Relevansi Kreativitas dan Pengembangan Potensi Manusia

On Creativity Education Stress and Thoughts. MIUC

Setiap orang memiliki potensi yang berkembang sesuai minat dan kecenderungan hidup masing-masing. Ia berkembang menuju arah tujuan hidup. Itulah mengapa setiap orang berproses berbeda berkembang sesuai dengan impiannya. Membahas tentang jalan hidup seseorang yang berbeda, pada dasarnya takdir sering berbeda namun berproses sesuai arah tujuan, sedikit banyak kita telah berupaya mewujudkan impian meski sering mengalami kegagalan. Disinilah penting bagi seseorang memiliki kreativitas, minimal untuk bertahan hidup dan mengupayakannya

Salah satu bentuk konkrit dari kreativitas yaitu kemampuan menghasilkan karya atau produk. Menanggapi hal demikian, Hurlock memberi pandangan bahwa dalam tubuh manusia, antara kreativitas dan hasil kreativitas memiliki beberapa indikasi salah satunya berpikir cerdas. Berpikir atau olah akal merupakan potensi manusia sekaligus merupakan anugerah, itulah yang membedakan pada tiap-tiap makhluk.

Potensi manusia diasumsikan sebagai perpaduan antara jasmani dan rohani yang saling berkelindan. Untuk mengasah potensi perlu upaya serius, dan salah satu wadahnya ialah pendidikan. Menanggapi hal demikian, Paulo Freire menganalogikan pengharapan sebagai kebutuhan ontologis, yakni ketika memerlukan praktik untuk merealisasikan.

Dengan begitu kreativitas sebagai salah satu wujud dari proses pendidikan perlu dikembangkan pada masing-masing peserta didik untuk realisasi proses pendidikan serta memaksimalkan potensi supaya tercipta insan kreatif (1). Berpikir kreatif menjadi suatu hal yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik. Dengan kemampuan skil tersebut, peserta didik dapat terlatih menjadi sosok yang berpikir kritis (critical thinking), peka, dan mampu membangun gagasan sesuai pengetahuannya.

Hasil karya yang dicipta oleh seseorang merupakan wujud kreativitas dan kecerdasannya, keduanya sama-sama memiliki hubungan positif yang dapat membentuk skil diri. Pernyataan tersebut dapat diperkuat pada ulasan lanjutan, bahwa orang kreatif memiliki sisi unik dan menonjol, ia dipengaruhi oleh minat, sikap, motivasi dan kemampuan kognitif bersumber dari kemampuan kognitifnya.

Pernyataan di atas tersebut mengindikasikan bahwa kreativitas memiliki keintiman dengan intelegensi. Atau dengan ungkapan lain ‘orang yang kreatif memiliki intelegensi yang tinggi’. Sebab untuk menghasilkan karya butuh skil khusus. Setiap orang merupakan makhluk unik yang memiliki potensi kreatif berbeda.

Spearman menafsirkan bahwa kreativitas merupakan proses intelegensi yang disebut kecerdasan. Terdapat beberapa prinsip dalam proses kreatif, diantaranya, mengenal pengalaman, menonjolkan hubungan pokok, dan memiliki tanggung jawab penuh terhadap karyanya.

Guilford ikut memberi pandangan seperti yang dikutip oleh Sutrisno dalam Tesisnya yang berjudul Pengembangan Kreativitas Dalam Pendidikan Islam Kontemporer (Telaah Pemikiran Muhammad Iqbal), ada beberapa sifat yang menjadi ciri berpikir kreatif; Pertama, kelancaran dimaksudkan sebagai kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan. Kedua, keluwesan, kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah.

Ketiga, keaslian (orisinalitas), kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli. Keempat, penguraian (elaborasi), yaitu kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara rinci. Kelima, perumusan kembali, yaitu kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan perspektif yang berbeda dengan sesuatu yang telah diketahui oleh khalayak.

Guilford juga menambahkan penjelasan dalam karya ilmiahnya, bahwa kreativitas jauh melampaui kecerdasaan. Ia berasumsi bahwa orang kreatif diindikasikan oleh kemampuan intelegensi atau IQ yang tinggi. Ia menyebutnya dengan istilah genius (2). Pada kesempatan tersebut, ia mengulas psikologi manusia khususnya menelaah perkembangan kreativitas manusia.

Dalam pendidikan, megembangkan potensi kreativitas peserta didik tidak hanya pada pemberian test di kelas. Setiap orang memiliki tingkat potensi kreativitas sejak dilahirkan. Namun untuk mengembangkannya butuh metode-metode khusus pada masing-masing anak. Hasil kreativitas yang dimaksud seperti hasil karya yang dapat diwujudkan melalui beberapa faktor yang mendorong kemunculannya tersebut, diantaranya , kepekaan terhadap masalah, kelancaran ideasional, fleksibilitas himpunan, ideasional himpunan, kebaruan ideasional, kemampuan melakukan sintesis, kemampuan analisis, kemampuan reorganisasi atau mendefinisikan ulang, rentang struktur ideasional, dan kemampuan evaluasi.

