Sebuah Tawaran Pengelolaan Sampah Berbasis Rantai Pasok

Penggunaan Mesin untuk Memilah Sampah di KUPAS. JAMILLUDIN

Praktik pengelolaan sampah di Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, sejak 25 Maret 2013 sudah dilaksanakan oleh Kelompok Usaha Pengelola Sampah (KUPAS) yang merupakan salah satu unit usaha BUMDes Panggung Lestari. Berdasarkan praktik tersebut, muncul keinginan untuk memberikan gambaran awal tentang peluang pengelolaan sampah di kawasan pedesaan di Kabupaten Bantul, melalui kolaborasi antarpihak berbasis rantai nilai.

Perjalanan KUPAS sejak tahun 2013 sampai akhir 2021, telah melahirkan empat model bisnis yang dapat digunakan sebagai rujukan penyusunan kebijakan di tingkat kabupaten. Barangkali, praktik tersebut dapat digunakan sebagai pijakan awal untuk merancang tata kelola kolaborasi pengelolaan sampah secara paripurna berbasis analisis rantai pasok.

Pertama, model bisnis v.01-2013/2018 ini dirancang berdasarkan UU Nomor 18 Tahun 2008 Pasal 4 ayat (1). Berdasarkan undang-undang tersebut timbul sebuah peta peran dan anatomi kelembagaan pengelola sampah dari tingkat rumah tangga.

Dengan kata lain, yang menjadi tonggak pengelolaan sampah adalah kesadaran masyarakat untuk memilah sampahnya sendiri menjadi tiga jenis, yaitu barang rongsok (anorganik), organik, dan residu. Hasil pemilahan yang dapat dikelola secara mandiri, harus dikelola sendiri oleh rumah tangga.

Tidak perlu khawatir dengan sampah yang tak mampu dikelola oleh rumah tangga, sebab bank sampah hadir untuk mengatasi masalah tersebut. Perlu dicatat bahwa bank sampah bukan merupakan entitas bisnis atau sebuah tempat, tetapi sebuah sistem sosial. Tidak mengherankan, apabila pengelolaannya mengedepankan pendekatan sosial, seperti suka rela dan gotong royong.

Sayangnya, bank sampah hanya mampu mengelola sampah bernilai jual, yaitu barang rongsok. Untuk sampah residu dan organik, bank sampah belum mampu mengelolanya.

Kedua jenis sampah itu, menjadi tugas dan tanggung jawab dari lembaga pengelola sampah di tingkat desa, yakni BUMDes. Selama sampah-sampah yang ada dapat ditangani di tingkat desa maka penyelesaiannya berada di tangan BUMDes. Sedangkan, yang tak mampu diolah oleh BUMDes, dialihkan ke lembaga pengelola sampah di tingkat kabupaten.

Untuk menjalankan Model Bisnis v.01-2013/2018, perlu peran dari swasta dan pemerintah. Dalam anatomi kelembagaan model pertama, peran pemerintah sangat kental karena meliputi beberapa fungsi. Fungsi regulasi dilaksanakan dengan menetapkan Perdes Nomor 7/2016 tentang Pengelolaan Sampah dan Pedoman Penyelenggaraan Bank Sampah. Peraturan tersebut memberikan pedoman terkait dengan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.

Ada juga fungsi fasilitasi untuk mengalokasikan anggaran guna mendukung kelompok-kelompok masyarakat yang mengelola sampah secara bertanggung jawab dengan memfasilitasi pendirian bank sampah. Fungsi terakhir, yakni fungsi insentif yang bermanfaat untuk mendorong masyarkat agar mau melakukan pengelolaan sampah yang dihasilkan oleh aktivitas rumah tangga secara bertanggung jawab.

