Redefinisi ‘Kreatif’ dalam Pandangan Para Tokoh

Secrets of the Creative Brain. LIFEHACK

Perkembangan zaman menuntut manusia untuk terus bertahan hidup. Kebanyakan dari mereka dituntut untuk menggunakan potensi atau kecakapan dalam melakukan berbagai hal yang nantinya dapat membantu proses aktualisasi diri. Tidak banyak manusia mengetahui potensi dan kemampuan mereka sendiri. Oleh karena itu penting untuk mengetahui bagaimana hakikat diri termasuk mengenali kemampuan diri seseorang.

Kreativitas selalu bersinggungan dengan beberapa hal, yakni bakat, intelegensi, seni, karya tulis, dan lainnya yang terkait. Sedangkan dalam pandangan Amabile, bahwa kreativitas terkait dalam tiga dimensi, diantaranya person, process, dan produk kreatif. ketiga hal tersebut selalu bersinggungan dalam proses kreativitas seseorang. Cukup layak jika kreativitas disebut sebagai salah satu faktor penting yang mempengaruhi potensi perkembangan diri seseorang.

Melihat pendapat dari Hurlock yang menyatakan bahwa potensi kreativitas bukanlah perkara mudah untuk dikenali. Dalam kajian ini, penting digaris bawahi bahwa kreativitas manusia memiliki faktor urgen dalam pengembangan bakat diri. Catatan artikel dalam perpusnas.go menyebutkan bahwa literasi dapat menumbuhkan kreativitas seseorang.

Dengan membaca kultur literasi di suatu lingkungan, memiliki pengaruh terhadap pengembangan kreativitas serta memotivasi seseorang untuk terus berkarya. Berdasar dari hal demikian, maka perlu memahami konsep-konsep teoritis kreativitas serta unsur-unsur yang terkait antara literasi dan kreativitas.

Pandangan tentang Kreativitas

Untuk memahami makna kreativitas, terlebih dahulu perlu mengetahui beberapa definisi dari perspektif para tokoh. Hasan Langgulung menuliskan pandangannya dalam buku Kreativitas dan Pendidikan Islam, kreativitas dimaknai sebagai gaya hidup, karya tertentu, dan proses intelektual (1). Selain itu Rob Pop juga ikut menyumbangkan pemikirannya bahwa kreativitas atau dalam istilah bahasa Inggrisnya re-creation melibatkan proses imajinasi, pemikiran, serta proses mental yang terlibat (2). Hasilnya berbentuk kreativitas, merupakan hasil cipta atau wujud dari pemikiran seseorang, bisa pula dalam bentuk tulisan, dan lainnya.

Selanjutnya Ahmad Aziz juga menyampaikan pendapatnya dan menyatakan bahwa kreativitas merupakan hasil interaksi dari proses, pribadi, produk, dan lingkungan. Seseorang dikatakan kreatif jika ia bersikap sebagaimana karakteristik pribadi kreatif, yaitu berkarya (hasil dari sikap kreatifnya), sedangkan lingkungan dipahami sebagai usaha yang membentuk atau menciptakan suasana kondusif bagi pengembangan kreativitas seseorang (3). Pernyataan tersebut mendefinisikan kreativitas sebagai karya tertentu dari hasil cipta seseorang.

Di samping itu pula, Elizabeth Hurlock menyampaikan pernyataan tentang kreativitas melalui karya ilmiah yang berjudul Child Development, menurutnya kreativitas merupakan suatu proses penemuan sesuatu yang baru dan berbeda. Pernyataan lainnya dikemukakan dalam kalimat ‘creativity is one of the most ambiguous and hence. Make something new and different, as well as can be judged by the product or by what the person creates’ (4). Maksudnya kreativitas selalu berkaitan dengan hasil karya sebagai hasil kreativitas seseorang. Dengan demikian kreativitas dipahami sebagai proses penemuan bakat diri yang ditandai dengan hasil semisal karya yang baru, berbeda, dan unik.

Pemaknaan kreativitas juga tidak jauh berbeda dari pandangan Abraham Maslow yang menyatakan bahwa kreativitas dimaknai dalam dua hal, yaitu kreativitas bakat dan kreativitas penyungguhan sendiri. Kreativitas bakat diartikan kreativitas yang muncul berdasarkan pada bakat diri yang khas, seperti ditandai dengan munculnya karya-karya. Karya-karya tersebut bukan bergantung pada pengalaman, namun disertai pula oleh kehendak kuat, latihan secara terus menerus, serta pandangan kritis.

