BUMDes Memberdayakan Masyarakat

Bantuan Sosial Dana Desa. KEMENKEU

Anak muda desa banyak yang memilih untuk merantau ke kota. Mayoritas tujuan mereka yakni mengadu nasib, bekerja untuk memperbaiki keadaan ekonomi keluarga. Anak muda desa selain tujuan bekerja atau karier juga ada pula yang belajar di kampus-kampus negeri maupun swasta di kota. Sebab menurut mereka kampus di kota lebih baik dan sistem yang mendukung pada perkembangan diri.

Berdasar alasan tersebut maka banyak pemuda yang akhirnya memilih hijrah ke kota. Bagi mereka kota dipandang memiliki banyak ruang atau kesempatan yang luas dibanding desa. Perspektif ini seakan menyudutkan desa tidak memiliki potensi dibanding kota. Menanggapi hal ini, salah satu upaya pemerintah yakni dengan mendirikan organisasi Badan Usaha Milik Desa atau disingkat dengan BUMDes.

BUMDes dilansir dari berita Kompas.com tulisan Muhammad Choirul Anwar menyatakan yakni badan hukum yang didirikan oleh desa tujuannya mengelola usaha, mengembangkan produktivitas dan investasi, memanfaatkan aset, menyediakan pelayanan dan jenis usaha lainnya untuk kesejahteraan masyarakat desa.

Perhatian pemerintah terkait desa direalisasikan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2021 tentang Badan Usaha Milik Desa dan telah ditandatangani oleh Presiden Jokowi tanggal 2 Februari 2021. Organisasi yang melayani masyarakat dan salah satu tujuannya membantu mengatasi problem ekonomi.

Masalah ekonomi sering menjadi penyebab tidak betahnya masyarakat untuk tinggal di desa. Tinggal di desa seperti tidak ada masa depan yang cerah selain menyerah pada keadaan. Hidup di tengah lingkungan yang mini penyedia lapangan kerja kecuali hanya menjadi petani dengan hasil panen yang tidak mencukupi kehidupan.

Menjadi miskin di tengah alam yang kaya akan potensinya merupakan keadaan yang miris, mengapa demikian? Pada dasarnya desa memiliki potensi alam iklim dan lingkungan yang potensial untuk memperbaiki ekonomi. Namun, harga pasar cenderung tidak memihak petani.

Penjualan hasil panen tidak mencapai target dan dibeli dengan harga yang murah, Petani menjadi rugi. Keadaan ini yang menyebabkan banyak petani enggan bertani lagi, apalagi anak muda. Banyak orang tua yang mengharap anaknya tidak bekerja di ladang sebab menjadi petani bukan pekerjaan yang menjanjikan.

Desa dengan problem masyarakatnya akhirnya ditinggalkan, dan hanya menjadi tempat pulang kampung (mudik). Hampir di setiap desa muda-mudi desa melakukan hijrah ke kota. Mereka berkarier dan memajukan kota daerah lainnya. Desa kini tidak lagi membuat mereka betah.

Bila kita ingin melihat potensi-potensi desa, hakikatnya banyak dan potensial membangun ekonomi kreatif dan usaha mandiri lainnya. Dengan sentuhan budaya dan perkembangan informasi teknologi, dengan tidak meninggalkan budaya lokal Desa dapat bertransformasi menjadi wilayah strategis memajukan ekonomi masyarakat. Hal urgen lainnya yaitu mengajak anak muda desa berkontribusi pada kegiatan desa-kegiatan membangun desa.

Menciptakan Ruang untuk Pemuda

Jika ada yang mengatakan bahwa pemuda adalah harapan bangsa, pernyataan itu tidak salah. Pengelolaan negara serta lainnya menagih peran anak muda potensial untuk menjadi pemimpin dan pengelola yang baik di masa depan. Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia yang dinilai kaya ini dapat menghasilkan banyak keuntungan jika dikelola oleh pemuda.

Ide-ide dari pemuda jelas berpotensi besar untuk perkembangan keberlanjutan. Menyiapkan pemimpin muda, salah satu langkahnya dengan memberi ruang pada mereka untuk ikut berperan aktif. Berikan mereka ruang berekspresi dan mendampingi mereka untuk mengenali potensi-potensi desa, ekonomi, pertanian, perkebunan dan lainnya.

Namun, masalah yang sering muncul banyak perangkat desa tidak memberi kesempatan kepada pemuda untuk bergabung mengelola desa. Bisa diprediksikan bagaimana manajemen pengelolaan ke depan jika tidak ada kaderisasi pemuda pemimpin desa. Tarik ulur dua generasi cenderung menjadi halangan untuk tumbuh kembang desa.

