Bercerita Tentang Kewirausahaan di Tengah Pandemi

Kementerian Sekretariat Negara RI.

Sebulan yang lalu, saya menghadiri undangan sebuah acara di Denpasar, Bali. Saya sangat mengapresiasi karena dalam acara itu saya mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga tentang kewirausahaan dari salah satu tokoh crazy rich Bali.

“Pandemi pertama kali terjadi di bulan Maret, kebetulan pada saat itu adalah hari Nyepi. Keadaannya saat itu, semua toko dan tempat wisata tutup total. Setelah buka, ternyata langsung sepi. Keadaan tidak semakin membaik, malah semakin runyam. Lalu saya berpikir, harus bertahan atau pasrah?“ tutur Ajik Krisna selaku pemilik jaringan Krisna Bali.

Dalam kondisi yang sulit, ia bertekad untuk melakukan sesuatu yang dapat menghidupkan roda perekonomian. Jiwa wirausaha yang ada pada dirinya, semakin menjadi. Oleh karena itu, Ajik Krisna malah meluncurkan empat produk baru sekaligus, yakni kacang kapri, pie susu, pia kukus, dan bakpia bali.

Ini langkah edan. Jika dilogika, siapakah yang akan membeli produk baru di tengah-tengah pandemi? Tapi, jiwa ragu-ragu dan bekerja setengah hati tidak dimiliki seorang Ajik Krisna, bahkan produk terbaru Bali Banana Crispy tengah naik daun. Sebelum pukul 11.00, produk tersebut sudah ludes di seluruh outlet Krisna. “Pandemi membawa berkah buat saya,” kata Ajik Krisna.

Pada suatu sore hari, saya pernah mendapatkan sebuah pelajaran yang luar biasa. Walaupun pelajarannya belum sehebat yang saya dapat dari Ajik Krisna, namun ini menjadi luar biasa, karena saya belajar dari mahasiswa saya sendiri.

Secara tidak sengaja, sore itu saya mampir ke sebuah kafe yang sangat atraktif karena warungnya sengaja dibuat di tengah-tengah rumah kaca yang ditanami anggur. Ingatan saya tiba-tiba melayang ke puluhan tahun silam, ketika berkesempatan mengunjungi kebun dan pengolahan anggur Santa Margherita Vinicolo yang tidak jauh letaknya dari Venice, Italia. Kenangan itu tersimpan karena saya dijamu di kafe yang latar belakangnya kebun anggur nan cantik di perbukitan Maremma.

Terdorong oleh rasa penasaran, saat memesan makanan, saya bertanya kepada pelayan untuk mencari tahu si pemilik Le Vine Garden Café. Kafe yang asri dan apik ini terletak di Sinduharjo, Sleman.

Hal yang menjadi cerita luar biasa adalah ketika pemiliknya yang masih belia dan ramah menghampiri meja saya. Ternyata ia mahasiswa saya di Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta. Begitu kami bertemu, selama setengah menit saya masih tidak percaya bahwa ia adalah pemilik sekaligus pencetus dari tempat yang keren ini.

Kemudian, cerita perjalanan bisnis yang ia geluti mengalir lancar dari mulutnya yang selalu barengi dengan senyum yang mengembang. Senyuman lugu dari seorang mahasiwa itu berhasil membuat saya tertunduk penuh perhatian untuk mendengarkan isi kuliah yang benar-benar berisi, bukan sekedar teori. Kisah penuh pelajaran ini datang dari mahasiswa semester lima yang saya banggakan, ia bernama Bonaventura Ardana.

Seperti kisah yang pernah dialami Ajik Krisna bahwa gelombang ganas Covid-19 telah menerjang usaha restoran orang tua dan bisnisnya. Sejak duduk di bangku SMK, ia sudah berbisnis sendiri. Sedangkan, bisnis yang dimiliki orang tuanya adalah sebuah rumah kaca yang berisi kebun anggur. Kebun ini memproduksi buah anggur yang segar dan juga menjual bibitnya.

“Sebenarnya, usaha kafe di kebun anggur ini adalah ikhtiar terakhir saya karena usaha apapun di masa pandemi terasa sangat sulit, seluruh kemampuan dan tenaga, saya fokuskan di sini. Saya berkeyakinan harus berusaha punya pegangan daripada ikut hancur tersapu badai,” tuturnya tanpa meninggalkan kesan yang menggurui.

Sebuah kisah manis memang tidak langsung datang begitu saja, seperti buah anggur itu sendiri. Awalnya sepat, pahit, lalu asam, tapi dengan, pemeliharaan yang intensif dan perawatan yang penuh kesabaran dan ketelatenan maka buahnya akan terasa manis. Dalam sebulan, pendapatan bersih hasil usaha resto serta jual buah dan bibit anggur bisa untuk membeli motor baru seharga 21 juta rupiah.

Sore itu, buah anggur yang berseri bergelantungan seperti mengejek saya. Kebetulan saya mengajar kewirausahaan yang penuh dengan teori, teor, dan teori. Namun, hari itu, saya mendapatkan kuliah yang sesungguhnya tentang wirausaha sejati, tidak sekadar cuap-cuap teori.