Memotret Tradisi Literasi Pesantren di Madura

Kegiatan Diskusi Komunitas Santri Annuqayah, 2019

Pada hakikatnya pendidikan hadir sebagai sistem, penyelamat manusia dari keterbelakangan wawasan, terlebih lagi untuk membudayakan nilai-nilai luhur serta mengembangkan potensi-potensi manusia. Pengembangan potensi-potensi sebagaimana dimaksud telah diterapkan di lembaga pendidikan, salah satunya Pesantren. Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang berkembang pesat di Indonesia. Kontribusinya cukup besar dan dapat dilihat dalam rekam sejarah pembangunan pendidikan di Indonesia.

Dari catatan sejarah berdirinya, berdasar dari laman tebuireng.online bahwa rekam sejarah berdirinya pesantren tahun 1899 oleh Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren tebuireng. namun ada pula yang menyebutkan, bahwa cikal bakalnya ialah pada masa Sunan Ampel yang mendirikan padepokan di Ampel. Kemudian murid-murid berdatangan dan menuntut ilmu kepada beliau, setelah selesai menuntut ilmu mereka kembali ke rumah asalnya, ada juga yang mendirikan padepokan tempat mendidik anak-anak lainya di kampung asal mereka. Hingga saat ini, Pesantren yang kita kenal merupakan lembaga pendidikan dengan bangunan besar dan memiliki

Eksistensi Pesantren sejatinya melahirkan para generasi-generasi cendekiawan dan ulama yang memegang teguh nilai-nilai syariah Islam. Umumnya Pesantren mengamanatkan kepada para santri untuk rajin menuntut ilmu dengan membaca dan menulis, membaca Al-Quran, kitab kuning, maupun buku-buku penambah wawasan lainnya. Berdasarkan fenomena tersebut, secara tidak langsung literasi mulai hidup di lingkungan Pesantren.

Mengkaji tentang literasi memiliki daya tarik berbeda, sebab literasi bisa dijadikan solusi bagi permasalahan-permasalahan yang kerap hadir dan ikut mewarnai perjalanan kehidupan. Maraknya isu hoax dan berbagai kasus radikalisme lainnya telah cukup menjadi cerminan kasus untuk kita sadari bersama perihal menjadi umat beragama. Radikalisme dalam beragama telah memunculkan sikap fanatisme agama yang mengultuskan diri dan lebih mencondongkan ego pribadi. Sebagai umat beragama tidak benar bila mengultuskan agama kepada umat lainnya, bahkan tanpa dihiasi sikap toleransi, efek yang muncul bisa menimbulkan kekacauan dan pertikaian. Dari Fenomena tersebut telah menggambarkan bahwa bangsa sedang mengalami sakit keterbelakangan intelektual.

Catatan dari survei UNESCO tahun 2016 lalu juga menambah-kuatkan keadaan, bahwasanya bangsa Indonesia harus memperbaiki pendidikan dan literasi (1). Inventarisasi dan pengenalan bacaan benar-benar dibutuhkan bagi masyarakat saat ini. Karena hal demikian berimplikasi mengantarkan masyarakat pada pengenalan bacaan yang bergizi dan pengetahuan yang tepat dari sumber yang kredibel. Artinya, literasi membuat kita tidak salah kaprah mendapat asupan gizi bacaan untuk perkembangan pola pikir.

Pendidikan Pesantren dengan pengajaran kitab kuning di dalamnya, mengajarkan santri supaya merujuk kepada sumber induk pengetahuan. Lebih-lebih persoalan yang berkaitan dengan hukum dan muamalah. Santri diajari untuk menelusuri sendiri pandangan ulama-ulama atas penyelesaian problem yang berkaitan dengan hukum suatu tindakan.

