Suatu Malam

Yani Samodra

Dua jam menjelang tengah malam, seorang mengetuk pintu kamar kosku. Bisa aku tebak siapa di balik pintu itu, aku buka pintu kamarku, benar ternyata dia. Seorang berwajah pucat, rambut acak-acakan berdiri lunglai dengan tatapan kosong, seperti mayat.

Aku hela nafas panjang, malam ini akan jadi panjang.

Dia lagi, aku raih tangannya, menariknya masuk, karena jika tidak begitu dia hanya akan diam terus di depan pintu sampai besok pagi. Aku dudukan mayat hidup itu di atas tempat tidurku. Aku seret kursi ke hadapannya, kemudian duduk berhadapan dengannya. Lama kami hanya saling diam, matanya menatap kosong ke depan. Kutanya, “Ada apa?”

Tak ada respon.

Empat puluh lima menit berlalu. Dia sama sekali tidak bergerak, kecuali kelopak matanya yang sesekali berkedip dan dadanya yang naik turun pertanda ia masih bernafas. Aku sedikit lega karena setidaknya dia masih hidup, walau tingkahnya seperti mayat, mayat hidup.

Enam puluh menit berlalu. Dia masih diam. Aku usap tangannya, terasa dingin. “Kamu kenapa?” tanyaku.

Muncul timbunan air di kelopak matanya, dia tampak menahannya, wajahnya memerah. Tapi hanya sebentar, lalu kembali pucat dan tatapannya kembali kosong.

Sembilan puluh menit berlalu. Dia masih beku. Aku mulai resah, jangan-jangan benar, jiwanya benar-benar pergi dan dia benar-benar jadi zombi.

Aku tahu dari sikapnya, dia sedang patah hati. Aku bertanya karena aku tak tahu bagaimana dan dengan siapa. Dia selalu begini saat patah hati, bertingkah seperti tubuhnya ditinggalkan jiwanya, seakan rasanya sakit sekali hingga hatinya mati. Tapi biasanya tak selama ini dia diam begini.

Dua jam berlalu, aku mulai kesal karena dia hanya diam. Aku lelah, ini sudah tengah malam, dan waktunya tidur untuk manusia normal. Mataku terasa pedas, badanku mulai pegal, aku berdiri dari tempat dudukku dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka. Saat kembali, dia masih diam. Aku duduk kembali di hadapannya, aku pegang bahunya dengan kedua tanganku, aku tatap wajahnya.

”Apa kali ini rasanya sakit sekali? Kenapa kamu diam lama sekali? Sesulit itukah menceritakannya?” cercaku.

Muncul timbunan air mata lagi di kelopak matanya, wajahnya juga memerah, air matanya meleleh ke pipi, dia tak kuasa menahannya kali ini. Aku beralih duduk di sampingnya, kuusap-usap punggungnya. Dia meringsak ke dadaku dan menangis tersedu-sedu.

Akhirnya.

Aku tarik nafas lega. Zombi ini akan jadi manusia lagi, setelah badai air mata ini. Tapi malam masih panjang.