Salah satu alasan kreativitas dikembangkan, yakni untuk membentuk insan kreatif, dan mengantisipasinya dari dampak negatif seperti munculnya gejala penyakit jiwa, kemerosotan akhlak, dehumanisasi, dan lainnya. Kemudian untuk membentuk insan kamil, kreativitas dalam diri seseorang dimunculkan dengan beberapa langkah, yang sengaja diciptakan untuk mendukung terciptanya kreativitas diri.

Tujuan pendidikan Islam seyogyanya untuk menciptakan manusia-manusia kreatif yang berbudi luhur. Oleh karena itu perlu memperhatikan kurikulum yang disusun, baik dari pendekatan, teori, teknologi, isi, metode, serta proses belajar mengajar. Namun jika melihat lingkungan sebagai hal-hal yang berpengaruh, dalam kajian ini seperti lingkup pesantren dan literasinya, hal-hal tersebut perlu diperhatikan dalam usaha membangun lingkungan yang kondusif. Berdasarkan dari beberapa teori yang dinyatakan, maka terdapat beberapa hal urgen dalam pengembangan potensi kreativitas seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal.

Pertama, proses dimaksudkan bahwa peserta didik menjalani serta melalui serangkaian peristiwa, kewajiban dalam serta hal-hal ynag berkaitan dalam pengembanagan kreativitas. pada bagian ini, dalam pemaknaannya, kreatifitas tidak terlepas dari suatu proses, yakni proses adanya sesuatu yang baru. Dalam suatu proses, terdapat titik tekan, dan penekanannya bersumber pada tindakan yang menghasilkan, yang disebut hasil. Artinya kreativitas tidak dapat ditekankan pada hasil akhir yang diciptakan. Sebab hasil dilahirkan dari suatu proses.

Kreativitas dapat berupa hasil cipta seseorang dari suatu proses. Proses kreativitas melahirkan seseorang yang berpikir kritis dan kreatif (3). Suatu karya lahir dari proses kreatif, Hasan Langgulung memberi masukan bahwa dalam proses kreativitas seseorang terdapat empat periode yang merupakan gabungan dari model Spearman dan Guilford.

Periode pertama, ditandai dengan adanya aktivitas intelektual berupa penemuan masalah-masalah. Artinya adanya kemampuan dalam diri seseorang untuk merasakan sesuatu yang salah atau bermasalah. Kemampuan tersebut sebenarnya dapat melatih kepekaan diri.

Periode kedua, mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan problem yang ditemukan.setelah mengumpulkan informasi, langkah selanjutnya yakni menyusun informasi kemudian menyimpulkan hubungan-hubungan yang terkait.

Periode ketiga, dikatakan sebagai periode percobaan. Maksudnya pada periode ini seseorang berusaha meletakkan cadangan ide-ide kreatifnya. Setelah menemukan masalah, langkah yang dilakukan ialah mencari serta mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan problem tersebut. Kemudian ia menyusunnya dan mengemasnya dalam bentuk atau wujud yang mudah digunakan serta berfaedah.

Periode keempat, disebut dengan periode penilaian dan penentuan kebenaran atau kesesuaian penyelesaian dari ide-ide atau asumsi yang dicadangkan. Pada periode ini muncul karya sebagai hasil kreativitas (4). Fenomena-fenomena tersebut dikatakan sebagai fenomena kreatif yang memiliki empat periode. Pada masing-masing periode terdapat proses intelektual yang dimulai dengan menemukan masalah hingga munculnya karya.

Pertama, motivasi berperan sebagai pendorong semangat seseorang dalam melakukan sesuatu. Hasil kajian Hurlock menyebutkan bahwa kreativitas seseorang dipengaruhi oleh lingkungan dan keadaan dalam diri seseorang. Artinya peran lingkungan serta psikis seseorang seperti motivasi memberi pengaruh besar terhadap perkembangan kreativitas diri. Sebagaimana dicontohkan oleh Hurlock bahwa sikap orang tua termasuk dorongan dari mereka menjadi urgen dalam perkembangan kreativitas anak.

Menjadi kebutuhan urgen bagi mental seseorang, khususnya bagi yang mengalami gangguan mental atau psikis. Kajian tentang motivasi, telah banyak dikaji oleh para ilmuwan, seperti Abraham Maslow yang mengistilahkan dengan sebutan orang yang sakit secara psikis, yaitu mereka yang belum berhasil menjalin relasi-relasi dengan baik (lingkup sosial).

Seseorang dalam kategori ini butuh penanganan secara khusus. Lalu dimanakah peran motivasi dalam pengembangan diri dan bagaimana kaitannya dengan kreativitas? Motivasi menurut salah satu pakar dipahami sebagai pendorong atau penggerak untuk melakukan tindakan yang dapat mengantarkannya pada tujuan yang dicapai. Purwanto berdasarkan hasil penelitiannya menemukan bahwa motivasi memiliki pengaruh terhadap aktivitas perilaku, prestasi, usaha, dan persisten seseorang (5). Orang yang memiliki efikasi diri tinggi cenderung memiliki kematangan dalam menentukan tujuan. Motivasi dalam hal ini dibangun dalam tiga komponen utama, yaitu kebutuhan, dorongan, dan tujuan.