Maslow pernah menyatakan dalam tulisannya “we can’t study creativeness in an ultimate sense until we realize practically all the definitions that we have been using of creativeness.” Maksudnya bahwa untuk memahami kreativitas yang sebenarnya perlu disertai dengan suatu praktik. Hal itu dikarenakan definisi kreativitas memiliki ragam perbedaan (subjektif) sesuai cara pandangan masing-masing dalam memaknainya (5).

Menyambung hal demikian, maka Hurlock mengulas tentang kreativitas. Penting untuk memahami karakteristik seseorang yang merupakan bagian dari proses kreativitas,unsur-unsur tersebut meliputi beberapa hal terkait, pertama, kreativitas merupakan proses bukan suatu produk. Kedua, proses kreativitas diarahkan pada tujuan, baik untuk keuntungan pribadi atau keuntungan kelompok sosial. Ketiga, ia mengarah pada suatu hasil yang baru dan berbeda serta memiliki keunikan berbeda bagi seseorang baik itu verbal maupun nonverbal, konkrit maupun abstrak.

Keempat, kreativitas merupakan hasil dari proses berpikir divergen, sedangkan konformitas berasal dari proses berpikir konvergen. Kelima, bukan suatu proses berpikir, dan bukan anonim dari kecerdasan atau hal terkait dengan mental. Keenam, kemampuan menciptakan suatu karya berkaitan dengan pengetahuan yang diterima. Ketujuh, kreativitas merupakan hasil imajinasi yang terkendali dan mengarah pada jenis-jenis pencapaian, baik itu dalam hal seperti melukis, membuat rangkaian balok, atau bisa juga melamun (5).

Sejatinya manusia memiliki kreativitas berbeda, tergantung pada seberapa sering ia melatih diri atau menggunakan potensinya. Dari hal itu, penting juga melirik pada pernyataan Maslow yang meyakini bahwa manusia sejatinya memiliki kemampuan untuk berpikir kreatif. Jika mereka melakukan hal-hal buruk, maka perilaku tersebut diasumsikan sebagai reaksi terhadap perampasan atas kebutuhan dasarnya. Sebaliknya jika mereka melakukan hal-hal baik maka ia telah mengembangkan kemampuan sejatinya menuju kehidupan yang lebih baik (6). Dengan demikian dapat disederhanakan, proses pemahaman makna kreativitas dapat menjadi rumit atau bahkan sebaliknya. Dengan mengenali hal-hal yang berkaitan dari hal itu, harapan besarnya ia dapat berkembang secara tepat dalam diri seseorang.

Untuk mengenali diri (baca: kreativitas) lebih dalam, terdapat beberapa yang dapat dilakukan, diantaranya: Pertama, belajar untuk merasa dan mengenal diri sendiri lebih baik. Kedua, belajar mencari banyak jawaban dari setiap permasalahan dan mengembangkan potensi diri untuk kemampuan berpikir, dan mengembangkan diri sendiri secara lebih baik. Ketiga, mengembangkan skil baru, dan merasa senang atau nyaman terhadap perbedaan (7).

Dalam memahami tentang kreativitas dan pengembangan diri sendiri, Menurut pandangan Freud, bahwa hal itu merupakan ekspresi dari keguncangan jiwa, kemudian sebagai lanjutan dari permainan khayalan yang diekspresikan melalui cara-cara unik sehingga menjadi suatu karya yang dapat diterima oleh masyarakat (1). Suatu karya merupakan hasil dari proses kreativitas, ia berasal dari kandungan-kandungan tak sadar dengan kenangan, khayalan, dan dorongan naluri, kemudian diekspresikan dalam suatu karya kreatif. Oleh karena itu, kreativitas dipahami sebagai proses yang dilalui seseorang dimana proses tersebut salah satunya berasal dari dorongan naluri untuk bergerak bebas sesuai dengan kehendak diri.

Kreativitas selalu bersinggungan dengan kemampuan melahirkan dan menciptakan sesuatu hal yang baru. Pemahaman lebih rinci juga dijabarkan oleh banyak pandangan melalui kajian masing-masing. Oleh karena itu, memahami secara sadar tentang asumsi kreativitas lebih mendalam bisa ditelusuri dalam berbagai teori, diantaranya psikoanalitik, Gestalt, interpersonal, asosianistik, interpersonal, dan lainnya. Teori-teori tersebut kemungkinan besar terus berkembang sesuai dengan perkembangan era dan pengetahuan masing-masing.

Kreativitas selain bersinggungan dengan literasi, ia juga berkaitan dengan proses berpikir seseorang. Seperti yang disampaikan oleh Guilford, bahwa berpikir kreatif didasarkan pada beberapa ciri khusus, diantaranya kelancaran, keluwesan, keaslian, penguraian, dan redefinisi untuk meninjau ulang problem berdasarkan pandangan yang variatif.