Pengelolaan sumber daya alam di tangan orang berpengetahuan dapat disulap menjadi lahan potensial. Artinya desa butuh orang berpengetahuan untuk bisa membaca potensi atau kesempatan apa saja untuk bisa diisi dan dikelola. Pemerintah atau aparatur desa perlu mengidentifikasi hal itu, dalam rangka menemukan, mengenal dan mengajak pemuda potensial berkiprah dan mengabdi demi pengembangan desanya.

Menjaga komunikasi dengan masyarakat desa terutama pemuda merupakan langkah tepat sekaligus membaca keadaan sosial yang terjadi. Alasan utama mengapa perlu mengajak anak muda berkiprah di desa. Sebab anak muda memiliki jangkauan pengetahuan yang cepat.

Morni Kasila (2018) dalam kajian jurnalnya menyatakan peran pemuda cukup besar untuk kemajuan suatu wilayah. Ada beberapa faktor yang perlu dibangun, yakni menjaga komunikasi dengan pemuda untuk memudahkan kerja sama, dan partisipasi pemuda dapat mendorong perluasan produk usaha suatu wilayah desa.

Sedangkan hasil kajian Zulfiani (2020) dalam Jurnal Administrasi Publik, menyatakan keterlibatan pemuda dalam BUMDes cukup efektif dalam pembangun desa, terutama pemberdayaan masyarakat. Keterlibatan pemuda sebagai penggerak kegiatan-kegiatan sangat efektif menghidupkan sendi-sendi yang potensial.

Anak muda identik dekat dengan teknologi seperti gawai. Informasi baru dengan cepat mereka ketahui, termasuk perkembangan yang viral dan booming. Keadaan sosial di masa depan diprediksikan dengan melihat konteks pasar saat ini, potensi apa saja yang dapat menguntungkan dan yang tidak. Banyak golongan Generasi X enggan melakukan hal demikian, sebab mayoritas mereka tidak dekat dengan gawai atau googling.

Perbedaan generasi tua dan generasi muda dalam hal ini perlu disadari bahwa sudah saatnya desa bergerak dan membuka kesempatan kepada pemuda untuk mengabdi dan membawa daerah ke arah kemajuan, yakni desa berdaya. Berdaya yang dimaksudkan untuk menciptakan kemandirian tanpa bergantung pada dana desa.

Menjadi desa berdaya memiliki tujuan mandiri tanpa mengharap bantuan, jika pun semisal ada, dana tersebut dialokasikan kepada program-program yang berimplikasi besar dan dinikmati oleh masyarakat, semisal memperbaiki infrastruktur jalan raya desa, melengkapi sarana prasarana, menghidupkan ekonomi kreatif masyarakat, bantuan pupuk untuk pertanian, menghidupkan Taman Baca Masyarakat (TBM), dan lainnya.

Pemberdayaan Masyarakat dan BUMDes

BUMDes merupakan wadah yang tepat bagi anak muda desa berperan aktif di dalamnya. Suatu wadah yang tidak hanya berperan aktif dalam sektor ekonomi, tetapi dapat merupakan ruang interaksi menggali kreativitas diri. BUMDes yang sudah disahkan oleh Presiden Jokowi itu merupakan bentuk kepedulian pemerintah untuk membangun dan menggerakkan desa.

Dana anggaran bantuan dari pemerintah senilai 72 triliun tahun 2020 lalu dikhususkan untuk bantuan desa di Indonesia. Dana itu dimaksudkan untuk mengejar target desa mandiri. Desa mandiri dengan istilah lain desa berdaya. Desa mandiri tentu saja memiliki masyarakat yang tangguh dan mandiri. Mandiri sering identik dengan kekuatan ekonomi dan ketahanan pangan yang mencukupi. Dapat mengatasi kemiskinan di lingkungan pedesaan.

Dampak dari kemiskinan menyebabkan taraf kebahagiaan masyarakat menurun, terutama bidang ekonomi dan kesehatan. Dari dahulu hingga saat ini, kemiskinan menjadi poin besar untuk ditemukan solusinya, salah satunya dengan lembaga BUMDes. Sektor ekonomi kreatif perlu mendapat perhatian khusus menghidupkannya lagi. Dilansir juga dari Kemenko PMK bahwa dana desa bertujuan untuk mengurangi angka kemiskinan di desa.

BUMDes adalah milik bersama, berkembang bersama mengatasi masalah. Saat ini mulai terjadi pergeseran tenaga kerja di desa. Petani mulai enggan bertani, artinya Indonesia dapat mengalami krisis tenaga kerja petani, hal itu berimplikasi terhadap ancaman ketahanan pangan Tanah Air ini. Lalu bagaimana solusinya?