Masih ada kekurangan pada Model Bisnis v.01-2013/2018, seperti tidak maksimalnya pemilahan sampah oleh rumah tangga; sekitar 23,7 persen dari total pelanggan KUPAS pada tahun 2018 atau sejumlah 1.342 orang yang melakukan pemilahan sampah, serta aktivitas bank sampah yang kurang optimal; sebatas penimbangan; pemilahan rongsok secara sederhana; dan pembelian sampah oleh BUMDes.

Kedua, Model Bisnis v.02-2019 merupakan pengembangan atas Model Bisnis v.01-2013/2018 yang berfokus meningkatkan aktivitas pengelolaan sampah di tingkat komunitas yaitu, bank sampah. Namun, patut diapresiasi atas banyaknya bank sampah yang bermunculan di Panggungharjo. Sebab, pada pertengahan 2019 telah terdapat 52 bank sampah.

Model Bisnis v.02-2019 ini dilaksanakan dengan menjalankan fungsi insentif, yakni dengan mengintegrasikan layanan bank sampah dengan tabungan emas yang dikelola oleh PT Pegadaian. Integrasi layanan bank sampah menjadi tabungan emas ini diharapkan dapat memotivasi masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah sejak dari sumbernya atau rumah tangga.

Warga Panggungharjo yang sudah terdaftar sebagai nasabah tabungan emas, dapat membawa barang rongsokan (sampah anorganik bernilai jual) ke KUPAS. Sampah-sampah tersebut ditimbang oleh pengurus bank sampah dan educator, sedangkan petugas kasir bertugas menetapkan harga, mencatata setoran, dan menerbitkan slip tabungan emas. Tahap akhir, petugas KUPAS meneruskan setoran ke PT Pegadaian.

Guna menjalankan skema insentif ini, pemerintah desa membagikan dua paket kantong yang kedap air kepada pelanggan. Satu paket kantong digunakan untuk menampung hasil pilahan rumah tangga, sedangkan satu paket kantong yang lain sebagai transporter dari rumah tangga ke Rumah Pengelolaan Sampah (RPS). Setiap paket kantong terdiri atas satu kantong hitam untuk barang rongsok, satu kantong hijau untuk sampah organik, dan satu kantong merah untuk residu.

Penerapan skema insentif cukup memberi dampak positif. Sebab, kian meningkat rumah tangga yang memilah sampahnya sendiri. Sejak bulan September 2019, rata-rata setiap bulannya, terdapat 70 rumah tangga baru yang melakukan pemilahan sampah. Sehingga sampai dengan akhir tahun 2019, jumlah rumah tangga yang telah melakukan pemilahan meningkat menjadi 39,53 persen.

Ketiga, Model Bisnis v.03-2020. Pada tahun 2020, Pemerintah Kalurahan Panggungharjo akan memberlakukan skema disinsentif berupa peningkatan tarif retribusi bagi rumah tangga yang belum melakukan pemilahan. Pemberlakuan skema disinsentif diharapkan menjadi soft pressure sehingga akan lebih mendorong rumah tangga dalam melakukan pemilahan atas sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari.

Akan tetapi, pemberlakuan skema disinsentif ini ditunda karena adanya Covid-19. Langkah yang diambil pemerintah untuk mengatasi hal tersebut adalah memperkuat skema insentif dengan membagikan ember komposter di tingkat rumah tangga, agar pengelolaan sampah organik dapat dilakukan secara mandiri.

Keempat, Model Bisnis v.04-2021 masih bagian dari respon atas munculnya Covid-19. BUMDes Panggung Lestari pada tahun 2021 melakukan transformasi dengan target untuk melakukan efisiensi menurunkan biaya (reduce cost) dan meningkatkan pendapatan (generating income).

Pada unit KUPAS, transformasi dilakukan dengan digitalisasi dan mekanisasi sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan, sekaligus untuk mencapai target menurunkan jumlah residu yang dibuang ke TPA sampai dengan nol persen. Juga mewujudkan pengelolaan sampah tanpa TPA.

