Lurah Panggungharjo Sulap Mobil Pribadi Jadi Ambulance

Mobil Avanza Silver yang Dimodifikasi menjadi Ambulance. PSID

‘Apa yang akan engkau katakan kepada mereka? Saat rakyat mati bergelimpangan, bagaimana aku harus menjelaskan kepada keluarga mereka, apa yang sudah dirimu lakukan sebagai seorang pemimpin?’

Kutipan pertanyaan di atas berasal dari Wahyudi Anggoro Hadi, seorang Lurah Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia adalah lurah terbaik nasional yang terkenal dengan sebutan ‘lurah rasa menteri’.

Berikut ini merupakan kiprah Wahyudi Anggoro Hadi yang diceritakan oleh Joko Hadi Purnomo atau akrab dipanggil mas Koko, salah satu relawan Shelter yang berasal dari dari lembaga Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID). Mas Koko adalah salah satu relawan Shelter yang tidak paham tentang kesehatan tetapi setengah ‘dipaksa’ oleh Wahyudi, sang lurah untuk sekadar menemaninya ketika menangani pasien positif Covid-19. Baik ketika berada di Shelter Tanggon Kapanewon Sewon maupun saat visit ke rumah warga desa yang sedang menjalani isolasi mandiri (isoman).

Hari itu, menurut Mas Koko, ada empat warga yang sedang menjalani isoman di rumahnya sendiri dan rencananya akan dikunjungi oleh Wahyudi Anggoro Hadi. Kebetulan jadwal hari itu, mas Koko yang bertugas menemani sang lurah.

Semua yang dimiliki oleh Wahyudi Anggoro Hadi, ia infakkan untuk warga desanya. Sebagaimana sumpah dan janjinya ketika pertama kali dilantik menjadi Lurah Desa Panggungharjo, ia akan memenuhi tugas dan kewajibannya sebagai lurah dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya, dan seadil-adilnya.

Dengan prisnsip tersebut, Wahyudi menjalankan tugas dan kewajiban sebagai Lurah Desa Panggungharjo. Tak terkecuali dalam penanganan Covid-19. Ia bertekad dengan sekuat tenaga, waktu yang dimilikinya, segenap pikiran, dan harta yang dimilikinya untuk diinfakkan demi menjaga semua warga desanya dari ganasnya Coronavirus Disease-19.

Hari itu, mulai dari pagi semua peralatan tabung oksigen dan obat-obatan khusus Covid-19 sudah dimasukkan ke dalam mobil ambulans pribadinya. Mobil Avanza silver satu-satunya-yang biasa disebut dengan mobil sejuta umat-yang dimiliki Wahyudi pun disulap menjadi mobil ambulans tetapi minus sirine yang khas dengan bunyi ‘wiw wiw wiw’ itu. Ketika ditanya para relawan shelter mengapa mobil tersebut tidak sekalian dikasih sirine, dengan entengnya ia menjawab, “Nanti gak ada bedanya antara ambulans Puskesmas Sewon dengan ambulans modif ini”.

Setelah lengkap mengenakan baju hazmat, sepatu boot, dan sarung tangan dibalut selotip, dengan penuh semangat sang Lurah berangkat dari Shelter Tanggon Kecamatan Sewon bersama Mas Mas Koko menuju rumah warga yang sedang menjalani isoman dan sedang membutuhkan pemeriksaan rutin.

Tak hanya menyulap mobil Avanza silver miliknya, Wahyudi juga menyetir sendiri mobil ambulance modifikasi tersebut melaju ke rute pertama sesuai rencana jadwal visit pasien Covid-19. Wahyudi merupakan lulusan Farmasi Universitas Gadjah Mada. Paling tidak ia paham akan tanda-tanda vital kesehatan, seperti saturasi, tekanan nadi, tekanan darah, dan suhu tubuh sehingga sangat membantu dalam menangani Covid-19.

Dengan ikhlas, sabar, telaten, dan teliti ia memeriksa tanda-tanda vital warga yang terpapar Covid-19. Ia pun mau menjadi teman curhat pasien ketika mereka merasakan kesendirian, ketakutan, dan kecemasan karena menempati ruang/kamar ketika menjalani isolasi mandiri.

Pendekatan ‘nguwongke marang liyan’ semacam ini, menurut Wahyudi jauh lebih efektif memotivasi warga yang terkena Covid-19 dalam usaha penyembuhan daripada sekadar memberi obat-obatan atau asupan oksigen yang disalurkan dari tabung oksigen. Ketika ada nakes (apoteker yang merangkap lurah) mau menjadi pendengar setia pasien Covid-19, atau sekadar menepuk-nepuk pundak ketika batuk dan mau berlama-lama menemani cerita warga desa yang sedang membutuhkan perhatian maka akan membangkitkan semangat untuk sembuh bagi warga yang positif tersebut. Semangat dan motivasi dari pasien inilah yang akan meningkatkan imun tubuh pasien tersebut sehingga tidak butuh lama untuk kembali sehat.

Wahyudi Anggoro Hadi melayani dengan sepenuh hati demi menjaga semua warga desa dari gempuran Coronavirus Disease-19. Bahkan usaha Wahyudi tidak hanya terbatas pada warga Desa Panggungharjo tetapi sudah melebar ke warga desa lain se-Kapaneon Sewon. Bahkan menurut cerita dari pengelola Shelter Tanggon, pernah juga merawat pasien positif Covid-19 yang berasal dari Kota Yogyakarta. Alasannya demi kemanusiaan, maka tidak berlaku sistem zonasi seperti yang diterapkan oleh PPDB SMP atau PPDB SMA se-Indonesia.

Semoga true story dari seorang lurah rasa menteri ini dapat menginspirasi semua pemimpin yang ada di Indonesia, baik yang ada di Pemerintah Desa, Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Kabupaten, dan Pemerintah Pusat. Dari kepemimpinannya muncullah pamong-pamong desa rasa nakes, seperti Hosni Bimo Wicaksono atau biasa disapa Pak Bimo. Dan pamong idola yang digandrungi oleh penghuni shelter dan dijuluki bapak asrama shelter, Rosada Roan Ath- Thariq yang akrab disapa sebagai mas gaes.

Di penghujung cerita ini, penulis mengutip kalimat yang pernah dikatakan oleh Wahyudi Anggoro Hadi terkait penanganan Covid-19, ‘Luka yang paling pedih ketika melihat rakyat kita sudah mau mati, tapi kita tidak bisa ngapa–ngapain, tak ada lagi yang bisa kita lakukan kecuali hanya menemani.’

Tulisan pernah publish di media brilio.net dengan judul yang sama pada tanggal 26/08/2021 dan telah mengalami penyuntingan pada beberapa kalimatnya.