PMII dalam Gerakan Antiradikalisme

Aktivis PMII. NAHDLATUL ULAMA

Menurut saya, paham radikalisme merupakan pemikiran yang tidak perlu ada di negara ini. Mengapa demikian? karena paham tersebut merupakan awal dari hadirnya gerakan terorisme. Radikalisme sendiri adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan. Paham ini juga mengacu pada sikap ekstrim dalam aliran politik.

Radikalisme menjadi salah satu masalah yang dihadapi banyak negara di dunia, terutama dalam konteks politik. Kaitanya dengan pandangan ekstrim dan keinginan untuk melakukan perubahan sosial yang cepat.

Radikalisme adalah paham yang bisa mempengaruhi kondisi sosial politik suatu negara. Radikalisme kini sangat erat kaitannya dengan konsep ekstremisme dan terorisme. Radikalisme sudah ada sejak abad ke-18 di Eropa. Kini radikalisme adalah konsep yang banyak ditentang dan diperangi karena banyak menimbulkan kekerasan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), radikalisme meiliki tiga makna yang berbeda. Makna yang pertama, radikalisme adalah paham atau aliran yang radikal dalam politik. Kedua, radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Ketiga, radikalisme adalah sikap ekstrem dalam aliran politik.

Belakangan ini,muncul pemahaman-pemahaman anti-Pancasila dan demokrasi dari sekelompok orang. Pancasila digugat oleh mereka yang kurang memahami sejarah terbentuknya negara ini. Meskipun penulis tak banyak memahami sejarah lengkap terbentuknya Indonesia dan Pancasila ada satu garis besar yang tak boleh kita lupakan, yaitu perjuangan para pahlawan yang tidak saja dari umat Islam, melainkan dari umat beragama lainnya.

Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang sejak ia hadir dinobatkan sebagai falsafah bangsa. Sebagai pemersatu bangsa, Pancasila diakui oleh banyak negara lain. Meskipun sebagian kelompok di Indonesia menolak dan kini mengancam eksistensinya, tetap saja Pancasila mendapatkan pengakuan dari banyak negara-negara tetangga.

Sebagai negara yang menganut kebhinekaan, pancasila menjadi tempat benaung kesatuan dan persatuan. Sila satu sampai sila kelima Pancasila tidak terdapat nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran agama. Bahkan, bila dicermati lebih dalam semua sila pasti selalu mengacu pada prinsip mempersatukan dan mendamaikan.

Namun, seperti disampaikan sebelumnya, eksistensi ideologi bangsa ini sedang diserang oleh paham-paham antikebhinekaan. Pancasila diserang dengan peluru yang dibungkus dengan agama tertentu yang bertujuan untuk menjadikannya sebagai produk haram. Tentu ini menjadi peringatan bahwa anak-anak muda mesti mempersiapkan diri untuk terus mempertahankan Pancasila yang telah dititipkan para pahlawan.

Sebagai warga negara Indonesia yang baik, kader-kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tentu harus mengambil peran dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terutama Pancasila. Meskipun kecintaannya kader PMII pada negaranya tidak dapat lagi diragukan, tetap saja kader-kader PMII tidak boleh berdiam diri menyaksikan gerakan-gerakan anti-Pancasila yang terus terjadi secara masif.

PMII merupakan salah satu organisasi mahasiswa di luar kampus yang memposisikan Pancasila sebagai asas organisasi. Tentu ini menjadi suatu yang menggembirakan bagi negara Indonesia, bahwa ada wadah yang menyatukan mahasiswa untuk terus mencintai dan menjaga Pancasila sebagaimana pesan Presiden ketujuh Joko Widodo ketika membuka acara kongres PMII XX. Dari sambutan yang disampaikan, tampak harapan Presiden kepada kader PMII untuk terus merawat Pancasila sebagai dasar negara.

Demisioner ketua umum PB PMII, Aminuddin Ma’ruf menegaskan, “Kami (PMII) menganggap penting untuk membumikan nilai-nilai Pancasila sebagai sebuah konsensus kebangsaan.” Ini menunjukan bahwa PMII tak pernah bermain-main dengan komitmen kebangsaan.

Oleh karena itu, sebagai kaum pergerakan yang lahir dari rahim PMII, sudah sepatutnya para kader PMII menjunjung tinggi tujuan organisasi, yakni ‘terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia’. Tujuan PMII ini memberikan penegasan khusus bahwa kader-kader PMII harus memiliki komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Tentunya, ini menjadi pedoman kita semua bahwa inilah alasan mengapa kader-kader PMII selalu sigap dalam melawan paham-paham yang berpotensi merubah citra diri bangsa Indonesia. Sebagai bagian dari PMII dan warga negara yang memegang teguh Hubbul Wathon Minal Iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman), harus sigap menghadapi paham-paham radikalisme yang merongrong persatuan dan kesatuan bangsa.

Ada banyak cara yang telah dilakukan guna memberikan pemahaman kepada masyarakat, yakni dengan memberikan para jamaah bacaan-bacaan tentang ajakan untuk menjaga persatuan dan selalu berusaha mengedepankan perdamaian. Meskipun menurut beberapa orang kurang efisien, perlahan-lahan dapat menghadirkan pemahaman kepada pembaca bahwa perdamaian adalah hal yang begitu diinginkan oleh negara.

Bukan saja melalui karya tulis, PMII juga memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai bahaya dari radikalisme melalui seminar, deklarasi anti radikalisme, dan memberikan edukasi secara langsung kepada masyarakat tentang bahaya radikalisme yang anti kepada Pancasila. PMII mengambil posisi atau ikut serta dalam bagian anti paham radikalisme.

Perlu diketahui, bahwa negara ini dibentuk dengan pemikiran dan tenaga yang besar dari para leluhur pendiri bangsa Indonesia. Oleh karena itu, untuk menghargai perjuangan para pahlawan maka yang perlu kita lakukan adalah menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menjadi seorang kader PMII seharusnya secara moril memiliki rasa tanggung jawab mencintai tanah airnya, Indonesia. Sebagaimana pesan dari pendiri NU, Hasyim Asy’ari, cinta tanah air adalah bagian dari iman. Pesan tersebut bila kita maknai, tentunya dapat menyadarkan bangsa mengenai tanggungjawab dalam mempertahankan tanah air Indonesia.