Dalam perkembangannya terkait dengan peranan kognisi, motivasi dibagi menjadi dua yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi Intrinsik seperti minat dan keingintahuan, sedangkan ekstrinsik yang muncul melalui beberapa faktor dari luar diri semisal ganjaran dan hukuman. Pernyataan tersebut jelas menunjukkan bahwa kedua motivasi tersebut memiliki peranan penting dalam membentuk diri-kepribadiannya menjadi lebih berkharisma dan penuh percaya diri dalam melakukan keinginannya.

Namun terdapat pernyataan yang berbeda dengan kajian dari tokoh lain yang menunjukkan bahwa motivasi intrinsik tidak berpengaruh pada pencapaian atau kompetensi. Oleh karena itu dibanding motivasi intrinsic, motivational beliefs dapat berpengaruh terhadap pencapaian dan kemampuan (6). Lebih jelasnya perlu memahami konsep, bahwa ketika seseorang senang melakukan sesuatu, maka ia cenderung mempertahankan kesenangannya dan termotivasi, ia juga meyakini akan mampu menghadapi tantangannya.

Beberapa perbedaan dari hasil kajian mewarnai ragam pengetahuan, namun diantara perbedaannya motivasi tetaplah menjadi unsur penting dan berperan besar dalam pengembangan diri seseorang. Motivasi sebagai dorongan untuk tetap hidup menjadi manusia, yang ketika mengalami kondisi lemah ia bangun dan berupaya keluar dari masalah yang dihadapi.

Dalam pembahasan lain, kreativitas dalam diri perlu dimunculkan dengan perilaku positif seperti seorang penyair, membutuhkan inspirasi dan keyakinan diri untuk menghasilkan suatu karya. Motivasi berperan pada ruang membangun keyakinan diri untuk dapat mengekpresikan suasana yang dirasakannya dalam bentuk karya. Pengakuan dari luar pun menjadi penyokong kepercayaan diri supaya lebih meningkat, ketahanan mental dalam diri menjadikannya mampu mengaktualisasikan diri untuk dapat berkarya lebih baik lagi.

Abraham Maslow sebagai pencetus teori aktualisasi diri ikut menyumbang pemikirannya. Dalam pandangan Maslow untuk memahami motivasi bisa dilihat dari kebutuhannya. Jika memiliki kebutuhan tingkat tinggi, maka perlu memahami motivasi sebagai langkah mewujudkan kebutuhan diri. Biasanya sebelum mereka bisa mencapai kebutuhan tingkat tinggi, mereka dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (7). Dalam hal ini, seseorang yang bermimpi menjadi penulis, dapat menapaki jalan menuju impiannya dengan memenuhi kebutuhan dasarnya yakni dengan membaca, berlatih menulis dan bahkan rajin mengikuti organisasi sastra.

Meninjau hal itu, Eva latipah juga mengulashal itu secara singkat dalam kajian ilmiahnya, terdapat beberapa hal tentang pengaruh motivasi terhadap pembelajaran, semisal perilaku yang terarah pada tujuan, usaha dan energi, prakarsa aktivitas, ketekunan dalam aktivitas, proses kognitif, dan meningkatkan performa (8).

Kedua, lingkungan. kita menyadari bahwa lingkungan merupakan salah satu unsur penting dalam pengembangan kreativitas diri. Semisal pendidikan keluarga, begitu juga lingkungan sosial. Hakikatnya, kreativitas terbentuk dari dua hal, yaitu potensi diri dan lingkungan. Sementara untuk mengetahui budaya literasi, maka dapat dilihat dari praktik interaksi sosial masyarakat di tempat tersebut.

 

Referensi

  1. Paulo Freire, Pedagogi Pengharapan: Menghayati Kembali Pedagogi Kaum Tertindas, Yogyakarta: Kanisius, 2001.
  2. J.P. Guilford, “Creativity,” The American Psychologist, University of Southern California, 17 July 1950.
  3. R Keith Sawyer, et all. Creativity and Development, (New York: Oxford University Press, 2003.
  4. Mahmudah, “Pengembangan Kreativitas Pendidikan Islam di Indonesia (Telaah Urgensi Proses),” Jurnal Kependidikan, vol. II, No. 1, Mei 2014.
  5. Frank G. Goble, Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow (trj), The Third Force, The Psychology of Abraham Maslow, Yogyakarta: Kanisius, 1987.
  6. Edy Purwanto, “Motivasi Trisula, Motivasi Berprestasi,” Jurnal Psikologi, Vol. 41, No. 2, Desember 2014.
  7. Loredana Luxandra Gherasim, Simona Butnaru, and Luminita Lacob, “The Motivation, Learning Environment and School Achievement,” The International Journal of Learning, http://www.Learning-Journal.com vol. 17, 2011.
  8. Abraham Maslow, Motivation and Personality, Tk: Harper & Row, 1954.