Bergerak dalam Keterbatasan

Suasana Makan Siang di Selter Tanggon. SUGIHARTO

Saya merasa mempunyai tanggung jawab yang lebih dalam menjaga keselamatan jiwa dan raga dari serangan pandemi Covid-19. Mengutamakan kesehatan pasien sudah terucap dalam sumpah ketika dilantik menjadi dokter. Sumpah itu saya tepati sebaik-baiknya. Bahkan, di saat keadaan tidak terkendali.

Pelonjakan kasus Covid-19 varian Delta di Indonesia membawa saya ke tempat bernama Selter Tanggon. Ya, saya menjadi relawan di sana. Varian ini berbeda dari Covid-19 sebelumnya. Virus lebih ganas menggerogoti tubuh dan penularannya sangat cepat sehingga pada pertengahan tahun 2021, Indonesia mengalami krisis kesehatan yang begitu parah.

Akhirnya, Pemerintah Kapanewon Sewon menginisiasi berdirinya Selter Tangguh Kapanewon Sewon yang disingkat dengan Selter Tanggon. Sejak bulan Juli 2021, bersama Dina selaku dokter dari Puskesmas Sewon II, kami ditugaskan menjadi penanggung jawab medis di Selter Tanggon.

Pada awal berdirinya Selter Tanggon, jumlah relawan Selter Tanggon masih terbatas. Jadwal piket tim medis pun hanya dibagi ke beberapa orang secara bergantian. Mereka yang menjadi rekan di tim medis adalah Fendika (Kepala Dukuh Jaranan), Bimo (Kamituwo Panggungharjo), Wahyudi (Lurah Panggungharjo), Rosada (Kepala Dukuh Garon), Jamiluddin (PSID), dan Silvi (relawan mandiri).

Berawal dari serba semua keterbatasan; pendanaan, fasilitas selter; peralatan medis dan obat-obatan, serta ketersediaan logistik, kami tetap melangkah demi misi kemanusiaan.

Sebagai penanggung jawab medis, sambil menjaga selter, saya juga menjadi call center Puskesmas Sewon I. Setiap hari berusaha membalas semua laporan dari warga di wilayah Puskesmas Sewon I, yaitu Kalurahan Timbulharjo dan Pendowoharjo. Sekaligus menindaklanjuti apabila laporan dari warga yang sifatnya darurat atau perlu tindakan medis secara cepat, misalnya terkait permintaan cek tanda-tanda vital pasien Covid-19.

Selain itu, mengunjungi pasien yang sedang melakukan isolasi mandiri juga menjadi tugas saya. Rumah yang saya kunjungi hanya seputar dua kalurahan di bawah Puskesmas Sewon I. Dalam melakukan kunjungan, terkadang ditemani oleh petugas dari Puskesmas Sewon I, terkadang juga ditemani oleh relawan selter yang sedang berjaga.

Dengan keterbatasan kemampuan yang dimiliki oleh para relawan Selter Tanggon, tim ini mampu memberikan pelayanan yang luar biasa. Terutama peran dari Wahyudi Anggoro Hadi selaku Lurah Panggungharjo yang banyak mewarnai keberhasilan pengelolaan manajemen.

Wahyudi mampu menggerakkan semua pemangku kepentingan yang dimiliki Kalurahan Panggungharjo untuk bersama-sama melakukan misi kemanusiaan tanpa pandang bulu. Mulai dari keterlibatan pamong kalurahan hingga warga kalurahan.

Sebagian warga yang menjadi relawan tergabung dalam beberapa lembaga desa. Seperti Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), Karang Taruna Cahyaning Amerta (KTCA), Yayasan Sanggar Inovasi Desa (YSID), Pengelola Sistem Informasi Desa (PSID), dan Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB). Tetapi, ada juga warga yang tidak tergabung dalam lembaga tertentu, mereka secara sukarela melakukan misi kemanusiaan tersebut.

Sebagai tenaga kesehatan, saya menganggap hal yang dilakukan oleh Wahyudi sangat berkesan. Bayangkan saja, ketika fasilitas Selter Tanggon serba terbatas, ia tetap menerima pasien dengan gejala berat untuk dirawat. Pasien tersebut ditolak rumah sakit karena tidak mampu menampung pasien lagi. Setidaknya, kami telah berusaha merawat dan menyembuhkan mereka, walaupun serba terbatas.

Perlu diketahui, pasien Covid-19 yang berasal dari wilayah Puskesmas Sewon I harus ada persetujuan dari Endar selaku dokter puskesmas tersebut. Tetapi, dalam kondisi tertentu, Endar pun memberikan persetujuan ketika Wahyudi menyetujuinya. Bahkan, untuk pasien yang berada di wilayah Puskesmas Sewon II, yang memberi persetujuan adalah Wahyudi. Persyaratan yang tidak menyulitkan, membuat warga memilih Selter Tanggon sebagai tempat isolasi.

Bagi saya, keberadaan Selter Tanggon sangat membantu sekali dalam penanganan pandemi Covid-19 di wilayah Kapanewon Sewon. Terkadang pihak Puskesmas Sewon I pun sering meminta bantuan ke Selter Tanggon.

Selama menjadi relawan, saya pernah beberapa kali menangani pasien yang gejalanya cukup berat. Suatu hari, setelah adanya laporan dari warga di Kalurahan Timbulharjo dan Pendowoharjo, kami bergegas menyelamatkan mereka. Sayangnya, ajal lebih dulu menjemputnya.

Pengalaman lainnya, saya pernah merujuk salah satu pasien ke RS PKU Muhammadiyah Bantul. Pada waktu itu, saya menyetir ambulans milik Puskesmas Sewon I dan ditemani oleh dua orang relawan, yaitu Fendika dan Silvi. Sesampainya di sana, gerbang ditutup karena memang kapasitas untuk pasien Covid-19 telah penuh.

Beruntung, sebelum merujuk sudah melakukan koordinasi melalui pesan singkat di WhatsApp dengan Umam selaku dokter di RS PKU Muhammadiyah Bantul. Kami pun diizinkan masuk oleh petugas IGD. Pasien tersebut juga tidak tertolong setelah dirawat di rumah sakit. Lagi-lagi, kami tidak berdaya melawan waktu.

Sebenarnya, saya sudah menjadi tenaga kesehatan di Puskesmas Sewon I sebelum Selter Tanggon berdiri. Sejak tahun 2017, saya juga sudah bekerja di RSU Kharisma Paramedika, Wates, Kulon Progo. Ketika Selter Tanggon dibuka dan saya diberi tugas sebagai penanggung jawab medis, saya memutuskan berhenti sementara agar dapat fokus mengalokasikan waktu untuk penanganan Covid-19.