Hakikat Kreativitas dalam Diri Manusia

Dari serangkaian ulasan, sejatinya kreativitas muncul pada saat manusia dilahirkan (8). Pada hakikatnya, setiap orang memiliki kreativitas. Namun jika dalam tumbuh kembangnya ia menunjukkan suatu hal yang berbeda, maka hal itu bergantung pada bagaimana ia mengembangkan potensi kreatif tersebut untuk aktualisasi diri. Jika melihat contoh seorang tokoh yang memiliki karya kreatif seperti seniman dengan karya seninya yang unik, penyair dengan karya puisinya yang menyentuh setiap pembaca, novelis dengan karya tulisnya, dan lain sebagainya.

Mereka semua memiliki tingkat kreativitas yang berbeda tergantung dari minat seseorang. Oleh karena itu pendidikan hadir untuk mengusahakan supaya potensi manusia dapat terlatih dan berkembang sehingga ia dapat memahami dirinya, kecenderungannya dan mampu melahirkan sesuatu yang baru hingga dapat diterima oleh masyarakat.

Setiap manusia memiliki tingkat kreativitas berbeda, semisal kreativitas personal dan kreativitas kultural. Kreativitas personal dipahami bahwa setiap manusia dapat ditumbuhkan kreativitas personal sebab manusia hakikatnya memiliki dasar kreativitas tertentu. Kemudian jika kreativitas tersebut menunjukkan hasil temuan-temuan yang dapat berkontribusi dalam kebudayaan maka disebut kreativitas kebudayaan (8).

Selain daripada itu kreativitas dalam diri manusia juga dapat dipahami dalam empat kategori, yaitu produk, individu, proses, dan lingkungan (9). Produk diindikasikan bahwa kreativitas merupakan hasil karya baru, proses dimaksudkan bagaimana kepribadian seperti ciri-ciri orang kreatif, proses diindikasikan pada proses yang berlangsung sehingga terwujud perilaku kreatif, dan proses menekankan pada pentingnya faktor-faktor yang dapat memunculkan dan mengembangkan kreativitas seseorang. Hasan Langgulung menyebut ciri-ciri pribadi orang kreatif, dalam beberapa ciri, diantaranya, memiliki keterbukaan terhadap pengalaman, penilaian dalaman, dan kesanggupan berinteraksi secara bebas dengan konsep-konsep dan unsur-unsur (10).

Dari serangkaian ulasan di atas tersebut, terdapat tulisan yang dimuat di Antaranews.com yang menyebutkan bahwa kreativitas manusia memiliki pengaruh positif terhadap diri mereka sendiri. Alih-alih dari kreativitas membuat diri menjadi lebih baik, dalam berbagai keadaan. Khususnya keadaan saat ini dimana pandemi masih belum fix dinyatakan musnah dari kehidupan manusia. Manusia mampu bertahan melalui kreativitas diri masing-masing. Oleh karena itu maka penting terus menggali kreativitas diri baik soft skill maupun hard skill, karena dengan cara itu mampu melahirkan manusia yang berkualitas dan berdaya saing.

Cara memunculkan kreativitas diri salah satunya dengan menggalakkan literasi, baik literasi membaca, menulis, dan lainnya. Dengan kemampuan membaca yang terus dipertajam, ilmu pengetahuan semakin mudah diperoleh dan dicerna dengan baik, disitulah ilmu pengetahuan terus mengalir atau bahkan tumbuh. Secara sadar, disitulah peran literasi dalam menumbuhkan kreativitas dan mengubah kehidupan manusia lebih baik.

 

Referensi

  1. Hasan Langgulung, Kreativitas dan Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka AL-Husna, 1991.
  2. Rob Pop, Creativity: Theory, History, Practice, New York: Routledge, 2005.
  3. Rahmad Aziz, Psikologi Pendidikan: Model Pengembangan Kreativitas dalam Praktik Pembelajaran, Malang: UIN Maliki Press, 2010.
  4. Elizabeth B. Hurlock Child Development: Fifth Edition, New York: McGraw-Hill Book Company, 1978.
  5. Abraham H. Maslow, The Farther Reaches of Human Nature, New York: Penguin Group, 1971.
  6. Abraham Maslow, Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow, Yogyakarta: Kanisius, 1987.
  7. Mary Mayesky, Creative Activities for Young Children, United State of America: Delmar, 2009.
  8. Conny R. Semiawan, I. Made Putrawan, dan Th. I. Setiawan, Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010
  9. Ngalimun, Haris Fadhilah, dan Alpha Ariani, Perkembangan dan Pengembangan Kreativitas, Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2013.
  10. Hasan Langgulung, Kreativitas dan Pendidikan Islam, Jakarta: Radar Jaya Officer, 1991.