Trik Pengelolaan Ikan ala Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi

Kolam yang dikelola oleh Wahyu Heryanto. PUTRI INDAHSARI

Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi berhasil menciptakan lahan ideal, yakni lahan produktif guna membentuk kolam dan memanfaatkannya untuk pemeliharaan ikan. Hal tersebut dibuktikan melalui pemanfaatan lahan persawahan yang tidak memiliki tanah berkualitas tinggi karena tidak dapat ditanami padi dengan baik. Kemudian, lahan tersebut digunakan sebagai tempat membudidayakan ikan.

Faktor lain yang membuat Wahyu Heryanto selaku pendiri Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi membentuk serta memanfaatkan kolam untuk budi daya ikan karena lokasi lahan dekat dengan sungai yang merupakan mata air dari Gunung Merapi. Jadi, dapat dipastikan saat musim kemarau tiba, kondisi perairan kolam tetap terjaga dengan baik.

Pada awal didirikannya Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi, Wahyu memilih beberapa jenis ikan untuk dikelola dan dipelihara, antara lain ikan nila, ikan tombro, ikan tawes, ikan gurami, hingga ikan lele.

Masing-masing jenis ikan memiliki kiat-kiat pengelolaan dan pemeliharaan yang berbeda, seperti halnya pada ikan lele. Ketika mengelola dan memelihara ikan lele, kondisi air yang digunakan harus diam atau tidak bergerak. Hal itu disebabkan pergerakan pada air mengakibatkan ikan lele menjadi penuh dan tidak dapat bertahan dengan lama.

Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi memiliki fokus pada pemeliharaan dan pengelolaan ikan air tawar, khususnya ikan nila merah dan ikan bawal. Pemilihannya berdasarkan daya jual yang dimiliki kedua jenis tersebut, tinggi serta stabil.

Sisi lain, ikan nila merah juga memiliki rasa yang lebih lezat dan gurih dibanding jenis ikan nila lainnya. Proses pertumbuhannya yang dianggap cepat, serta kemudahan dalam pengelolaan dan pemeliharaan ikan nila menjadi faktor lain jenis ikan ini dipilih. Wahyu juga menambahkan bahwa ikan nila merah memiliki kelebihan lainnya, yakni dapat diolah menjadi daging filet.

Selain ikan nila, ikan bawal juga memiliki pertumbuhan yang cepat. Wahyu memilih jenis ikan ini untuk konsumsi pemancingan. Ikan bawal menjadi jenis ikan yang paling diminati bagi para pemancing, oleh sebab itulah ikan ini menjadi ikan yang paling laris.

Menurut Wahyu, ikan bawal dapat dikategorikan ke dalam jenis ikan yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, sehingga pengelolaan dan pemeliharaannya cocok dilakukan di mana saja. Ikan bawal juga memiliki daya tahan tubuh yang tinggi, hal itu terbukti melalui kekebalannya terhadap berbagai hama penyakit.

Keunggulan lain yang dimiliki ikan bawal ialah kemudahan dalam proses pengelolaan dan pemeliharaannya, karena ikan bawal dapat mengonsumsi lumut atau dedaunan di sekitar kolam. Selain memudahkan pemiliknya, hal itu dapat menghemat pengeluaran untuk kebutuhan memelihara ikan bawal.

Selama merintis Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi yang berjalan 25 tahun, Wahyu mengatakan bahwa kelompok budi daya ini sudah pernah mengalami kerugian. Salah satu penyebabnya adalah ikan-ikan yang dikelola mati dalam jumlah yang tidak sedikit.

Kerugian itu diakibatkan faktor luar, yaitu adanya kegiatan penebangan pohon munggur yang lokasinya berada di sekitar kolam. Penebangan pohon tersebut menyebabkan kayu gergaji masuk ke kolam.

Wahyu juga berpesan bahwa pergantian musim dari musim kemarau menjadi musim hujan harus diwaspadai, karena pH air turun dan oksigen di dalam air kolam juga berkurang ketika musim hujan. Hal itu disebabkan paparan sinar matahari yang berkurang akibat cuaca mendung.

Guna menyiasati hal tersebut, Wahyu memanfaatkan pohon pisang berusia muda yang berjenis klutuk untuk meningkatkan imunitas pada ikan. Langkah pertama, Wahyu memotong dan mencacah batang pohon pisang klutuk. Langkah tersebut akan menghasilkan getah sehingga batangnya dapat dimasukkan ke kolam.

Untuk pengelolaan dan pemeliharaan jenis ikan gurami, Wahyu menjelaskan bahwa pemelihara harus lebih memperhatikan kondisi ikan pada musim hujan. Sebab, ikan gurami akan lebih aktif ketika musim hujan tiba. Ikan akan berenang ke bawah hingga dasar kolam guna mencari air kolam yang masih memiliki suhu hangat. Oleh karena itu, sebelum mengelola dan memelihara ikan gurami, pemelihara harus memastikan kolam yang digunakan memiliki kedalaman yang cukup.

Jika tidak memiliki kolam yang cukup dalam, ikan gurami tidak dapat berenang ke bawah untuk mencari air dengan suhu hangat. Hal itu dapat berakibat fatal, karena sisik kan gurami akan mengelupas dan badan ikan gurami berubah menjadi warna merah. Setelah itu, ikan gurami tidak dapat bertahan dengan lama.

Wahyu menempatkan ikan di kolam berdasarkan jenis dan usianya. Jenis ikan bawal yang baru menetas hingga dewasa ditempatkan dalam satu kolam yang sama, sebab ikan bawal mengonsumsi pakan yang lebih banyak jika dibandingkan jenis ikan lainnya.

Jenis ikan lainnya, seperti ikan nila dan ikan gurami ditempatkan pada kolam yang sama dan dibedakan berdasarkan usianya, yang kemudian terbagi menjadi tiga kategori.

Kolam pertama, diisi ikan nila dan ikan gurami yang baru menetas hingga ikan yang berusia tiga minggu. Kolam kedua, diisi ikan nila dan ikan gurami dengan usia satu hingga dua bulan.

Kolam ketiga, diisi ikan dewasa atau ikan nila dan ikan gurami berusia tiga bulan atau lebih. Kolam keempat atau kolam terakhir diisi ikan yang sedang dalam masa kawin.

Selain itu, Wahyu menggunakan dua jenis pelet dalam pemberian pakan ikan-ikannya. Jenis pertama, yakni pelet ikan dengan tekstur keras, sedangkan jenis kedua adalah pelet ikan dengan tekstur lembut. Pelet jenis kedua merupakan hasil dari pelet bertekstur keras yang dicampur dengan air panas.

Umumnya, ikan-ikan yang menginjak usia tiga minggu hingga dua bulan mengonsumsi pelet dengan tekstur lembut. Pemberian pelet dengan tekstur keras dilakukan pada ikan yang berusia minimal tiga bulan.

Wahyu memberikan pakan pada ikan-ikan yang dikelola dan dipeliharanya sebanyak dua kali dalam sehari, yakni pada waktu pagi dan sore. Saat pagi hari, Wahyu memberikan pakan dedaunan pada ikan-ikannya, seperti daun gedi yang tumbuh di sekitar kolam.

Sementara pada sore hari, Wahyu memberikan pakan pelet. Biasanya, ikan-ikan yang dikelola dan dipelihara Wahyu dalam Kelompok Budi Daya Ikan Mina Legi dapat menghabiskan satu kilo pelet dalam satu hari. Wahyu juga tidak lupa mencampur pakan peletnya dengan vitamin, seperti antibiotik dan tetes tebu yang berguna untuk meningkatkan protein.