Dalam model bisnis ini, kegiatan pemilahan di rumah tangga tidak lagi menjadi prioritas. Titik tekan lebih diarahkan untuk memenuhi ekspektasi pelanggan terkait dengan persepsi mereka terhadap sampah, yaitu kecepatan sampah terangkut dari rumah mereka. Untuk memperoleh kecepatan pelayanan yang optimal, input teknologi dilakukan guna mempercepat pemilahan di RPS.

Terdapat dua peralatan utama yang dibutuhkan, yakni dua unit belt conveyor seri H12.08 dan seri V.4.08, serta satu unit mesin cacah pilah (kucapil) seri 10HP.3mph. Belt conveyor seri H12.08 difungsikan sebagai ruang pemilahan rosok dan residu, sedangkan belt conveyor ser V.4.08 berfungsi sebagai pengumpan ke mesin cacah pilah. Mesin cacah pilah berfungsi untuk mencacah dan memilah antara sampah organik dan sampah anorganik sehingga menghasilkan ‘bubur organik’ dan termoplastik.

Penjelasan yang lebih gamblang, yakni 95 persen sampah yang terkumpul di KUPAS akan mengalami proses seleksi di belt conveyor. Seleksi tersebut akan menghasilkan 12 persen sampah anorganik yang sudah tidak memiliki nilai guna, 5 persen sampah anorganik berdaya jual (barang rongsok), serta 78 persen sampah organik dan anorganik yang dapat diolah.

Tujuan akhir dari barang rongsok adalah industri daur ulang, sedangkan sampah anorganik yang dianggap tak memiliki nilai guna akan berakhir di tempat pembakaran (incinerasi).

Sampah-sampah yang dapat diolah, harus menjalani proses seleksi kedua dengan menggunakan mesin cacah pilah untuk menentukan dua output yang berbeda. Proses tersebut menghasilkan 18 persen termoplastik dari sampah anorganik. Enam puluh persen atau sisanya, menghasilkan bubur organik dari sampah organik. Namun, itu bukan hasil akhir karena bubur organik dapat diolah lagi menjadi pupuk, termoplastik pun jika diolah akan menjadi material bangunan.

Pelanggan KUPAS tercatat berjumlah 1521. Sampah harian yang dikumpulkan KUPAS dari para pelanggan, sebanyak 36 meter kubik. Berdasarkan data commissioning test selama 12 hari pertama dengan durasi kerja enam jam per hari, sampah harian yang diolah mencapai 19,5 meter kubik atau 54,2 persen dari keseluruhan sampah yang terkumpul.

Model Bisnis v.04-2021 relatif memberi solusi atas masalah sampah di desa. Hal yang perlu dilakukan, tinggal mencari kesesuaian antara kapasitas alat per satuan waktu dan volume timbulan sampah yang akan diolah. Implementasi Model Bisnis v.04-2021 juga membuka ruang kolaborasi, mengingat bahwa model bisnis ini menghasilkan intermediate product (barang setengah jadi) yang dapat menjadi bahan baku bagi industri turunan.

Menciptakan BUMDes Bersama atau gabungan BUMDes se-Kabupaten Bantul sebagai tempat untuk mengelola sampah dengan Model Bisnis v.04-2021, sebuah terobosan meminimalkan timbunan sampah tak terolah. Skema yang diharapkan, sampah-sampah yang terkumpul di setiap BUMDes, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), dan Pengelola Sampah Mandiri (PSM) akan dikirim ke BUMDes bersama untuk diolah.

Hasil pengolahan BUMDes Bersama berupa termoplastik dan bubur organik akan diserahkan ke BUMDes di tiap-tiap desa supaya diolah lagi menjadi barang yang bermanfaat dan bernilai jual. Sementara itu, barang rongsok akan dilimpahkan ke Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk didaur ulang. Oleh karena itu, tata kelola kolaborasi pengelolaan sampah berbasis Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) merupakan sebuah tawaran untuk mengatasi menggunungnya sampah di tempat pembuangan akhir (TPA).