tanya sesuatu?

“Tentu.”

Sebenarnya mana yang lebih kamu perlukan, suaraku atau ceritaku?

“Aku… emmm… kamu, kamu yang aku perlukan.”

Hahaha, sudah ya, selamat malam.

“Dasar! Selamat malam.”

Y