Als Ik Een Indonesian Was

Nasionalisme. TNI

Demi merayakan kemerdekaan Belanda kala itu, mereka memungut sumbangan dari semua warga Hindia Belanda; ambtenaar (pegawai negeri di zaman Hindia Belanda), orang asing Asia (Tionghoa, Arab, india, dan lain-lain), bahkan pribumi yang notabene miskin dan menderita juga dipalak oleh mereka. Atas tindakan penjajah yang semena-mena itu, jiwa nasionalisme Suwardi Suryaningrat pun bergolak.

Kemudian, ia menulis sebuah artikel yang berjudul Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Jua). Dalam tulisan itu ada sebuah nukilan yang sangat terkenal sampai sekarang.

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander (pribumi) memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu.”

Sewaktu berada di Darwin, saya bertemu dengan pasangan tua dengan muka khas melayu. Kami pun segera akrab dengan mereka karena lucunya gaya percakapan campuran antara bahasa Indonesia ejaan lama dan bahasa Ngapak.

Semula, kami mengobrol di sebuah taman yang berada di depan Darwin City Library. Lalu, kami melanjutkan mengobrol ke rumahnya yang asri di daerah Roos Smith Avenue yang dipenuhi dengan tanaman buah-buahan khas Indonesia, mulai dari durian, mangga, pisang, jambu, hingga manggis.

Paling berkesan dari semua obrolan adalah ketika ia mengatakan, “Seandainya saya kembali menjadi orang Indonesia.”

Rupanya, ia seorang pensiunan Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL), yakni tentara Belanda. Jadi, setelah Konferensi Meja Bundar (KMB), ia memilih ‘menjadi Belanda’ daripada bergabung dengan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS).

“Manusia itu seperti bangau atau ikan salem, sejauh mana pun perginya, ia ingin mati di tempat kelahiran,” katanya dengam sendu sebelum melanjutkan kalimatnya, “Indonesia adalah negara terindah di dunia yang pernah aku kunjungi.”

Ia menyesal tidak bisa kembali menjadi WNI karena statusnya dianggap sebagai ‘pengkhianat’ sekaligus tentara negara asing. Bahkan, ia telah mencoba melamar naturalisasi berkali-kali. Oleh karena itu, di masa tua ia memilih tinggal di Darwin, daerah paling utara Australia. Daerah ini menghadap langsung ke Indonesia. Suhu di Darwin pun persis seperti di Purwokerto, tempat ia dilahirkan.

Sampai sekarang, saya belum mengerti benar hal yang dimaksud rasa nasionalisme dan ultranasionalisme. Hal yang ingin saya sampaikan, ketika bersinggungan dengan masalah kewarganegaraan, tidak sedikit saya bertemu dengan teman-teman yang enggan ‘memperpanjang’ paspor hijau bergambar Garuda Pancasila. Dengan kata lain, ia kapok sebagai WNI.

Saya pun tidak tahu juga, apakah karena sejak SD mendapat pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sehingga rasa nasionalisme saya begitu peka? Saya pun masih bertanya-tanya. Akan tetapi, saya menghargai keputusan teman-teman yang pindah menjadi warga negara lain.

Bagi saya, mereka itu pemberani. Mereka sengaja membuang status WNI karena ingin bertarung di negeri asing untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, lebih mapan, maupun alasan lainnya. Saya lebih mengapresiasi mereka daripada orang-orang yang mengaku WNI dan menetap di Indonesia, tapi kelakuannya memilukan karena wira-wiri membuat polusi dan limbah di sosial media atau dunia maya.

Kegiatannya setiap hari hanya mencela pemerintah dan nyinyir bau anyir. Ironisnya, mereka tiada kontribusi sedikit pun kepada negara, kecuali paling getol memamah biak dan terus berkembang biak.

Tapi, sudahlah, memang dunia ini isinya macam-macam dan saya sependapat dengan Ronald Mujiman, mantan KNIL, tentang pernyataannya bahwa Indonesia itu paling indah dan enak sedunia karena memiliki segalanya. Pendapat subjektif ini saya ungkapkan setelah membandingkan Indonesia dengan 60 negara di dunia yang pernah saya kunjungi.

Bagaimana tidak enak? Jika kelaparan di pukul dua malam, saya tinggal pergi saja ke gudeg batas kota di Jalan Urip Sumoharjo. Tongkat dan kayu saja jadi tanaman, dapat menjadi urapan dan lalapan juga kalau di Indonesia. Patut disyukuri karena hal seperti itu tak bisa ditemukan di Singapura.

Ketika tidak punya uang di Indonesia, berbekal peluit, lalu pergi ke pengkolan, kantong langsung terisi kembali. Pokoknya, banyak warga dunia yang berandai-andai menjadi warga Indonesia, kalau tidak percaya, tanya saja sama Dave Jephcott si Londo Kampung atau keluarga Timo Scheunemann. Als ik een Indonesian was, seandainya aku seorang Indonesia.