Dalam rangka menguatkan ketahanan desa menuju berdaya sudah saatnya bergerak maju menyusun strategi meningkatkan pendapatan desa. Meningkatkan pendapatan desa sama halnya dengan menyukseskan pembangunan desa. Hayyuna, dkk (2014) menyebutkan beberapa strategi untuk membangun kemandirian ekonomi desa, di antaranya: mengamati potensi lingkungan dan kegiatan usaha BUMDes, menyusun strategi, pelaksanaan strategi, dan melakukan evaluasi dan kontrol (dilakukan oleh Kepala Desa).

Peran BUMDes sangat membantu terhadap pembangunan ekonomi perdesaan. Di antara fungsi BUMDes yaitu merupakan wadah program-program bantuan pemerintah, membantu mewadahi dana program pemerintah, dan lainnya. Implikasi positif ini senyatanya dapat berfungsi jika dikelola dengan baik oleh masyarakat, khususnya pemuda.

Sebagaimana kajian dari Nungky Wanodyatama Islami dan Akbar Pandu Dwinugraha (2021) dalam Jurnal Karta Raharja, menyebutkan suatu temuan yang terjadi di suatu wilayah Malang, bahwa peran pemuda dalam kegiatan BUMDes berperan aktif sebagai pelaksana kegiatan. Kontribusinya jelas menghidupkan kegiatan usaha ekonomi untuk pemberdayaan masyarakat menuju mandiri.

Pemuda cenderung memiliki motivasi tinggi untuk melakukan banyak hal dengan tujuan belajar. Keadaan yang cukup berbeda dari generasi senior mereka yang layak berperan sebagai pendamping atau mengarahkan hal baik dan tidak. Mengajak pemuda dan mewadahi aspirasinya cukup efektif membangun komunikasi yang baik dan kerjasama untuk maju bersama-sama. Sebab sudah saatnya mengajak pemuda dan menciptakan kaderisasi calon pemimpin untuk kontinuitas program BUMDes supaya berproses secara progresif.

BUMDes sebagai organisasi desa bergerak pada langkah pemberdayaan masyarakat melalui beberapa langkah tahapan seperti tahap penyadaran, pelatihan, pendampingan, dan tahap evaluasi. Realisasi langkahnya bergerak menyediakan unit kelembagaan seperti unit pengembangan usaha, unit usaha simpan pinjam, unit pengelolaan pasar, dan lainnya.

Implementasi dari tahapan tersebut juga harus mendukung terhadap pemanfaatan potensi alam di wilayah tertentu. Tujuannya yakni mencapai kesejahteraan dan kemandirian bersama, serta dapat berjalan dan bergerak beriringan. Sehingga dapat membangun perekonomian lebih baik, menghidupkan peternakan, pertanian, dan lainnya agar berfungsi secara maksimal.

Upaya kemandirian ini tidak lepas dari partisipasi warga dalam pemanfaatan sumber daya. Pemanfaatan sumber daya alam menuju kemandirian perlu diimbangi dengan kepemilikan sumber daya tersebut. Hal itu untuk menghindari politisasi dan kapitalisme yang nantinya merugikan warga di masa depan. Pendayagunaan ekonomi dan pembangunan kesejahteraan tidak tepat kiranya jika dicampur dengan kapitalisme terselubung.

 

Referensi

Hayyuna R, Pratiwi RN, Mindarti Li, “Strategi Manajemen Aset Bumdes Dalam Rangka Meningkatkan Pendapatan Desa (Studi pada Bumdes di Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik),” Jurnal Administrasi Publik, vol. 2, no.1, 2014, Diunduh tanggal 30 Maret 2022.

Kompas, “Bumdes Adalah Badan Usaha Milik Desa, Apa Fungsinya?” Diakses tanggal 31 Maret 2022,

https://money.kompas.com/read/2021/10/06/150107326/bumdes-adalah-badan-usaha-milik-desa-apa-fungsinya?page=all

Kemenko PMK, “Dana Desa Fokus pada Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Potensi Ekonomi Desa,” Diakses 31 Maret 2022.

https://www.kemenkopmk.go.id/2020-dana-desa-fokus-pada-pemberdayaan-masayarakat-dan-pengembangan-potensi-ekonomi-desa

Morni Kasila, “Partisipasi Pemuda Desa dalam Perkembangan Usaha BUMDES “Tirta Mandiri,” Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (JSKPM), vol. 2 No.1, 2018.

Zulfiani, “Tata Kelola BUMDes: Pemuda sebagai Penggerak BUMDes dalam Mendorong Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan,” Jurnal Administrasi Publik, Volume XVI, Nomor 2, Desember 2020.

Nungky Wanodyatama Islami dan Akbar Pandu Dwinugraha, “Peran Serta Pemuda dalam Pengelolaan Bumdesa untuk Mewujudkan Pemulihan Ekonomi pada masa Pandemi Covid-19 di Kabupaten Malang,” Karta Raharja, 3 (2), 2021.