Tradisi Literasi Pesantren Madura

Dalam khazanah pesantren, kegiatan literasi merupakan aktivitas yang dekat dengan santri. berdasarkan sejarah perjalanan hidup para ulama terdahulu seperti Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Ihsan, K.H. Maimun Zubair, dan ulama lainnya. Ulama-ulama tersebut merupakan perwakilan bahwa pesantren telah melahirkan para cendekiawan. Contoh lainnya seperti K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Abdul Wahid Hasyim, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada perjalanannya, dari pesantren melahirkan para penulis beserta karya-karya tulis, hal ini merupakan kenyataan menarik. Salah satu Pesantren yang memiliki tradisi literasi menulis yang tetap terjaga hingga saat ini adalah Pesantren Annuqayah, yang berlokasi di desa Guluk-Guluk Sumenep, Madura.

Membahas tradisi Madura, cukup banyak yang dikenal oleh masyarakat luar daerah. madura yang dikenal dengan budaya ‘carok’ madura yang dikenal dengan bangsa yang berwatak kasar dan tidak menaruh hormat kepada lainnya. Bahkan ada pula yang menyebutkan manusia bebal. Atau sering juga disebut dengan “Masyarakat yang susah menerima masukan dari orang lain.” Padahal bangsa Madura tidak sebagaimana yang dikenal demikian. Disana juga terdapat bangunan pesantren, bahkan hampir tiap daerah yang masing-masingnya terdapat pesantren dengan jumlah yang banyak. Artinya tradisi keilmuan hidup dan tetap berkembang dari masa ke masa.

Salah satu pesantren di madura ialah, Sebelum pesantren Annuqayah didirikan, masyarakat Madura termasuk masyarakat Guluk-Guluk mengalami krisis identitas budaya. Nilai-nilai luhur dan pola hidup mereka dikikis oleh kolonialisme. Maka yang terjadi pada waktu itu adalah ketidak-harmonisan hubungan sosial. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat Madura berwatak keras dan sarat kekerasan seperti praktik ‘Carok.’ Carok merupakan perkelahian antar dua orang dengan niat untuk menghabisi lawannya. Dengan tradisi tersebut, maka masyarakat Madura dikenal dengan masyarakat yang memiliki watak keras.

Kajian tentang masyarakat Madura telah dilakukan oleh beberapa ahli, semisal buku karya Kuntowijoyo ‘Madura,’ dan lainnya. Namun, disisi lain masyarakat Madura memiliki tradisi lain, yaitu tradisi menulis. Pada zaman terdahulu, tradisi tersebut tumbuh dan berkembang di kalangan kiai di pesantren, mereka mempertahankan tradisi tersebut dengan bukti karya kitab kuning. Karena pesantren begitu kental dengan kitab kuning sebagai rujukan inti ajaran Islam karya ulama terdahulu seperti Imam Syafi’i dan lainnya. Di Sumenep, terdapat beberapa Kiai yang menulis kitab berjumlah 194 karya (2).

Melihat rekam perjalanannya, fakta dari kehadiran pesantren sering dianggap sebagai lembaga pencetak ulama. Sejatinya tidak hanya demikian, beberapa kreativitas santri yang ,muncul dari pribadi mereka menjadikan keunikan bahkan ciri khas santri. Temuan-temuan dari kemunculan fenomena menjadi urgen untuk diteliti ulang tentang bagaimana dan mengapa kreativitas itu muncul, apa yang melatarbelakanginya? Kelahiran ulama dan eksistensi pesantren berkelindan dan dipercaya oleh masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Banyak ulama yang lahir dari Pesantren, sebagaimana yang kita ketahui mereka adalah panutan dan bahkan tokoh yang layak kita teladani akhlaknya. Sebagaimana dari rekam sejarah kemunculan pesantren di Tebuireng, Jawa memiliki cerita unik tersendiri tentang pesantren, termasuk juga Madura sebagai kepulauan yang dekat dan masih termasuk kawasan tanah Jawa. Banyak juga para ulama, sastrawan bahkan penulis yang lahir dari rahim pesantren.

