Autokritik dan Puasa

Bulan Ramadan. MUSLIMAH

Kurang dari 24 jam waktu Eastern Standard Time (EST) atau waktu bagian sepanjang timur Amerika Serikat, akan memasuki bulan puasa, bulan suci umat Islam. Secara batin, saya akui bahwa ada nuansa yang berbeda. Mungkin hal ini hadir begitu saja karena dipengaruhi oleh pergulatan religi saya selama ini.

Namun, kenyataan yang di sini masih disibukkan dengan bisnis seperti biasa; ke pelabuhan, menunggu barang, pemberangkatan, dan lain-lain. Melakukan kegiatan seperti kaset usang yang diputar terus-menerus dan baru berhenti sewaktu kita repatriasi.

Apabila mengenang perjumpaan bulan Ramadan sewaktu di kampung dulu, ada adat nyadran (sadran) atau menziarahi leluhur. Kemudian, adat padusan atau mandi besar yang dimaknai untuk mempersiapkan semuanya dalam keadaan bersih dan suci.

Apakah masih ingat ketika di siang harinya kita mengumpulkan makanan saking kelaparannya? Kehebohan menyiapkan buka puasa dengan membuat segala macam hidangan. Lalu, di antara semua acara televisi, yang paling ditunggu-tunggu adalah azan Magrib. Namun, setelah beberapa teguk air membasahi kerongkongan, ternyata yang kita kumpulkan dan persiapkan tadi rasanya menjadi mubazir.

Guru agama sewaktu di SMP dulu bilang bahwa hakikat puasa adalah pengendalian diri, mengekang diri dari hawa nafsu, dan memanifestasikan rasa penderitaan yang dialami sesama. Dalam puasa itu pula kita bisa mengambil hikmah akan arti kekuatan kemanusiaan untuk kemulian. Itu dapat kita rasakan selagi lapar dan dahaga sebagai bentuk dari penderitaan.

Jujur, saya akui, nasihat guru agama itu belum aku resapi dengan baik dan benar, jika dilihat dari yang selama ini aku lakukan. Proses belajar mengambil hikmah dari nilai kemuliaan untuk berbagi penderitaan itu sungguh suatu hal yang berat.

Tidak sekadar jarang, saya sering mengeluh jika menu hari ini daging kotak. Tak terhitung lagi berapa kali dalam sehari saya harus membuang makanan. Perut ini pun sering saya isi penuh dengan makanan sehingga bernapas pun terasa berat.

Padahal sabda nabi yang pernah saya dengar, “Bagilah perutmu menjadi tiga bagian, sepertiga makanan, sepertiga air, dan sisanya adalah udara.”

Kerap saya mengabaikan adagium yang menyatakan, ibu dari segala penyakit itu adalah makanan yang kita makan. Ketika Nabi Muhammad saw hanya makan tiga butir kurma untuk berbuka puasa, seharusnya saya mengambil hikmah bahwa dunia bukan tempat kerakusan dan manusia harus jauh dari sikap rakus.

Nabi pernah bersabda, “Jihad yang terbesar adalah berperang melawan hawa nafsu.” Ya, hawa nafsu diri sendiri.

Tak perlu dibantah karena itu adalah kebenaran yang absolut. Betapa sering saya merasa sok suci, apabila menoleh ke kiri dan kanan di sini. Padahal yang saya lakukan hanya untuk memenuhi rasa spiritual manusia dengan memakai sarung, baju koko, dan kopiah. Sebuah seragam yang saya pakai untuk mencari perhatian sekelilingnya.

Bahkan rutinitas salat pun kadang masih sekadar alat untuk membatalkan kewajiban, bukan sebagai kebutuhan. Seharusnya tepat waktu dan kekhusukan menjadi keutamaan. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu.

Puasa adalah suatu kewajiban yang harus dijalani oleh umat Islam, namun bukan menihilkan dari aktivitas lainnya. Pencarian rezeki yang secara kebetulan berjumpa dengan bulan suci itu adalah anugerah, terlepas dari lingkungan sekitar yang dihadapi; liberalis, kapitalis, dan utopis.

Mungkin sudah takdir kalau kita mengais rezeki di sini, di atas kapal, jauh dari keluarga. Nabi Muhammad saw mewariskan pada kita bahwa kerja harus diartikan sebagai kerja, bukan menciptakan keinginan yang berlebihan.

Sudahlah, bukankah nilai agama di sekolah dulu pun tak pernah mendapatkan angka delapan? Tak pantas saya mendongeng dan berkhotbah, sementara jidat sendiri belum khusuk dalam bersujud. Pengetahuan saya pun hanya cukup untuk diri sendiri.

 

One thought on “Autokritik dan Puasa

Comments are closed.