Hiruk Pikuk Jalan Tamansiwa

Jalan Tamansiswa. YANI SAMODRA

Jalan Tamansiswa, atau kerap disebut Jalan Tamsis oleh warga Yogyakarta adalah salah satu jalan yang tidak pernah sepi di tengah Kota Yogyakarta. Baik dari lalu lalang kendaraan, aktivitas pendidikan, kegiatan keagamaan, maupun kehidupan komersial.

Jalan yang namanya diambil dari nama perguruan rintisan Ki Hajar Dewantara ini, membentang sepanjang 1,5 kilometer. Terletak di tengah Kelurahan Wirogunan, ujung jalan ini bertemu dengan Jalan Sultan Agung di utara dan Jalan Menteri Supeno di selatan.

Jalan Tamansiswa merupakan kawasan sejarah pendidikan. Salah satu peninggalan sejarah yang masih bisa dilihat berupa bangunan Perguruan Tamansiswa yang masih berdiri di kawasan ini. Awalnya, bangunan ini merupakan rumah orang Belanda. Kemudian pada tahun 1934, bangunan ini dibeli oleh Tamansiswa.

Mas Ajeng Ramsinah seorang penguasa perkebunan Belanda merupakan penghuni terakhir bangunan tersebut sebelum diubah oleh Ki Hajar Dewantara menjadi sekolah. Ki Hajar Dewantara kemudian mendirikan pendopo di area bangunan sekolah ini yang masih bisa dilihat sampai sekarang.

Pada tahun 1960, Yayasan Tamansiswa mulai mewujudkan gagasan Ki Hajar Dewantara yang pernah mengusulkan agar bangunan bekas tempat tinggalnya di kompleks Perguruan Tamansiswa dijadikan museum. Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 1970, museum yang diberi nama ‘Dewantara Kirti Griya’ diresmikan dan dibuka untuk umum.

Nama museum ini merupakan pemberian dari seorang ahli bahasa Jawa bernama Hadiwidjono, yang artinya rumah yang berisi hasil kerja Ki Hajar Dewantara. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Nomor 243/M/2015, museum ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya sejak tahun 2015.

Selain Perguruan Tamansiswa, di sebelah utara terdapat bangunan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wirogunan yang dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda sekitar tahun 1917. Dulu, bangunan ini berfungsi sebagai barak kerja para tahanan yang dikenakan hukuman kerja paksa. Sekarang, bangunan ini difungsikan sebagai Lapas Kelas II A. Bangunan ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan Peraturan Menteri Budaya dan Pariwisata (Permen Budpar) RI Nomor PM.89/PW.007/MKP/2011.

Sekarang, Jalan Tamansiswa bukan hanya kawasan sejarah pendidikan, melainkan menjadi kawasan komersial juga. Jika dilihat dari dominasi penggunaannya, Jalan Tamansiswa terbagi menjadi tiga bagian. Bagian utara merupakan kawasan sejarah, bagian tengah merupakan area komersial, dan area selatan menjadi area pendidikan dengan adanya beberapa perguruan tinggi.

Selain hiruk pikuk karena pemanfaatan wilayahnya dan lokasinya yang berada di tengah Kota Yogyakarta, Jalan Tamansiswa juga menjadi akses menuju tempat yang banyak dikunjungi orang, seperti pusat perbelanjaan, tempat wisata, bahkan rumah sakit. Maka wajar bila jalan ini menjadi salah satu jalan sibuk di Kota Yogyakarta.

Kesibukan Jalan Tamansiswa tentu juga berpengaruh pada kehidupan warga Wirogunan, baik secara ekonomi maupun sosial. Secara ekonomi, warga bisa memanfaatkan Jalan Tamansiswa yang ramai sebagai peluang untuk membuka usaha. Hanya saja, membuka usaha bukan perkara mudah, Jalan Tamansiswa yang merupakan wilayah komersil menjadikan pajak di area ini cukup tinggi.

Jika usaha yang dibuat belum cukup stabil, pajak ini akan memberatkan. Oleh karena itu, banyak warga yang memilih untuk berjualan kaki lima dengan tenda atau gerobak yang tidak perlu membayar pajak. Sedangkan, lahan dan bangunan yang ada di Jalan Tamansiswa disewakan atau bahkan dijual pada perusahaan-perusahaan yang sudah stabil.

Secara sosial, keramaian Jalan Tamansiswa membuat warga di sekitar harus beradaptasi dengan segala hiruk pikuk yang ada. Adanya kantor-kantor dan perguruan tinggi menjadikan Wirogunan menjadi tempat tinggal bagi warga pendatang dan mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia. Toleransi tentu menjadi hal yang harus dimiliki. Menerima orang dari luar dengan budaya yang beragam akan sulit bila tanpa toleransi antara pendatang dan tuan rumah.

Keberadaan warga pendatang ini juga bisa menjadi peluang bagi warga untuk mencari rezeki. Para pendatang ini tentu membutuhkan tempat tinggal, warga bisa memanfaatkan peluang ini untuk menyewakan rumah atau kos-kosan. Pendatang juga cenderung lebih konsumtif dibanding warga asli, dengan begitu keberadaan warga pendatang juga mendorong perekonomian Wirogunan.

Selain potensi ekonomi yang muncul karena keramaian Jalan Tamansiswa, hiruk pikuk lalu lintas juga menjadikan jalan ini rawan kecelakaan. Ditambah banyak jasa pengantaran makanan online yang ngetem di sepanjang jalan menunggu pesanan dari tempat makan yang berada di sepanjang Jalan Tamansiswa.

Para pengantar makanan ini memarkirkan kendaraannya di badan jalan sehingga area jalan yang bisa dilalui pengguna jalan semakin sempit. Selain itu, para pengantar makanan ini juga menggunakan pedestrian sebagai tempat menunggu. Akibatnya, para pejalan kaki harus turun ke badan jalan saat melintas.

Oleh sebab itu, perlu adanya kesadaran bagi pengguna Jalan Tamansiswa untuk saling menghargai. Sehingga, keberadaan jalan ini bisa menjadi manfaat bagi banyak orang, bukan hanya warga Wirogunan.

 

Daftar bacaan

https://fe.ustjogja.ac.id/index.php?r=profil/index&id=4

http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/cagarbudaya/detail/PO2016011200003/museum-dewantara-kirti-griya-dan-kompleks-pendopo-agung-taman-siswa

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/lembaga-pemasyarakatan-wirogunan/