Lahirnya penulis di pesantren mengindikasikan lahirnya pula suatu karya dari tangan kreatif santri. Dari kemunculannya ini, apakah hal ini termasuk suatu keunikan, atau degradasi eksistensi peran pesantren yang mendapat kepercayaan dari masyarakat? Perlu proses menelaah lebih lanjut mengenai relevansi pesantren terhadap lahirnya kreativitas santri ( baca: penulis santri) dan bagaimana kreativitas itu muncul dan berkembang dalam kehidupan santri (budaya).

Lahirnya penulis, karya tulis (hasil kreativitas) serta budaya yang dibangun di pesantren masing-masing memiliki keterkaitan. Salah satunya Pesantren Pesantren Annuqayah di Madura. Dengan melihat rekam sejarahnya, berawal dari jumlah santri yang sedikit, dan mayoritas mereka belajar agama dan sekaligus nyantri kepada Kiai (pengasuh pesantren). Seiring berjalannya waktu, Pesantren Annuqayah mulai mendapat kepercayaan masyarakat. ia berkembang dengan cukup signifikan, ditandai dengan semakin banyaknya jumlah santri yang mondok di pesantren tersebut.

Sebagian besar santri yang mondok memiliki keunikan yang berbeda, namun mayoritasnya keunikan itu terlihat dari tingkat produktivitas santri dalam berkarya. Semisal karya tulis yang dimuat di berbagai media massa, contohnya di Radar Madura, dan Majalah Horison, dan lainnya. Dari fenomena tersebut, muncul pertanyaan apakah citra pesantren menjadi semakin berkurang? Kemudian bagaimana pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam bisa melahirkan penulis muda serta sastrawan santri?

Bila kita melihat dari materi yang diajarkan di pesantren. Pesantren Annuqayah, dan mayoritas pesantren Madura memiliki karakter ‘pesantren salafi’ yang identik dengan belajar Kitab-kitab Kuning atau kitab klasik karya ulama terdahulu. Kitab tersebut diajarkan langsung oleh pengasuh atau Ustadz yang berkemampuan di bidangnya. Hal ini dimaksudkan supaya santri kelak memiliki bekal ilmu agama yang mumpuni dan matang, paham ilmu agama Islam, dan tahu adab, disertai pula dengan metode hafalan ngaji kitab klasik (kitab kuning).

Budaya di Pesantren memiliki keunikan yang berbeda dari lembaga pendidikan lainnya. Dari budaya tersebut, kita sadari bahwa literasi di Pesantren masih terus menyala hingga detik ini. Sebagai contoh literasi yang membudaya di Pesantren Annuqayah berupa tradisi menulis (secara umum) dan tradisi sastra (secara khusus). Gairah literasi para santri melahirkan keistimewaan tersendiri dan memberi ciri khas terhadap pesantren tempat ia menuntut ilmu. Bahkan menurut salah satu sastrawan madura, M. Faizi menyebutkan bahwa munculnya budaya tersebut lahir di kalangan santri, mereka menghidupkan literasi dengan banyak cara, semisal membangun kelompok-kelompok diskusi bahkan komunitas literasi (3). Komunitas-komunitas yang dimaksud, salah satu di antaranya: Lesehan Sastra Annuqayah, Bengkel Puisi, dan bahkan banyak lagi lainnya.

Hasil penenlitian dari Badrus Shaleh (2017), menyatakan bahwa Pesantren Annuqayah memiliki peranan urgen dalam memunculkan sastrawan santri (5). Keunikan tersebut juga ditampilkan di majalah Esensi yang di dalamnya berisi tentang tulisan jurnalistik popular, esai-esai karya santri, serta hal-hal lainnya mengenai pesantren Annuqayah pada tahun 2014. Dari budaya literasi yang muncul tersebut, kita menyadari bahwa kreativitas santri cukup beragam. Kreativitas tersebut diekspresikan melalui banyak hal, semisal melalui kejuaraan berbagai event baik regional maupun nasional, dan tak sedikit yang berhasil memenangkannya (6).

Pada dasarnya setiap manusia memiliki kreativitas berbeda. Ia lahir dari potensi yang mereka miliki kemudian berkembang sesuai dengan minat masing-masing. Namun tidak banyak juga diantara mereka yang mampu menyadari kreatifitas diri, minat dan kemampuannya. Minim kreativitas menjadi problem bagi self actualization seseorang. Dengan kreativitas seseorang dapat menemukan hakikat serta aktualisasi dirinya. Oleh karena itu kreativitas, yang lahir seakan menjadi anugerah yang urgen bagi diri seseorang.

Namun bagaimana cara menjadi pribadi yang kreatif? Maka salah satu langkah tepat adalah mengembangkan kreativitasnya atau membantu untuk menyadari kemampuan diri, menurut Salsedo yang dikutip oleh Rahmad Aziz bahwa jika memfokuskan kreativitas sebagai produk maka memfokuskan pada cara mengekspresikan kreativitasnya, sikap, minat, motivasi serta hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan kreatif (8). Di antara para santri yang masih awam terhadap literasi di pesantren, dengan seiring berjalannya waktu mereka mulai mengenal lingkungannya. Mereka berproses secara mandiri dan mulai berminat mengikuti berbagai kegiatan yang dapat mendorong aktualisasi dirinya (untuk mendapat pengakuan di lingkungan). Santri di Pesantren Annuqayah mayoritas memiliki minat literasi yang tinggi, dengan beragamnya kegiatan yang dibentuk menjadikan mereka merasa memiliki tempat menyalurkan serta melatih kreativitasnya melalui banyak cara. Maka tak heran jika pesantren Annuqayah diibaratkan sebagai lumbung penulis muda atau generasi penulis dan generasi penyair Indonesia.

Jika kita mengenal D. Zawawi Imron, salah satu penyair Madura, bait-bait puisinya menyapa kita dan menyadari beragam hal tentang keindahan hidup yang digambarkan olehnya melalui puisi-puisinya. Indonesia butuh generasi baru, anak muda yang berbakat dan butuh lingkungan yang mendukung supaya kreativitas terus tumbuh dan berkembang.

 

Referensi

  1. Erwi Hutapea, “Literasi Baca Indonesia Rendah: Akses Baca Diduga Jadi Penyebab,” Kompas, https://edukasi.kompas.com/read/2019/06/23/07015701/literasi-baca-indonesia-rendah-akses-baca-diduga-jadi-penyebab, diakses tanggal 2 Desember 2019
  2. Damanhuri, “Kiai, Kitab dan Hukum Islam (Relasi Kuasa Teks dan Otoritas Keagamaan di Sumenep, Madura),” Disertasi, UIN Sunan Kalijaga, 2019.
  3. M. Faizi, “Menjalani Kehidupan Sastrawi di Pesantren An-Nuqayah,” 7 Desember 2015, https://sabajarin.wordpress.com/2015/12/07/menjalani-kehidupan-sastrawi-di-pesantren-annuqayah/, diakses tanggal 8 Maret 2019.
  4. Badrus Shaleh, “Sastrawan Santri: Studi Etnografi Sastra di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Madura,” Tesis, Program Pascasarjana S2 ILmu Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, 2017.
  5. Imam S. Arizal, “Santri An-Nuqayah Juara Festival Bahasa Arab Internasional,” Radar Madura, 16 September 2018, https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/09/16/95663/santri-annuqayah-juara-festival-bahasa-arab-internasional, diakses tanggal 24 Maret 2019.
  6. Rahmat Aziz, “Pengembangan Kreativitas Melalui Kegiatan Synectics: Developing Creativity Through Synectics,Jurnal Intervensi Psikologi, vol.1, No.2, Desember 2009.

One thought on “Memotret Tradisi Literasi Pesantren di Madura

Comments are closed.